Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 83


__ADS_3

"Namaku Dina. "


Tersenyum, wanita itu tak meraih tanganku sama sekali, membuat aku berucap, " nama yang bagus."


"Terima kasih atas pujiannya. "


Sengaja Dina menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membawa ke sana kemari. Agar Bu Tari pusing dengan rencana kami.


"Mampus kalian, emang enak aku kerjain. "


Aku menatap jam tangan, waktu yang tepat, dimana Alex menghubingiku lewat ponsel Dina.


Wanita muda itu memberikan ponselnya padaku, " nih. "


"Ah, Alex menelepon." Aku mulai mengangkat panggilan telepon darinya, menanyakan rencana yang di susun tadi.


"Sekarang waktu yang tepat. "


Alex memberitahu lokasi dimana ia berada, membuat aku langsung memberi tahu Dina. Wanita muda itu langsung mengerti, ia kini berucap. " Waktunya putar arah. "


Aku kagum dengan wanita muda ini, dia begitu lihai menggunakan mobil. Tak ada rasa takut sedikit pun ia perlihatkan di hadapanku.


"Kamu hebat. "


Mendengar pujian dariku, Dina mengerutkan dahi, " mm. Aku hebat. Benarkah, mereka itu hanya orang orang bodoh, jadi kamu tak perlu kuatir, mereka bisa aku kendalikan. "


Melihat pada kaca mobil, Bu Tari masih mengejar kami, ia wanita tua yang ceroboh. Bisa bisanya mengejar hal yang tak penting.


Sampai di titik rencana terakhir, Dina menghentikan mobilnya. Begitupun dengan Bu Tari, yang memang sudah menghentikan mobilnya juga.


Mereka turun, mengetuk kaca mobil milik Dina, menyuruh kami berdua turun dari dalam mobil. "Cepat turun, atau aku akan merusak mobil ini. "


Mendengar acaman yang keluar dari mulut Bu Tari, membuat Dina tak terima, ia turun.


Namun aku takut Dina kenapa kenapa, berusaha mencegahnya dengan menarik tangan wanita muda itu.


"Jangan lakukan, ini terlalu berbahaya. "


Gina tak menggubris ucapanku, ia melepaskan tangan ini,


Dengan beraninya maju menghadapi Bu Tari, " hey, wanita tua. Apa mau kamu, sudah tua bukannya insyap. "


Bu Tari membulatkan kedua mata, aku yang tak mau melihat Dina kenapa kenapa. Memberanikan diri keluar, tak peduli dengan respon lelaki berbadan kekar itu.


"Siapa kamu, ngapain kamu ikut campur urusan saya. "


"Saya bukan ikut campur nenek."


"Tadi kamu bilang apa?"


"Nenek."


Bu Tari memegang wajahnya, ia tak percaya kalau dirinya sudah tua. " Aku ini belum nenek nenek. "


Maju untuk membalas ucapan Bu Tari, sambil tertawa. " Bu Tari, anda ini enggak nyadar diri ya. "


"Kaira, kamu. Cepat tangkap dia. "


Kedua lelaki berotot itu mulai menghampiriku, mereka memegang tanganku, untuk membawaku pergi.


" Lepaskan. "


Namun Dina tak tinggal diam, wanita muda itu menghajar benda berharga milik kedua lelaki berotot itu.


"Ahk, mampus kalian. "


Keduanya melepaskan tanganku, mereka meringis kesakitan. " Kurang ajar. "


"Kalian berdua, masa kalah dengan cewek. Gimana sih. "


 Bu Tari menyepelekan suruhannya.


Kedua lelaki berotot itu kini menangkapku lagi, namun aku berhasil lolos, karena Alex datang tepat waktu di hadapanku.


Berlari ke arah suamiku yang sudah berdiri, bersama dengan seorang polisi.


"Kaira, kamu baik baik saja kan. "


Bu Tari yang melihat pemandangan dimana para polisi menatapnya, membuat ia berusaha melarikan diri.


Namun Dina tak tinggal diam, iya langsung menangkap wanita tua yang mulai melarikan diri.


Memegang kedua tangan wanita tua itu, Dina tersenyum bahagia. " Mau kemana kamu nenek tua. "

__ADS_1


"Heh, lepaskan. "


"Mana bisa nenek tua. Saya tidak akan pernah melepaskan anda, sebelum anda dibawa ke kantor polisi. "


Wanita tua itu terus memberontak, ia berusaha melarikan diri dengan menggigit tangan Dina.


"Ahk, tanganku. "


Masuk ke dalam mobil, di mana para suruhannya sudah tertangkap.


Polisi dengan sigap, menembak ban mobil Bu Tari, sampai wanita tua itu tak bisa menjalankan mesin mobilnya.


"Anda sudah kami kepung. "


Pada akhirnya wanita tua itu keluar dari dalam mobil, ia terlihat ketakutan sekali. Matanya tampak berkaca kaca.


"Angkat tangan. "


Aku berusaha menahan tawa, melihat pecundang itu tertangkap, Alex yang terlihat murka mendekat lalu berkata." anda sudah melakukan tindakan bodoh yang merugikan diri anda sendiri. "


"Diam kamu Alex, saya melakukan semua ini demi Gina. "


"Melakukan demi Gina, tapi melukai orang lain. Adalah tindakan yang sangat salah, anda harusnya sadar diri, siapa posisi anda saat ini di hati Gina."


"Kamu jangan sok tahu. "


"Siapa yang sok tahu, saya berbicara apa adanya. "


Aku berusaha meredamkan emosi Alex yang tak terkendali, menjauhinya dari hadapan Bu Tari.


"Alex, sudah cukup. Biarkan polisi menangani Bu Tari. "


Akhirnya Alex menurut dengan perkataanku, ia melangkahkan kaki kebelakang, menghindari Bu Tari yang mulai dimasukan ke dalam mobil polisi.


"Lepaskan saya, saya tidak melalukan apapun. "


Dina yang terlihat senang kegirangan, kini tertawa terbahak bahak, mentertawakan Bu Tari, yang sudah tertangkap polisi.


"Syukurin, makananya sudah tua itu. Banyak banyak berbuat baik, biar hidupnya nggak sengsara. "


Bu Tari menggerutu kesal, terlihat ia mengigit bibirnya menahan amarah. Karena melihat tingkah Dina yang mengejeknya berulang ulang.


"Awas kamu ya. "


"Idih nggak ada sadar sadarnya, malah mengancam. Heh, nenek tua insyap lu, udah mau masuk penjara juga. "


Ingin tertawa, namun berusaha aku tahan, karena situasi yang tak memungkinkan.


Bu Tari kini berhasil di amankan polisi, dimana aku mendekati Dina, wanita muda yang sudah banyak membantuku.


"Dina, kenalkan ini. "


Dina terlihat terkejut dengan penampilan Alex, ia membulatkan kedua mata, langsung menyodorkan tangannya dihadapan Alex.


"Pangeran dari mana ini, ganteng sekali. "


Aku terkejut dengan perkataan Dina, dimana ia seperti orang yang baru saja melihat ketampanan seorang lelaki.


"Dina."


Melambai lambaikan tangan pada wajah Dina, wanita muda itu tidak mengedipkan mata sama sekali, ia terus memandangi wajah tampan Alex.


Membuat aku memukul bahunya, dengan kesadaranya, akhirnya ia bangun dari lamunannya.


"Ahk, kenapa?"


Alex begitu cuek, ia tak meraih tangan Dina yang mengajaknya bersalaman.


"Sayang, kenalkan ini orang yang membantuku. " Ucapku pada Alex.


Dina terlihat syok, saat aku mengatakan kata sayang. " Di ini. "


"Maaf, tadi aku belum selesai ngomong, oh ya. Dia ini suamiku yang aku ceritakan waktu di mobil. "


Dina tersenyum manis, ia berucap lagi dengan memuji Alex di depanku. " Beruntung sekali kamu mbak, dapat suami tampan dan gagah seperti ini. "


Alex terlihat risih, ia menarik tanganku. Membuat aku berpamitan pada Dina saat itu juga.


"Dina, terima kasih. Aku pulang dulu ya. "


Melambaikan tangan, Dina membalas lambaian tanganku, ia berteriak. " Sampai bertemu kembali. "


Alex mempelihatkan raut wajah juteknya, ia berjalan lebih cepat dari yang ku kira.

__ADS_1


"Alex, tunggu. "


Karena jalanku yang begitu lambat, Alex datang, tampa aku duga ia membopong tubuh ini, membawaku masuk ke dalam mobil.


"Alex, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri. "


"Sudah diam, jangan banyak bicara. "


Mendengar perkataannya yang terdengar jutek itu, membuat aku menutup mulut dengan tanganku.


"Mm, maaf. "


Alex memang begitu tampan, pantas saja banyak yang terpesona padanya.


"Kenapa kamu memandangi wajahku seperti itu. "


"Ah, siapa. Geer banget. "


"Ya habisnya dari tadi kamu senyum senyum sendiri, kenapa? Apa jangan jangan kamu baru sadar jika aku ini terlalu tampan.


" Dih. "


Alex perlahan, mendudukanku pada kursi mobil, ia mendekatkan wajahnya. " Sudahlah jangan sok jijik begitu, jujur saja. Aku ini tampan kan. "


Perkataannya yang menyebalkan kini terdengar lagi, membuat aku berpura pura muntah.


"Huek."


"Hey, kamu kenapa?"


"Sebal aku dengar kamu menyombongkan diri!"


Alex tertawa terbahak bahak, ia menutup pintu mobil, membuat aku berucap dalam hati. " Itu orang sinting ya. "


Lelaki yang kini menjadi suamiku, masuk ke dalam mobil, ia kembali memasangkan sabuk pengaman.


Aku sampai lupa, kini bertanya pada Alex. " Kemana Gina, dia tak ikut. "


Alex menggelengkan kepala, dia berucap. " Katanya, Gina lebih baik menunggu di rumah. "


"Apa keadaanya baik baik saja?"


"Kamu tenang saja, Gina baik baik saja. Gina hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya, kamu jangan terlalu menghuatirkan dia, anak itu akan baik baik saja. "


Bernapas lega setelah mendengar jawaban dari Alex. " Sykurlah kalau begitu. "


Alex mulai menyalakan mesin mobil, di dalam perjalanan ia menanyakan apa maksud dari Bu Tari yang menangkap Kaira secara tiba tiba.


Saat itulah aku menjelaskan semuanya di depan Alex, dimana ia malah tertawa terbahak bahak mendengar ceritaku yang katanya terdengar lucu.


" Ada ada aja Bu Tari ini. "


"Sudahlah, namanya juga orang tua. "


"Ya, juga sih. "


"Ya sudahlah, kamu jangan terlalu memikirkan hal yang tak penting, sekarang kan orangnya sudah tertangkap, tinggal kita lihat saja, setelah ini wanita tua itu kapok atau malah semakin menjadi jadi. "


"Bu Tari, Bu Tari. Sudah tua bukannya insyap malah semakin menjadi jadi. "


Entah kenapa rasa cemburu menusuk ke dalam raga ini, dimana Dina memandangi Alex dengan begitu lama.


"Kenapa?"


"Mm, nggak kenapa kenapa!"


"Oh ya, wanita tadi siapa namanya?"


"Dina! Memang kenapa dengan dia?"


"Aku tak suka, aku berharap kamu tidak berteman dengan orang seperti dia. "


"Apa alasannya?"


"Alasanya, karena dia tidak sebanding denganmu. "


Mendengar perkataan Alex, membuat aku senang rasa cemburu, perlahan demi perlahan hilang. Membuat aku merasa tenang.


" Kenapa, kok kaya orang sesak gitu. "


"Apaan sih, orang lagi bernapas. "


"Oh."

__ADS_1


__ADS_2