
Asih baru saja membersihkan sisa tumpahan air di atas meja, ia berjalan melewati kamar Kaira dan Alex.
Terdengar suara gurauan manja keduanya begitu asik, sedikit terbesit dalam pikiran Asih menghampiri keduanya.
Membuka pintu tampak mengetuk.
Keduanya terkejut, sedangkan Asih menundukkan pandangan dan meminta maaf.
"Maaf Tuan, Nyonya. "
"Mbok, kenapa tidak ketuk pintu dulu. "
Alex tampak kesal, ia mendekat ke arah pembantunya itu.
"Maaf tuan, Mbok nggak sengaja. "
Dari kejauhan Kaira tampak malu, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dimana Asih tampa sadar melirik kesal pada Kaira.
"Nggak sengaja, itu lagi yang Mbok selalu katakan. Kenapa sih, biasanya mbok itu hati hati. " Ucap Alex sedikit bernaga tinggi.
Kaira melirik ke arah keduanya, ia berjalan mendekat dengan kedua pipi memerah. Memegang bahu sang suami. " Alex, sudah jangan marahin Mbok Asih, kasihan dia. Mungkin Mbok memang nggak sengaja. "
Asih melirik ke arah Kaira, ia mulai menyampaikan apa yang ia ingin katakan di depan sang majikan. " Maafkan saya Nyonya Kaira, saya benar benar nggak sengaja. "
Kaira tetap menampilkan sebuah senyuman dihadapan wanita tua itu, " ah, mbok. Sudah nggak usah minta maaf, saya nggak kenapa kenapa kok."
Alex mengelak, " nggak kenapa kenapa gimana, jelas pah" kamu luka begitu."
Alex mempelihatkan bekas siraman air panas yang tak sengaja, tersiram oleh Asih. Mengangkat rok pendek istrinya itu.
__ADS_1
"Mbok lihat, ulah mbok ini. "
Asih membulatkan kedua matanya, ia tak menyangka ulahnya menjadi parah seperti itu.
"Ya ampun, Nyonya maafkan saya. "
Berulang kali Asih meminta maaf, menyesal karena sudah melukai Kaira.
"Sudahlah. Mbok. "
"Kalau Mbok melakukan permbuatan ini lagi, saya nggak segan segan pecat Mbok."
Deg ....
"Alex, aku. " Setiap kali Kaira membuat pembelaan, Alex terus mengelak.
"Tidak ada yang bisa seenaknya memecat Mbok Asih di rumah ini. "
Perkataan Gina membuat Alex menatap ke arah adiknya.
"Kakak ini gimana sih, hanya masalah sepele di besar besarkan, kakak tahu sendirikan, Mbok Asih ini sudah lama kerja di rumahku. "
Alex mendengar bantahan dari Gina, membuat ia sedikit tak suka, terlebih lagi membela orang yang sudah berbuat salah.
"Kakak hanya memberi peringatan, bukan ...."
Belum perkataan Alex terlontar semuanya, Gina kini mengelak, merasa paling benar dalam membela pembantunya itu.
"Peringatan apa kak, sudahlah. Kak. Di rumah ini aku yang berkuasa bukan kakak atau. "
__ADS_1
Menghentikan ucapan sejenak, lalu menantap ke arah Kaira. " Istri kakak. "
Asih berjalan sedikit sempoyongan, ia mendekat ke arah Gina, mempelihatkan raut wajah penuh air mata. " Cukup Nona Gina, Mbok pantas mendapatkan hukuman dan peringatan. Karena Mbok bersalah."
Alex menimpal perkataan Asih, " tuh, kamu dengar sendiri kan Gina, Mbok Asih mengakui kesalahnya. Jadi kakak. "
"Sudah cukup. " Gina menarik tangan Asih, membawa wanita tua itu menjauh dari hadapan Kaira dan juga Alex.
"Ayo Mbok, kita pergi dari sini."
Kaira mendekat ke arah Alex, dimana suaminya itu berusaha memanggil Gina.
"Gina, kemana kamu?"
"Sudah Alex, percuma. Yang ada nanti kamu malah menyakiti hati Gina, diakan sedang sedih, mengingat almarhum Bu Parida. Kamu sebagai kakak jangan membuatnya bertambah sedih. "
"Hah, ya sudah. Ayo kita obati luka kamu itu. "
Kaira menganggukkan kepala, memegang legan Alex, membawa sang suami masuk ke dalam kamar.
Sedangkan dengan Gina, ia kembali menangis. Untuk yang ke sekian kalinya.
"Nona Gina."
Mencoba menghapus air mata," Nona menangis lagi?"
"Kak Alex. "
"Ya, Mbok tahu. Nona yang sabar ya. "
__ADS_1