Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
BAB 45. Batas Kesabaran Riana


__ADS_3

Keesokan paginya, Riana yang telah membuat janji dengan Psikiater untuk mewaspadai masalah kepribadian Shawn dan Shasa di masa depan memutuskan untuk meminta izin sekolah untuk Shawn dan Shasa tidak masuk sekolah.


Meskipun keduanya telah dimintai izin dari Riana untuk tidak sekolah, Shasa dan Shawn tetap memakai pakaian sekolah seperti biasa agar Kamal tak curiga sesuai dengan perintah Riana.


"Maafin Mama yang meminta kalian memakai pakaian sekolah di depan Papa padahal kalian tidak sekolah hari ini!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang bersalah setelah Kamal pergi bekerja dengan mobil orangtua Riana.


"Tidak apa-apa, Ma. Ini lebih baik daripada Papa yang membohongi Mama dan kami selama ini untuk menemui wanita murahan itu!" ucap Shasa dengan ekspresi wajah yang kesal.


Riana tau jika Shasa mengatakan itu semua karena kemarahannya tapi perasaan khawatirnya sebagai seorang Ibu tak bisa tenang.


"Mama akan pergi ke rumah Nenek dulu untuk mengantarnya berobat sambil mengambil mobil orangtua Mama di tangan Papa. Lalu Mama akan segera pulang untuk mengantar kalian ke psikiater. Oke!" ucap Riana dengan senyum yang lembut.


"Ya, Ma!" ucap Shawn yang patuh lalu menghabiskan makanannya bersama Shasa dan membiarkan Riana bersiap-siap pergi.


Riana yang tak ingin mobil orangtuanya dipakai oleh Kamal untuk pergi bersama Yonna menginap di Hotel dan bersenang-senang pun menghubungi Kamal.


"Mas, ada dimana sekarang? Aku mau pinjam mobilnya untuk antar jemput Ibu ke Rumah Sakit. Hari ini jadwal Ibu berobat!" tanya Riana dengan nada suara yang lembut.


"Mas, ada di kantor sekarang. Kamu pergi naik ojek online aja ya, dek!" ucap Kamal yang tak ingin memberikan mobil itu kepada Riana.

__ADS_1


"Ya, ampun Mas. Kenapa naik ojek online padahal kita punya mobil? Aku pinjam bentar aja mobilnya untuk antar Ibu kamu ke Rumah Sakit. Kamu kenapa pelit sekali Mas dengan Ibumu sendiri. Kalau terjadi sesuatu karena terlalu menunggu ojek online datang gimana?" tanya Riana yang memainkan perasaan Kamal tentang kesehatan Ibunya.


"Hah, Ibu sudah jauh lebih baik. Tidak akan terjadi sesuatu pada Ibuku!" ucap Kamal yang bersikeras tak ingin memberikan mobil kepada Riana.


"Kamu ini kenapa sih Mas? Mobil itu punya orangtuaku dan aku pun memakainya bukan untuk hal yang aneh seperti jalan dengan pria lain! Aku memakainya untuk mengantar Ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu hingga membuatmu menjadi seperti sekarang berobat! Kamu kok tega sekali membuat orangtua susah!" ucap Riana dengan nada suara yang kesal.


Kamal yang tetap tak ingin memberikan mobil itu kepada Riana meskipun Riana telah mengeluarkan semua jurusnya dengan menggunakan nama Ibu Kamal membuat Riana kesal.


"Aarrgghh! Kamu benar-benar telah berubah, Mas. Semakin hari kau semakin cuek. Semua ini pasti karena kau merasa memiliki banyak uang dan juga ucapan manis Yonna!" ucap Riana dengan wajah yang kesal.


"Sepertinya aku tak bisa terus diam dan melihat kalian berdua bersenang-senang dengan barang dan uang yang bukan milik kalian!" ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam.


"Nak, ada apa? Apakah kau punya masalah dengan Kamal? Kau bisa cerita pada Ibu. Ibu akan menegur Kamal jika Kamal melakukan kesalahan!" ucap Ibu wati dengan nada suara yang lembut di dalam mobil menuju pulang ke rumah.


"Tidak ada, Bu. Aku hanya merasa sedikit lelah!" ucap Riana singkat lalu mengalihkan pandangannya lagi ke luar jendela dengan tatapan mata yang kosong.


"Kau tak akan bisa menasehatinya Ibu Mertuaku tersayang karena kau telah mengetahui dengan pasti tentang kelakuan Putramu selama ini tapi kau hanya diam dan tak melakukan apapun jadi apa gunanya aku cerita. au pastinya hanya akan memintaku bersabar!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang datar dalam pikirannya.


Riana yang tak ingin berbasa-basi dengan Ibu Wati pun bergegas pergi dan menjemput Shasa dan Shawn untuk berobat ke psikiater lalu menitipkannya kepada orangtuanya.

__ADS_1


"Shawn, Mama titip Shasa. Mama akan pulang terlambat karena ada satu urusan penting yang harus Mama selesaikan sekarang juga!" ucap Riana dengan senyum yang lembut.


"Iya, Ma. Mama selesaikan saja urusan Mama. Aku dan Shasa baik-baik saja di rumah Nenek." ucap Shawn yang tanpa disadari sudah mengetahui maksud ucapan Riana dan begitu pula dengan Shasa yang berdiri di sampinya.


"Kakak benar, Ma. Mama harus kuat dan Mama harus bisa membuat keputusan tegas! Kami sayang dengan Mama." ucap Shasa yang dengan cepat memeluk erat tubuh Riana dengan diikuti oleh Shawn.


Riana yang melihat Leo dan Hana yang juga ada di sana pun menyerahkan sebuah koper kepada Leo dengan ekspresi wajah yang serius.


"Di dalam sini ada surat sertifikat rumah, buku tabungan, deposito dan emas milikku serta beberapa pakaian Shawn dan Shasa. Sementara waktu keduanya akan tinggal di rumah Mama. Tolong jaga keduanya, ya." ucap Riana dengan senyum yang lembut.


" Ya, Mbak. Kami akan menunggu kabar dari Mbak. Semoga semuanya lancar!" ucap Hana yang mencoba menguatkan Riana dengan genggaman tangannya.


Riana yang melihat jika waktu janjiannya hampir tiba pun pergi ke sebuah kafe tak jauh dari hotel tempat Kamal dan Yonna akan menghabiskan waktu bersama untuk menemui seseorang.


"Mbak Yonna, kau telah menghancurkan pernikahanku dan juga menghancurkan hidup anak-anakku jadi jangan salahkan aku jika melakukan hal yang sama yang kau lakukan padaku!" ucap Riana yang berjalan memasuki mobil online yang telah dipesannya dengan tatapan mata yang tajam.


"Inilah Pembalasan Istri Sah!" ucap Riana dengan penekanan di setiap katanya dengan ekspresi wajah yang serius.


#Bersambung#

__ADS_1


Siapa orang yang akan ditemui Riana di kafe itu? Apa yang akan dilakukan Riana nantinya? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya.


__ADS_2