
Asih memberanikan diri mengambil beda yang tergeletak di bawah ranjang tempat tidur milik sang nona.
Membulatkan kedua mata, menunjukkan pada sang nona. " Nona Gina?"
Gina mulai mengambil benda tajam itu, ia menaruh kembali pada laci putih miliknya.
"Nona, apa maksud nona dengan benda tajam itu."
Membuang wajah, Gina tak menjawab perkataan Asih.
"Nona, kenapa? Nona. "
Gina kesal dengan pertanyaan pembantunya itu yang terdengar berulang ulang, membuat ia memutarkan kursi roda dan berkata." Diam, Mbok."
Mendekatkan kursi roda pada pembantunya itu, Gina menunjuk wajah Asih dengan kekesalan yang masih ia rasakan.
"Bisa tidak si Mbok jangan banyak bertanya, untuk apa benda tajam ini ada di kamarku?"
"Tapi nona, itu bahaya!"
__ADS_1
"Sudah cukup, jangan mengelak perkataanku Mbok. Si Mbok di sini hanya pembantu, dan Mbok tak usah tahu apa yang akan aku lakukan. "
"Nona." Asih tak mau kalah, ia ingin menyelamatkan majikannya dari hal yang bodoh.
"Apa lagi Mbok?"
"Nona, walau pun Si Mbok ini pembantu. Si Mbok tak akan membiarkan Nona melakukan tindakan bodoh yang merugikan Nona sendiri!"
"Ahk, sudahlah Mbok. Aku tak butuh perhatian Si Mbok. "
Tampak kedua mata Asih berkaca kaca, ia sudah begitu sayang pada Gina, menganggap majikannya itu anaknya sendiri. Walau Gina tak tahu akan hal itu.
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Asih, membuat Gina tersentuh. Ia memegang dadanya, merasakan rasa sesak.
"Nona, apa nona tidak sayang pada Nyonya Parida?"
Gina terdiam, ia menundukkan pandangan.
"Nona, harusnya nona itu menghargai pengorbanan Nyonya Parida, berkat ibu nona sendiri, nona sekarang bisa merasakan hidup. Tidak semua orang seberuntung nona, bisa mempunyai ibu yang rela berkorban untuk anaknya sendiri. "
__ADS_1
Perkataan Asih begitu menusuk jiwa Gina, gadis itu kembali menangis.
"Sadarlah nona, perjalanan nona masih panjang. Masalah yang nona hadapi masih ada jalan keluar. Jangan menyerah. "
Gina memegang erat perutnya, ia berusaha membuka suara, untuk menjawab perkataan pembantunya itu.
"Mbok, mudah untuk si Mbok berkata seperti itu. Tapi tidak dengan aku Mbok, begitu berat, sulit. Dan sakit. "
Berusaha tak ingin menyerah, wanita tua itu berucap lagi, " Mbok tahu, semua itu sulit dan sakit."
Asih berusaha mendekat, memeluk erat tubuh majikannya. " Nona harus ingat, masih banyak di luar sana masalah yang begitu berat dari pada nona. Terus bersangka baik pada sang maha kuasa, mungkin apa yang nona rasakan saat ini terbaik untuk nona, agar nona lebih kuat dan sabar. "
Pelukan dari Asih terasa begitu hangat, membuat Gina merasa nyaman. Rasa sakit sedikit terobati walau belum sepenuhnya.
Asih mengusap pelan punggung sang majikan, ia berucap lagi. " Nona jangan kuatir, sekarang ada Mbok Asih, kalau nona merasa sendirian dan sakit hati, Nona bisa cerita pada si Mbok. "
"Benarkah itu mbok? Mbok mau mendengarkan cerita aku?"
Asih melepaskan pelukan Gina, menatap raut wajah penuh kesedihan itu, ia menganggukkan kepala dan menjawab. " Iya Nona, kapan saja Nona bisa cerita. Jadi sekarang Nona jangan sedih lagi ya. "
__ADS_1
Asih perlahan mengusap air mata yang berhamburan pada pipi sang manjikan. Dimana Gina sudah merasakan ketenangan walau belum sepenuhnya.