Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 91


__ADS_3

Asih mulai keluar dari kamar sang majikan wanitanya, ia mengusap pelan air matanya yang sudah basah mengenai kedua pipinya. Menutup pintu dengan pelan, ia tak mau jika sang majikan terganggu.


Setelah membereskan semua sisa-sisa pecahan kaca dan juga gelas. Asih berdiri sejenak di depan pintu kamar Gina.


Ia ikut merasakan rasa sakit hati setelah mendengar cerita dari Gina. Mendengar kisah cinta yang tak terbalas.


"Mbok."


 Ucap Kaira, menghampiri Asih yang berdiri di depan pintu Gina.


Wanita tua itu tak menjawab perkataan Kaira dari tadi, kedua matanya tak mengedip sekali pun. Membuat Kaira melabai labaikan telapak tangan pada wajah Asih.


"Mbok."


Memegang bahu Asih, membuat wanita tua itu terkejut, ia mengangkat kepala menantap ke arah Kaira, " Nyonya Kaira. "


Asih berusaha mengusap air matanya yang terus keluar dari tadi, ia tak mau jika kaira tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini.


" loh, Mbok. Kenapa? Kok nangis?" Petanyaan Kaira, tak langsung di jawab oleh Asih, ia terdiam sejenak.


Asih ingat akan perkataan Gina, yang tak boleh memberitahu Kaira, jika Gina cemburu dan sakit hati, ketika melihat Alex dan Kaira mempelihatkan kemesraan.


Menggelengkan kepala, mencoba membersihkan sisa sisa air mata yang mungkin masih tersisa menempel pada pipi.


"Ah, mbok tidak kenapa kenapa kok non, hanya kelilipan debu saja."


Kaira menatap pada tong sampah yang dibawa oleh Asih, mengerutkan dahi, Kaira melihat banyak pecahan kaca.


"Loh itu kan."


Asih dengan terburu buru, menutup tong sampah yang baru saja dilihat Kaira.


"Ahk, non. Saya pergi dulu."


Kaira tampak penasaran, karena ia belum mendengar jawaban dari mulut Asih, menghentikan langkah kaki sang pembantu, Kaira kini memegang bahu Asih." Mbok, kok banyak pecahan kaca pada tong sampah itu?"


Tak ingin mengatakan apa yang terjadi dengan Gina, wanita tua itu pergi ke dapur tampa mengeluarkan suara sepatah kata pun.


"Mbok?"


Kaira terdiam melihat Asih pergi begitu saja. " Kenapa dengan Mbok Asih? Tumben dia jadi begitu?"


"Sayang."


Alex datang menghampiri Kaira yang terlihat melamun, ia memeluk istrinya dengan begitu erat.


"Ah."


Melepaskan pelukan Alex begitu saja, karena terkejut.


"Alex."


Lelaki berbadan kekar itu tersenyum dan bertanya?" kenapa? Kok kelihatan syok gitu. "


"Kamu datang datang langsung meluk, ya aku syok lah. "


"Mm, syok. Kok bisa? kan kita suami istri. "


"Aku belum terbiasa, Alex."


Menghela napas, " Tadi aku lihat Mbok Asih bawa tong sampah. Banyak pecahan kacanya!"


" Pecahan kaca. "


"Iya pecahan kaca dari kamar Gina, aku takut jika."


Alex menghentikan perkataan istrinya, " sudah lah jangan berpikir macam macam. Bisa saja ada barang jatuh nggak sengaja kesenggol. "


"Ah, tak mungkin. "


Dengan sengajanya Alex mempermainkan dagu kaira, mengedipkan kedua matanya, ia tak suka melihat Kaira banyak memikirkan orang lain. " Mm. Mm. "


"Apaan sih. "


Sambil memeluk kembali dan berbisik. " Mau lagi."


Kedua pipi Kaira kembali memerah, tubuhnya terasa bergetar. " Gimana. "


"Ya sudah. "


Tampa rasa malu kedua sejoli itu, berjalan masuk ke dalam kamar, meneruskan pertarungan yang mungkin akan di lanjut lagi.


Sampai mereka tak menyadari, jika percakapan kedua insan yang sedang di mabok asmara itu terdengar, oleh Gina yang baru saja membuka pintu kamarnya sendiri.


"Apa tidak bisa mereka menampilkan kemesraan di belakangku. " Ucap pelan Gina, melihat kedua insan yang sudah pergi jauh dari hadapannya.


Gina perlahan menggerakan kursi roda untuk pergi ke dapur, ia melihat Asih berdiri menangis merasakan sakit hati yang dirasakan sang majikannya.


"Nona Gina. "


"Mbok, sejak kapan Mbok berdiri di sini. "


Gina berusaha menyembunyikan kesedihannya dari hadapan Asih, tersenyum. " Nona yang sabar ya, mbok merasakan apa yang dirasakan Nona. Pasti menyakitkan. "


"Mbok."


Wanita tua itu memeluk erat sang majikan, menangis dan menenangkan Gina.


Mengusap punggung Gina dengan lembut, berusah membujuk sang majikan untuk tetap tenang.


Melepaskan pelukan.


"Nona mau apa?"


"Aku cuman ingin makan mbok!"


Wanita tua itu mengusap air matanya, " makan, ya sudah Nona tunggu di meja makan dulu ya, bibi siapin. "


Beberapa menit habis pergulatan dua sejoli, mereka mulai membersihkan diri dengan mandi.


"Payah."


Keluar dari kamar, mereka tampak bercanda bergurau, berjalan ke arah meja makan.

__ADS_1


Gina yang baru saja menyuapkan makanan ke mulut, merasa terganggu. Membuat ia menghentikan aktivitasnya saat itu juga.


"Eh, Gina. " Kaira duduk, dengan rambut panjang yang terurai. Dimana rambut itu terlihat begitu basah.


"Loh, adik ku sayang. " Ucap Alex dengan kata kata manisnya. Ia terlihat begitu bahagia, wajahnya berseri, seakan menemukan hal yang baru dalam hidupnya.


Asih datang, membawakan beberapa menu makanan lainya, " Nona Gina, kenapa nggak di habiskan?"


Gina melirik dengan penuh kekesalan pada kedua sejoli yang sedang di mabok cinta itu, mereka tak hentinya saling mempelihatkan kemesraan di depan Gina. Seolah olah Gina tak ada.


Menaruh sendok dan garpu dengan keras pada piring, " Udah kenyang, Mbok!"


Gina memutarkan kursi rodanya pergi dari meja makan, ia memegang dadanya yang terasa sakit. Setelah melihat kemesraan keduanya.


"Sakit sekali rasanya. " Gumam hati Gina.


Asih yang tak tega melihat Gina bersedih, ia menaruh beberapa makanan lagi pada meja dengan terburu buru. Mengejar Gina.


" Mbok, tunggu. "


Asih mengabaikan panggilan dari Kaira, ia pergi menghampiri Gina.


Dimana Alex berdiri, berjalan dengan begitu cepat. Menghentikan kursi roda milik adiknya.


"Hey, adikku sayang. kamu kenapa?"


Tak ingin mempelihatkan air mata, Gina berpura pura mengusap ngusap kedua matanya. " Ah, ini mata Gina kelilipan Kak. "


Dengan sigap, Alex sebagai seorang kakak. Meniup mata Gina.


"Mm, gimana. Masih perih. "


"Udah kak. "


Gina berusaha menghindar, ia tak kuat jika berhadapan dengan Alex. Apalagi saat merasakan perhatian yang selalu di tujukan oleh sang kakak.


"Kemana?"


Senyuman Alex mempu membuat hati Gina berdegup kencang, sudah berulang kali ia tahan. Tetap saja tak bisa, hatinya begitu lemah melihat ke tampanan sang Kakak.


"Adik kakak yang manis ini kenapa? Mm. "


Alex mengangkat dagu Gina, ia melihat kedua mata adiknya begitu merah dan sedikit membengkak.


"Kamu habis menangis, Gina?"


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alex membuat Kaira terkejut.


Ia ikut menghampiri Gina, " kamu kenapa Gina, jika ada masalah cerita saja. "


Gina merasa kesal dengan kedatangan Kaira, ia berusaha tetap tak mempelihatkan kekesalanya itu dengan tersenyum manis.


"Kalian ini kenapa sih, kepo. "


Berusaha tertawa di hadapan Kaira dan juga Alex, " sebenarnya. "


Kedua insan itu begitu penasaran, mereka berdiri berusaha mendengarkan kesedihan dan bekas tangisan yang terlihat pada wajah Gina.


Kini air mata keluar tak tertahan lagi dari kedua mata Gina, " Gina rindu. Ibu Parida. Kak. "


Alex memeluk dengan erat tubuh sang adik, lalu berucap. " Iya kakak tahu, kakak juga merasakan apa yang kamu rasakan. Sekarangkan Ibu Parida sudah ada di sini. "


Alex menunjuk pada hati Gina, ia mencoba menghibur sang adik agar tak sedih lagi. " Masa kamu lupa, hati ibu selalu ada di hati kamu. "


Berusaha tersenyum walau berat, Kaira mendekat mengusap kepala rambut Gina, " apa yang dikatakan Alex benar. Ibu Parida selalu ada di hati kamu Gina. "


"Ah, iya. Aku lupa. "


Tersenyum kembali, Alex kini berdiri. Mendekat pada Kaira. " Kita ini selalu ada untuk kamu, Gina. "


Siapa yang suka dengan pemandangan keduanya, terutama bagi Gina, malah tambah menyakitkan.


Asih yang sudah tahu cerita dari awal, mendekati sang majikan, memegang kursi roda Gina.


"Sepertinya Nona belum makan obat, gimana kalau kita makan obat dulu yuk. "


Lamunan Gina membunyar, setelah mendengar kata kata dari Asih, ia menganggukkan kepala dan berkata. " Ayo bi. "


"Ya sudah kalau gitu, Nyonya Kaira dan Tuan Alex saya permisi dulu mau bawa Nona Gina masuk ke dalam kamarnya, karena sekarang jadwal Nona Gina minum obat. "


"Iya bi. "


Alex kembali menatap Gina dengan penuh kasih sayang sebagai seorang kakak pada adiknya. Ia mencubit kedua pipi Gina dengan lembut.


"Anak baik dan manja, jangan lupa minum obat ya. "


Mencium kening Gina dengan lembut, Asih mulai mendorong kursi roda pergi dari hadapan Alex dan Kaira.


******


Gina yang sudah pergi, membuat Alex merangkul bahu sang istri, " ayo kita lajut makan lagi. "


Tampak raut wajah kaira begitu muram, " Kenapa?"


Kaira yang melihat kepergian Gina, kini menjawab perkataan sang suami. " Aku merasa bahwa Gina, sakit hati melihat kita berdua seperti ini. "


Alex yang berdiri dihadapan sang istri, kini tertawa terbahak bahak, " apa kamu bilang. "


"Alex, aku merasakan itu. Dan ayolah jangan anggap semua itu lelucon. "


Mengusap kasar wajah, " Kaira, ayolah, kamu tadi tidak dengar apa kata Gina. Jika ia merindukan Ibu Parida?"


"Alex, bisa saja itu hanya alasanya itu menyembunyikan kesedihan di depan kita. "


"Alasan apa lagi, Gina itu anak yang tak banyak berbohong. Dia selalu jujur dengan apa yang sedang ia rasakan. "


Kaira masih mempelihatkan keraguannya, " tetap saja Alex, aku merasa bersalah. "


Menundukan wajah, Kaira merasa dirinya orang yang sudah membuat Gina menangis.


Hingga tangan kekar milik Alex, memegang dagu istrinya. " Hey, sudahlah. Jangan berpikir seperti itu, aku yakin Gina sudah ikhlas dengan kebahagian kita. "


Merangkul kembali bahu Kaira, dimana Alex berusaha menyakinkan istrinya untuk tidak menyalahkan diri sendiri.

__ADS_1


"Kita makan yuk. "


Akhirnya Kaira luluh, berusaha melupakan pikiranya yang menyiksa itu. Ia duduk bersamaan dengan Alex.


Memulai untuk menyantap makanan di atas meja.


"Gimana enak kan?"


"Mm, lumayan!"


Mereka dengan tenangnya menikmati makan malah berdua.


Sedangkan Gina yang baru saja masuk ke dalam kamar, tiba tiba menangis histeris. Ia berusaha kuat, tapi apa daya hatinya begitu rapuh.


"Sudah non, jangan sedih terus. Mbok liatnya nggak tega. Sudah ya non."


"Mbok liat tidak, mereka menunjukkan kemesraan mereka terang terangan di depan aku. "


Asih berusaha menenangkan sang majikan, mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


"Non, sudah ya jangan nangis lagi. Nona harus ingat, di dalam perut nona ini ada bayi yang harus nona jaga. "


"Tapi Mbok, hati Gina terasa sakit, jika melihat mereka bermesraan seperti itu. "


Berulang ulang Gina mengatakan hal itu, membuat Asih bingung untuk menghentikan tangisan sang majikan.


"Non Gina yang sabar ya. "


Asih tak kuasa melihat penderitaan dan kesedihan dirasakan majikannya, ia berusaha memikirkan cara untuk bisa mengobati luka dan rasa sakit pada hati majikannya itu.


"Bagaimana caranya buat Nona Gina melupakan, Tuan Alex ya. Kalau terus begini, aku kuatir dengan keadaan Nona Gina dan kondisi bayi dalam perut Nona Gina. "


Bergumam dalam hati, kedua mata Asih tampak berkaca kaca. Ia tak sanggup mendengar lagi tangisan yang keluar dari mulut majikannya.


Sudah dua puluh menit, Asih menunggu Gina berhenti menangis. Ia sudah berusaha dengan keras menghentikan tangisan sang majikan.


Namun apa daya, dirinya yang hanya seorang pembantu tak kuasa.


"Nona, sudah ya non. Jangan nangis terus, mbok takut nanti keadaam nona jadi drop. "


*****


Selesai menyantap makan malam.


Kaira dan Alex mulai berjalan menuju ke ruang tamu. Duduk dengan santainya.


"Kalau udah makan, kayaknya enak deh kalau minum teh. "


"Mm, mau aku buatkan. "


Kaira mulai berdiri, berniat membuat teh untuk sang suami.


Namun baru saja beranjak berdiri, Alex malah menarik tangan istrinya.


Membuat Kaira jatuh pada pangkuan Alex.


"Hey, kenapa. Bukannya kamu mau teh. "


"Kamu lupa ya, kamu ini seorang istri bukan pembantu. Jadi duduk yang manis di sini, biar aku suruh Mbok Asih buatkan teh. "


"Mm, karena kamu memaksa. Jadi baiklah aku akan duduk manis di samping kamu. "


"Nah gitu dong nurut. "


"Iya."


Alex mulai memanggil pembantunya itu, " Mbok Asih. "


Berulang kali, namun tak ada tanda tanda pembantunya itu datang.


"Mbok Asih. "


"Kayaknya si Mbok sibuk deh, biar aku saja buatkan teh untuk kamu. "


Tetap saja Alex menahan tangan istrinya." Hey, kamu tak boleh kemana mana, tetap di sini. Temani aku. "


"Mbok Asih. "


Alex yang tak sabar, kini berdiri. Mencoba mencari keberadaan pembantunya itu.


"Mbok Asih kemana sih, tumben di nggak nyahut nyahut dari tadi. "


Kesal, Alex kini menghampiri kamar adiknya, ia melihat Mbok Asih sedang mengobrol di dalam kamar Gina.


"Mm, pantas saja nggak ngejawab, ternyata ada di dalam kamar Gina. "


Membuka pintu kamar sang adik, Gina memutarkan kursi rodanya. " Mbok Asih. "


Wanita tua itu berdiri, terkejut dengan kedatangan Alex.


"Ada apa, Tuan? Tumben nyari saya. "


"Ya elah Mbok, dari tadi aku panggil. Tapi simbok nggak nyahut nyahut, gimana sih?"


"Aduh tuan, maaf. Nggak kedengeran, tuan mau apa?"


Alex melirik ke arah Gina, ia tak menyapa atau bertanya pada adiknya itu.


Kini Alex menjawab perkataan Asih. " Tolong buatkan saya teh ya. Dan susu jahe untuk Kaira. "


"Baik, tuan. "


"Cepat ya mbok, jangan lama lama. "


"Iya, tuan. "


Alex kembali pergi, ia berjalan terburu buru untuk segera menghampiri istrinya yang sedang sendirian di ruang tamu.


"Kaira, sayangku aku kembali. "


Kaira tersenyum kecil dengan perkataan Alex, " Apaan sih, suka lebai. "


Alex malah tertawa, ia duduk dan mencium kening istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2