
Gadis bernama Dewi itu terlihat begitu angkuh setelah mengataiku dengan kata kata menyebalkan dari mulutnya.
" Mau marah. Marah saja, di sini tidak ada yang melarang kamu kok. "
Emosi yang aku rasakan semakin meluap luap, membuat darah ini seketika mendidih seperti air yang baru saja matang.
"Kamu itu tidak tahu ya, aku ini mantan terindah Alex. "
Waw, mengejutkan, aku berusaha menenangkan diri dan hati ini dari omong kosong yang di ucapkan wanita itu.
"Kenapa, pasti kamu tak menyangka ya?"
Entah apa maksud dari sosok wanita berbody seperti gitar sepayol ini, dengan memberi tahu bahwa dirinya adalah mantan terindah Alex.
" Aku tahu, kamu pasti syok. Dari tadi diam saja. "
Jika tak membalas dia pasti menjadi jadi, saat itu aku berusaha mendekat dengan mempelihatkan rasa santaiku tanpa meluapkan emosi.
"Sebenarnya aku malas meladeni kamu, hanya buang buang emosi dan tenaga saja. "
Wanita itu malah mengerutkan kedua bibirnya, " ah, masa?"
Membuat aku ingin sekali mencabik cabik bibirnya yang sok seksi itu, namun aku tahan demi harga diriku sebagai wanita. Yang tak harus membuat aku malu di depan orang lain. Dan tak harus cape cepa membuang tenaga untuk melawan wanita itu.
"Kenapa, nggak berani kamu lawan aku. "
Menghela napas, menghirup udara yang terasa sesak ini. Aku tersenyum lebar, lalu. " Hahhaha. "
Wanita dihadapanku, nampak membulatkan kedua matanya, sepertinya ia terkejut dengan responku.
"Kamu gila ya. "
Menunjuk wajahku dengan jari tangannya, membuat aku mengepal erat jari tangan milik wanita angkuh bernama Dewi ini.
"Apa bisa tanganmu yang indah ini tidak sembarangan menunjuk. "
Terlihat Dewi berusaha keras melepaskan tangannya dari genggaman tanganku, " Ahk."
Terdengar rengekan kesakitan, karena genggaman ku yang kuat, " kamu dengar ini ya, dimana mana mantan itu tidak ada yang terindah. Kalau pun ada dia itu aku, yang dibawa ke pelaminan. Bukan kamu yang di tinggalkan tanpa kepastian. Kocak. Hahhaha. "
Bibir tebal milik Dewi malah mempelihatkan kerutannya, ia seperti tak terima dengan ucapanku.
Berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tanganku, " jhahah, omonganmu saja gede. Tapi nyali sama tenaga ciut. Memalukan. "
Melepaskan tangan Dewi, aku mulai membalikkan badan menjauh darinya.
"Dasar, wanita tidak tahu diri. "
Kata kata manis yang membuat aku tak terima. " Oh, berani kamu bilang aku wanita tidak tahu diri. Lantas kamu apa? Wanita Lon*t*."
__ADS_1
Kemarahan tampak di perlihatkan Dewi di depanku, kedua tangan ia kepalkan. Langkah kaki yang semakin dekat padaku, membuat aku tak takut.
"Mulai berani kamu?"
Tangan milik Dewi hampir saja mendarat pada pipi ini, membuat aku dengan sigap menahan lalu berucap, " jangan berani kamu menyentuh pipiku. "
Dewi terlihat begitu kesal dengan perkataanku, ia berusaha mengerahkan tenaganya, melawanku. Namun Dewi tak tahu siapa aku sebenarnya.
"Kamu ini hanya gadis lemah, jadi jangan berani padaku," tegasku, menyingkirkan tangannya. Sampai aku layangkan satu tamparan pada pipinya.
Plakk ....
"Mm, gimana rasanya?"
"Sialan!"
Melipatkan kedua tangan, tersenyum tak lupa dengan mengedipkan mata, " pasti sakit kan. "
"Awas ya, akan aku beri perhitungan kamu nanti. "
Aku mulai tertawa terbahak bahak di depan Dewi, mempelihatkan raut wajah kemenangan.
"Sudahlah, jangan sok berani di depanku. "
Tampa aku sadari, Dewi mencekram rambutku dari belakang menariknya dengan kasar.
"Ahk, sakit."
"Sakit kan, uuh, kasihan. Makanya jangan sok jago. "
Meraih tangan Dewi, memutarkannya. " Rasakan ini. "
Ceklek.
Seseorang masuk, membuat aku berusaha lemah.
"Kaira, Dewi. "
"Alex, sakit. " Berpura pura kesakitan, saat Dewi melepaskan tanganku.
Menangis, mendekati Alex. Memeluk tubuhnya. " Teman kamu kok tega, nyakitin aku. "
"Dewi, kamu ini kenapa? Kamu gila ya. "
"Alex, aku ti .... "
Memotong jawabanya yang terdengar membela diri, " Alex, padahal aku salah apa. Dia tiba tiba nyerang dan merusak rambutku. "
"Dewi, aku kira kamu berubah. "
__ADS_1
"Alex, apa yang dikatakannya bohong. "
Menimpal perkataan Dewi," bohong, Alex apa kamu tidak lihat tadi, bukti jika Dewi menjambak rambutku dari belakang. "
Padahal aku tidak pernah melakukan drama semacam ini, tapi biarlah, demi membuat pembuktian jika Dewi orang jahat.
"Heh, kamu perempuan tidak tahu diri. "
Dewi dengan lantangnya menunjuk pada wajahku, membuat Alex menyingkirkan telujuk tangan Dewi. " Apa maksud kamu, hah. Dia istriku, jangan berani menujuk nujuk Kaira, yang tak bersalah. Harusnya kamu menyadari kesalahan kamu sendiri. "
Seru sekali, Alex membelaku. Yes.
"Alex, tolong dengarkan dulu penjelasanku. Tolong. "
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, jangan ganggu acara pernikahanku ini. "
Dewi terlihat marah padaku, ia mengambil tas mungilnya, menatap tajam ke arahku.
Dimana aku yang berdiri di samping Alex, melabaikan tangan padanya dan berkata, " dadah. "
"Sialan kamu. "
Gadis itu pergi dengan rasa malunya.
"Loh, kak Alex, kok ada di ruangan wanita?"
Tanya Gina, pada sang kakak.
"Kakak datang ke sini, untuk melihat Kaira, karena dia begitu lama menganti pakaiannya!" Jawab Alex bernada tinggi.
Gina tampak mengerutkan dahinya, mendengar jawaban Alex. " oh ya. Kak Dewi kemana?"
"Dia pulang. "
"Kok bisa. "
"Kamu lihat, Kaira. Gara gara Dewi, Kaira hampir celaka."
Gina terlihat syok mendengar ucapan kakaknya, ia menghampiriku dengan berkata. " kak Dewi melakukan semua ini. "
Menganggukkan kepala, mempelihatkan raut wajah sedih. Didepan Gina, " kok tega baget ya, kak Dewi."
Aku mulai mempertanyakan ucapan Dewi, pada Alex. " Katanya dia itu mantan terindah kamu. "
Mendenger perkataanku, Alex terkejut. " Ah, Dewi bilang begitu. "
"Ya, dia menghinaku. "
"Apa maksud Dewi berkata seperti itu. Dia benar benar tak waras. Aku tak pernah punya hubungan dengan dia. "
__ADS_1
"Jadi, si Dewi itu berbohong?"