
"Jadi kapan pernikahan kalian di adakan. "
Kami menatap satu sama lain, dimana rasa malu aku rasakan. " Ya elah, cepat lah tentukan tanggalkanya. "
Alex menjawab perkataan sang adik. " Kakak terserah Kaira saja."
Aku terkejut dengan jawaban Alex, " kok, aku. "
Alex merangkul bahuku, memperlihatkan kemesraan di depan Gina, membuat aku merasa tak nyaman. Apalagi Gina pernah ada rasa terhadap Alex."Cie, cie. "
Kedua mata Gina terlihat berbinar, ia senang melihat kebahagian kakaknya sendiri. Padahal aku sempat berpikir negatif, akan ekfresi yang akan di tampilkan Gina di depanku.
"Ayo tentukan tanggalnya. " Gina kembali bersuara.
Membuat Alex yang mendengar hal itu, langsung berucap. Dihadapanku." Bagaimana kalau Gina saja yang menentukan tanggal pernikahan kita.
"Ahk, benar." Aku setuju dengan ide Alex.
"Ya sudah kalau begitu. " Ucap Gina terlihat tak bersemangat.
Gina melipatkan kedua tangan, bibirnya tampak terlihat mengkerut. " Kalian ini gimana sih, nentuin tanggal pernikahan saja, ribet amat. "
Alex duduk di samping sang adik, ia tersenyum memegang tangan Gina. " Gina, sebelum kami menikah, kami ingin melihat kamu sembuh. "
Gina terdiam, lalu. Pelukan hangat mendarat pada tubuh Alex. " Kalian memang yang terbaik. "
Tampa aku duga, Bu Tari sedang mengintip di luar jendela, terlihat ia sedang memperhatikan kami.
"Bu Tari. Ternyata dia sedang memperhatikan kita dari tadi. "
Alex menyadari perkataanku, ia melihat di balik jendela, dimana wanita tua itu langsung pergi.
"Wanita tua itu lagi? Dia tidak ada kapok kapoknya , sudah di usir juga, " Ucap Gina kesal.
"Ya sudah, kamu jangan pikirkan hal itu lagi. " balasku menenangkan Gina dari rasa kesalnya.
"Kalian bisa tidak, usir dia dari sini, aku tak mau melihat dia lagi. " Ucap cetus Gina.
"Tapi dia ibumu, Gina?"
"Ya, aku tahu itu. Tapi aku tak suka, dia itu wanita yang tega membuangku. "
Perlahan mendekat, aku mulai memeluk tubuh Gina dan berkata. " yang sabar ya. Gina. "
**********
Tak terasa, sudah satu minggu Gina berada di rumah sakit. Wanita muda itu, terlihat lebih segar. Luka bekas operasi sedikit demi sedikit kini terlihat membaik.
"Gina, waktunya pulang. "
"Benar kah? Wah senangnya."
"Iya, kata dokter kondisi kamu sudah membaik. "
"Senangnya. "
__ADS_1
Dokter datang, melihat ke adaan Gina yang sudah bersiap siap untuk segera pulang. Kerumah.
Dokter tak lupa menyuruh. Gina untuk rutin minum obat.
Gina menganggukkan kepala, ia terlihat lebih baik dari sebelumnya. " Aku tak sabar, tidur di rumah. Merasakan empuknya ranjang tempat tidur. "
"Tentu saja. "
Saat kursi roda perlahan di dorong, sosok Bu Tari datang kembali. " Gina. "
"Ahk, dia lagi. "
"Gina, kamu sudah sembuh sayang, ibu sengaja datang kesini ingin menjemput kamu. "
Bu Tari mencoba merayu Gina dengan perkataan manisnya, pelahan mengusap pelan punggung tangan Gina.
"Gina. Ayo kita pulang ke rumah ibu. "
Gina menyingkirkan tangan Bu Tari, ia dengan cetusnya berucap, " jangan pernah sentuh tanganku ini. "
Deg ....
Bu Tari, terlihat berusaha keras. Membujuk Gina, dimana aku berucap. " Bu Tari, anda sudah dengar bukan dari tadi. Gina tak mau ikut dengan anda. "
"Diam kamu. "
Telunjuk tangan dengan lantangnya menunjuk ke arahku, Bu Tari terlihat tak terima dengan ucapanku.
"Yang diam itu, kamu. "
"Gina, kamu kenapa begitu pada ibu?"
"Sudah cukup, jangan panggil dirimu seorang ibu, jika kamu sudah membuang aku dari bayi!"
"Gina, ibu tidak membuang kamu, ibu hanya menitipkan kamu pada ayah kamu. "
"Sudah cukup, jangan katakan itu lagi. Pergi dari kehidupanku, jangan pernah muncul lagi. "
Gina terlihat murka sekali pada Bu Tari, ia berulang kali mengusir ibunya sendiri. Namun wanita tua itu seperti tak punya malu, tetap berdiri dihadapan Gina.
"Pergi cepat. "
Tangan Gina, perlahan mendorong tubuh Bu Tari, dimana wanita tua itu. Tersungkur jatuh, " Gina. "
"Kaira, ayo kita pergi dari sini, aku muak sekali lihat wajah wanita ini. "
"Baiklah, Gina."
Menuruti perkataan Gina, aku mulai mendorong kursi roda Gina, membawa adik Alex ini menuju mobil.
Bu Tari kembali berteriak," Gina. "
Namun hati Gina begitu keras, ia mengabaikan panggilan dari Bu Tari. Ibunya sendiri yang terus menangis.
"Gina."
__ADS_1
"Lebih cepat Kaira, aku tidak mau wanita menyebalkan itu mengejar kita. "
Sampai di tempat parkiran, Alex terlihat menunggu di dalam mobil. Suamiku keluar dari dalam mobil, membantu Gina untuk masuk.
Baru saja Gina masuk ke dalam mobil, suara panggilan Bu Tari terdengar lagi. " Gina, tunggu nak. "
"Ayo kita pergi. "
Mendengar ucapan Gina yang terdengar kesal, membuat aku terburu-buru masuk ke dalam mobil.
Sekilas menatap ke arah Bu Tari yang terus berlari menuju ke mobil.
"Cepat jalankan mobilnya. "
wanita tua itu baru saja sampai di depan mobil kami. Iya terus-menerus mengetuk kaca mobil menyuruh Gina keluar dari dalam mobil.
"Gina, tolong dengarkan penjelasan ibu. "
Gina terlihat fokus menatap ke arah jalanan, iya berusaha mengabaikan panggilan sang ibunda.
"Gina."
Mesin mobil dinyalakan, di mana Kami pergi mengabaikan Bu Tari. Wanita tua yang terus memukul mukul kaca mobil berulang kali.
"Kenapa dia muncul dihadapanku saat ini."
Aku mendengar bisikan kekesalan keluar dari mulut Gina. Dimana tangan ini memegang bahu yang terlihat sedang melamun.
"Gina, apa yang sedang kamu pikirkan saat ini?"
"Ah, tidak. "
Gina berbohong kepadaku, jelas-jelas tadi aku mendengar perkataan terdengar pelan itu.
"Kalau kamu merasa apa yang sedang kamu lalui ini terasa berat, kamu bisa bercerita kepadaku kapan saja. "
"Iya, terima kasih Kaira. "
"Sama sama. "
Di dalam perjalanan, Gina menyuruh Alex untuk mengantarkannya ke penjara. Dimana ia ingin bertemu dengan Gunawan.
Sembari mengelus perut,Gina berucap. " antarakan aku ke penjara, aku ingin melihat ayah dari bayi ini. "
Mendengar hal itu membuat aku menjawab. " Apa kamu yakin Gina kamu ingin menemui Gunawan. "
"Iya, Kaira. Aku ingin dia tahu bahwa bayi dalam kandunganku ini adalah anaknya. "
Alex menuruti keinginan Gina, ia menjawab dengan berkata. " Baiklah, aku akan mengatarkan kamu menemui Gunawan. "
Aku sebenarnya tak setuju dengan keinginan Gina untuk bertemu dengan Gunawan, lelaki licik yang tidak tahu diri itu.
" Aku tak yakin Gina. Jika kamu bertemu dengan Gunawan. Iya langsung menerima bayi dalam kandunganmu itu, kamu tahu sendiri kan Gunawan itu orangnya seperti apa? sudah banyak orang yang ia bunuh dan terlibat dalam masalahnya. "
"Aku tahu itu Kaira, tapi tetap saja. Gunawan harus tahu, karena kalau aku tidak memberi tahunya, bagaimana nasib bayi dalam kandungan ini. Dia akan mempertanyakan siapa ayahnya. "
__ADS_1