
Yonna yang ditarik paksa oleh Kamal untuk bicara di atas Gedung pun tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menerima tangannya ditarik dengan paksa.
"Mas, lepaskan! Sakit, Mas! Mas!" teriak Yonna dengan wajah yang meringis kesakitan berulang kali dengan nada suara yang keras.
"Jangan banyak mengeluh dan ikuti aku!" ucap kamal yang tak peduli dengan perkataan dan rintihan kesakitan Yonna dengan wajah yang cuek.
Kamal dan Yonna yang akhirnya sampai di atas gedung pun melepaskan tangan Yonna yang telah memerah karena karena tarikannya yang sangat kasar.
"Aarrgghhh! Mas, kamu kasar sekali! Kenapa kamu jadi berubah seperti ini Mas?" tanya Yonna yang protes dengan sikap Kamal padanya sambil mengelus tangannya yang memerah karena ditarik paksa.
"Kau tanya aku kenapa. Apakah kau tidak bisa mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya sekarang?" sindir Kamal dengan wajah yang frustasi dan kesal.
Yonna yang mendengar perkataan Kamal pun terdiam karena mengingat semua yang telah terjadi pada mereka berdua dalam waktu kurang dari tiga bulan terakhir.
Kamal yang sadar jika mencari pekerjaan sangatlah sulit terutama di saat seperti ini maka satu-satunya cara untuk bertahan adalah pindah.
"Aku akan pindah ke Sulawesi seperti yang dikatakan oleh Pak Kuncoro!" ucap Kamal dengan nada suara yang tegas.
"Apa? Mas akan pindah ke Sulawesi lalu bagaimana denganku? Aku tidak bisa pindah ke Papua apalagi berhenti bekerja!" ucap Yonna dengan wajah yang tidak setuju.
"Jika kau masih ingin kita menikah dan melanjutkan rencana sebelumnya maka kau harus pindah ke Sulawesi bersamaku dan berhenti bekerja!" ucap Kamal dengan nada suara yang tegas.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berhenti bekerja karena aku memiliki tanggung jawab yang besar sebagai laki-laki dan aku pun tak bisa menjalin hubungan jarak jauh!" ucap Kamal dengan keputusan yang telah bulat.
Yonna yang mendengar perkataan Kamal pun berada di dalam dilema yang besar sehingga hanya bisa berdiri mematung di tempatnya sementara Kamal telah pergi kembali ke ruang kerjanya.
Sementara itu, Riana yang menjalani harinya yang baru pun akhirnya menemukan orang yang ingin membeli rumahnya dengan Kamal.
"Rumah ini memiliki banyak sekali kenangan baik itu bahagia, sedih, ataupun menyakitkan!" ucap Riana dengan wajah yang sedih dan tatapan mata yang pilu.
Riana yang berjalan menyusuri sudut tiap sudut rumah lamanya itu pun mengenang saat pertama kali dirinya dan Kamal pindah hingga kelahiran Shawn dan Shasa ke dunia ini.
"Aku sangat sulit menjual rumah ini karena kenangannya yang sangat banyak tapi aku ingin melanjutkan hidupku! Aku tidak bisa terus berada di dalam bayangan masa lalu!" ucap Riana dengan wajah yang sedih.
"Mama, kenapa mama disini sendiri? Ayo, Ma. Ayo, kita pergi!" ucap Shawn dan Shasa secara bergantian lalu menarik tubuh Riana pergi mengikutinya.
Riana yang telah mendapatkan pembayaran penuh atas rumahnya itu pun telah mengemas barang-barangnya ke rumah yang baru saja dibelinya.
"Mama, semua barang telah ada di dalam Truk Pengangkut Barang! Ayo, Ma. Kita pergi sekarang!" ucap Shawn dengan senyum yang lembut yang dibalas dengan anggukan kepala.
Riana telah memutuskan menjual Rumah beserta isi perabotannya pun hanya membawa pakaian, sepatu, tas dan barang pribadi lainnya sehingga tak membutuhkan banyak Truk Pengangkut Barang.
Riana yang telah mengetahui tempat dimana dirinya akan bekerja memilih untuk pindah ke tempat yang tak jauh dari tempatnya kerja dan sekolah kedua anaknya.
__ADS_1
Riana yang pergi menaiki mobil kedua orangtuanya pun hanya membutuhkan waktu setengah jam perjalanan jika tidak macet untuk sampai ke rumah barunya dari rumahnya yang lama.
"Kita sudah sampai! Ini adalah rumah baru kita!" ucap Riana yang menunjukkan tempat tinggal baru dirinya dan kedua anaknya sambil membeei petunjuk kepada Supir untuk menurunkan semua barang di dalam rumah.
Riana yang memilih tinggal di Perumahan Komersil yang memiliki harga dua bahkan tiga kali lipat dari rumah di Perumahan Subsidi atau Perkampungan pun berharap semua tujuannya terwujud.
"Rumah ini tidak terlalu besar seperti rumah kita yang lama tapi Mama harap kalian bisa nyaman tinggal disini!" ucap Riana dengan senyum yang ramah.
"Shasa menyukai rumah ini, Ma. Disini cukup tenang dan juga asri. Sepertinya juga tetangga disini tidak terlalu berisik dan suka bergosip seperti rumah kita yang lama, Ma!" ucap Shasa dengan ekspresi wajah yang puas sambil melihat sekitar komplek yang tenang.
"Hmmm, disini juga one gate sistem dengan satpam yang berjaga 24 jam yang artinya keamanan disini cukup terjamin mengingat kita hanya tinggal bertiga sekarang!" ucap Shawn yang melihat ke arah gerbang keluar.
"Benar! Ini adalah salah satu alasan Mama mengambil tempat ini meskipun harganya cukup mahal!" ucap Riana yang menyetujui pendapat kedua anaknya.
Riana yang belum belanja apapun untuk isi rumahnya pun mengajak kedua anaknya untuk berbelanja sambil membeli makan siang.
"Semua pakaian sudah dimasukkan ke dalam kamar masing-masing. Sekarang saatnya kita pergi berbelanja!" ucap Riana dengan senyum yang cerah.
#Bersambung#
Kira-kira keputusan apa yang akan dipilih oleh Yonna? Akankah Yonna memilih meninggalkan semuanya demi bisa bersama Kamal bahkan jika itu harus mengorbankan karirnya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya.
__ADS_1