Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
BAB 36. Bendera Damai


__ADS_3

Riana yang tak ingin mengalah pada Kamal pun memilih diam tapi tetap melakukan tugasnya sebagai Istri dan Ibu.


Kamal yang tak tahan didiamkan oleh Riana seharian pun akhirnya memulai pembicaraan terlebih dahulu di malam hari saat anak-anak sudah tertidur.


"Dek, bisakah kita bicara dengan kepala dingin?" tanya Kamal dengan suara yang lembut dengan ekspresi wajah yang memelas.


Riana yang tak ingin menambah beban fikirannya dan menjadi semakin marah pada Kamal yang lebih memilih selingkuhanya daripada dirinya memilih untuk tidak membaca pesan masuk di handphone mata-matanya.


Namun saat Riana mendengar Kamal ingin bicara dengannya empat mata dan menggelar bendera damai setelah tak saling bicara selama seharian pun memutuskan untuk ikut melunak.


"Tentu saja, asalkan Mas juga bisa diajak bicara dengan kepala dingin!" ucap Riana yang meletakkan handphone yang ada di tangannya ke atas tempat tidur dan mulai fokus pada Kamal.


"Dek, Mas bukannya tidak mau pinjam uang di Bank tapi bunganya itu terlalu besar." ucap Kamal yang beralasan tidak mau menuruti permintaan Riana.


"Mas, jangan membuatku marah. Mas pikir aku tidak tau jika Perusahaan tempat Mas bekerja ada pegawai Bank yang menawarkan pinjaman dengan bunga yang ringan!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Adek membacanya di dalam group kerja Mas. Teman-teman Mas banyak yang berniat meminjam uang bahkan ada yang ingin menambah pinjaman!" ucap Riana yang mulai berani membantah perkataan Kamal.


"Mas, jika kita tidak meminjam uang maka kita tidak akan pernah berhasil membeli mobil baru dan uang hasil penjualan mobil yang lama pasti akan habis begitu saja tanpa menghasilkan apapun!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang serius.


"Jika Mas masih dengan keputusan Mas yang tak ingin meminjam uang di Bank maka lebih baik Mas tidak perlu menjual mobil yang lama. Mas pakai saja mobil itu dan terima saja jika harus mendorong mobil selalu!" ancam Riana dengan nada suara dan ekspresi wajah yang kesal.


Kamal yang tak ingin merasakan lelah karena harus mendorong mobil dan selalu mengeluarkan uang yang untuk perbaikan saat mobil mogok pun menyerah.

__ADS_1


"Baiklah. Mas akan mengajukan pinjaman ke Bank tapi berapa jumlah pinjaman yang Mas ajukan nantinya?" tanya Kamal dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Hmmm, menurut Adek seratus juta sudah lebih dari cukup Mas. Jika uangnya lebih untuk membeli mobil naru, sisa uangnya bisa kita simpan di Bank sebagai tarikan bulanan!" ucap Riana yang langsung mengubah cara bicara dan ekspresi wajahnya menjadi ceria.


"Baiklah. Mas akan lakukan seperti yang adek mau. Mas akan hubungi pihak Banknya dan ajukan besok. Mas minta adek yang pasarkan penjualan mobilnya." ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang pasrah.


"Baik, Mas. Mas jangan khawatir. Adek pasti akan mengurusnya dengan baik." ucap Riana dengan ekspresi wajah yang gembira dengan senyum yang lebar.


Riana yang tak ingin dibodohi Kamal lagi pun berniat untuk tidak menjual mobil lebih dulu sebelum uang permohonan pinjaman Bank Kamal terpenuhi.


Keesokan harinya Riana yang mempersiapkan dirinya untuk persiapan ujian masuk Pegawai Negeri Sipil terus belajar tanpa henti baik dengan buku panduan ataupun dari internet.


Riana yang sangat sibuk akan dirinya, pendidikan Shawn dan Shasa serta membantu mengbati penyakit Mertuanya itu tanpa sadar sudah bisa bersikap santai dan cuek pada Kamal dan Yonna yang berselingkuh.


Riana yang tau jika Kamal tak memiliki uang lagi pun menjadi semakin tidak peduli kepada Kamal dan menolak untuk memberikan Kamal uang tambahan dengan seribu alasan yang membuat Kamal menyerah meminta uang padanya.


"Dek, Mas bisa minta uang dua ratus ribu untuk beli bensin. Bensin Mas habis dan uang Mas juga tinggal seratus ribu lagi di dompet!" ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang memelas.


"Mas kan masih ada uang seratus ribu jadi pakai saja uang itu untuk membeli bensin! Mas juga tidak perlu membeli makan siang karena kantin kantor sudah menyiapkan semuanya!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang cuek.


"Kalau uangnya dipakai untuk membeli bensin semua, gimana kalau sesuatu terjadi di jalan? Mas tidak bisa apa-apa nantinya!" ucap Kamal dengan nada suara yang protes dan tidak senang.


"Hmmm, kalau seperti lima puluh ribu cukup, Mas. Mas, kita banyak keperluan. Ingat Mas! Ibumu sakit dan butuh biaya pengobatan. Kalau Mas tidak hemat bagaimana kita membayar biaya pengobatan Ibu? Lalu kita juga harus membayar biaya sekolah Shasa dan Shawn!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang datar dengan tatapan mata yang tidak berdaya sambil mengeluarkan uang lembaran berwarna biru satu lembar dan memberikannya kepada Kamal.

__ADS_1


Kamal yang tak punya alasan lagi pun mengambil uang tersebut sambil menarik nafas panjang lalu pergi ke kantor bersama kedua anaknya.


Beberapa hari berlalu, Riana yang tak ingin Kamal tau jika dirinya ikut tes Seleksi Pegawai Negeri Sipil pun pergi tes tanpa memberi tau Kamal sama sekali dan hanya memberi tau Orangtua dan Adiknya.


Riana yang tak tau berapa lam. Dirinya akan mengikuti tes itu nanti pun meminta bantuan Leo untuk mengantar dan menjemput kedua anaknya.


"Leo, Mbak ada tes CPNS hari ini. Mbak minta tolong anterin Shasa dan Shawn pegi les lalu antarkan mereka pulang ya!" ucap Riana yang menghubungi Leo lewat sambungan telepon saat dirinya sedang memakai sepatu hitamnya.


"Ya, Mbak. Mbak, jangan khawatir. Aku pasti akan mengantar dan menjemput kedua keponakanku itu. Aku akan pastikan tak akan terjadi sesuatu kepada mereka!" ucap Leo dengan percaya diri.


Tak hanya pada Leo, Riana yang juga membutuhkan Hana pun menghubungi Hana yang sedang libur bekerja.


"Han, kamu liburkan dek hari ini? Mbak mau minta tolong lihatin rumah dan kasih makan Shasa dan Shawn! Mereka berdua itu tidak mau makan kalau tidak ada yang marahin!" ucap Riana dengan nada suara yang terdengar sangat khawatir.


Riana yang pergi ke tempat ujian menggunakan Ojek Online karena mobil akan dipakai oleh Leo untuk mengantar dan menjemput anak-anaknya tidak sengaja melihat Yonna bersama pria lain yang bukan Kamal.


"Bukankah itu Mbak Yonna? Dengan siapa dia? Kenapa mereka terlihat sangat akrab dan dekat?" tanya Riana dengan ekspresi wajah yang bingung sambil melihat ke arah kafe yang tak jauh dari lokasi tesnya.


"Agh, biarkan saja. Aku tidak perlu tau apa yang dilakukan wanita j*lang itu! Aku harus fokus pada ujianku terlebih dahulu setelahnya baru aku mencari tau identitas pria itu!" ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam dan menyipit lalu pergi menjauh.


#Bersambung#


Siapakah pria yang pergi bersama Yonna itu? Apakah Kamal mengetahui hal ini? Akankah Riana menceritakan kejadian ini kepada Kamal? Bagaimana reaksi Kamal? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya ya..

__ADS_1


__ADS_2