
Menghela napas, kaira memegang tangan Alex. Membawa suaminya itu untuk segera pergi dari rumah Gina.
Karena ini yang terbaik untuk kesehatan dan mental Gina.
Perlahan Alex menghampiri sang adik, melihat raut wajah wanita yang selalu ia lindungi dari kecil. Menumpahkan kasih sayang sebagai seorang kakak, dan melindungi segenap jiwa demi sang adik tercinta.
"Bagaimana pun dan sampai kapan pun, kamu tetap adik kakak. Kakak sayang sama kamu."
Perlahan Gina memberanikan diri menatap wajah Alex, kedua mata wanita berambut pendek itu terlihat berkaca kaca. Dimana tangan kekar Alex perlahan mengusap kepala rambut Gina.
"Jaga diri kamu baik baik, jangan setres." Alex kini mengusap pelan perut Gina yang terlihat semakin besar.
Wanita berambut pendek itu, berusaha menahan air mata yang hampir saja jatuh pada kedua pipinya.
"Hey, kenapa menangis anak cengeng. " Ucap Alex, mencubit kedua pipi Gina.
"Aw." Gina tampak meringis kesakitan, dimana Alex melepaskan cubitannya itu. " Kakak. " Memukul pelan bahu Alex dengan tangan Gina, keduanya kini tertawa bercanda.
"Gitu dong senyum. "
Kaira masih berdiri tak jauh dari belakang punggung Alex, terlihat jika ia berulang kali mengusap air matanya. Saat melihat ketulusan dan kasih sayang dari Alex sebagai seorang kakak terhadap adiknya.
__ADS_1
"Kakak ini. "
Gina tampak bahagia, ia tertawa lepas. Wajahnya terlihat lebih bersemangat dari pada sebelumnya.
Kaira merasa dirinya orang jahat yang sudah memisahkan kedua insan, yang hanya di takdirkan sebagai kakak dan adik.
"kakak yakin Mbok Asih akan selalu ada di sisi kamu Gina. Dia akan menjaga kamu melebihi anaknya, benar kan, Mbok?"
Sebuah kode mata, diperlihatkan Alex pada pembantunya.
"Ee, iya. Benar non, Nona Gina tenang saja, Mbok Asih akan menjaga dan melindungi non, segenap jiwa raga mbok. "
Alex berdiri, ia mulai menghampiri Kaira, memegang tangan istrinya, lalu berucap, " ayo kita pergi. "
Asih mendorong kursi roda Gina, membawa sang nyonya pergi keluar rumah untuk melihat kepergian sang kakak.
. Alex yang mulai masuk ke dalam mobil, melabaikan tangan di depan Gina, tersenyum lebar berpamitan pergi.
Mobil pergi meninggalkan rumah Gina, dimana wanita tua itu berucap, " ya ampun non, saya salut sama non, bisa sesabar ini. Bisa tersenyum walau dalam kepura puraan. "
"Jangan berlebihan memuji orang mbok, itu tidak baik. "
__ADS_1
Senyuman itu tiba tiba memudar, seiring kepergiaanya mobil sang kakak.
"Mungkin dengan melihat mereka pergi adalah jalan terbaik. "
"Nona harus kuat, mbok yakin nona bisa melalui semuanya. "
"Ahk, benar aku pasti bisa melalui semuanya. Demi anak yang aku kandung, aku akan membesarkan anak ini, tak akan kusia siakan dia. "
Asih tampak senang setelah mendengar perkataan Gina yang terlihat bersemangat. Tidak bersedih dan putus asa akan takdir yang dijalani.
"Mbok, antarkan aku ke kamar ya. Sepertinya aku butuh istirahat. "
"Baik non, oh ya. Nona Gina mau buatkan apa nanti. "
"Apa ajalah mbok, yang penting enak dan segar. "
Wanita tua itu mulai memikirkan keinginan sang majikan, sambil membawa Gina masuk ke dalam kamar.
"Yang enak dan segar. Mm, apa ya. "
Di saat pikiran terasa buntu, tak ada ide sama sekali. Dari kejauhan terdengar seseorang memanggil Gina dengan melambaikan tangan.
__ADS_1
"Siapa dia?"