
Ferdi masih duduk di dalam mobil, ia memandangi setir yang belum ia nyalakan. Perasaan tak karuan, ia masih tak menyangka.
" Gina sudah menikah dan sedang hamil, siapa lelaki yang sudah meluluhkan hatinya? Ahk, aku kalah cepat dengan lelaki itu."
Memandangi kaca mobil, ia melihat satpam masih berjaga di gerbang pintu. " Apa aku tanya saja pada satpam di rumah Gina, mungkin dia tahu suami Gina. Dari pada aku penasaran. "
"Pak, pak. "
Ferdi memanggil satpam penjaga di rumah Gina berulang kali, membuat satpam itu bergegas menghampiri Ferdi.
"Ada apa, pak?"
"Oh ya saya mau tanya, suami majikan kamu sering pulang!"
Satpam itu terlihat kebingungan, ia bertanya lagi. " Maksudnya?"
"Maksud saya suami Gina!"
"Oh, Nona Gina nggak punya suami. "
Deg ....
kedua mata Ferdi membulat ia tak menyangka dengan apa yang dikatakan satpam di rumah Gina.
"Jangan bercanda kamu. "
__ADS_1
"Saya tidak bercanda, saya berkata apa adanya. Memang kenyataanya, Nona Gina tak memiliki suami. "
"Tapi kan. "
Belum perkataan Ferdi terucap semuanya, satpam langsung menyela. " Hamil. "
Kedua mata Ferdi membulat, memang hal itu yang ingin ia katakan. Namun sedikit ragu, karena tak mungkin Gina hamil tampa seorang ayah.
"Oh ya, Tuan Ferdi jangan bilang siapa siapa ya. Kalau Nona Gina itu sebenarnya. "
"Pak Kodir. "
Suara yang memanggil Pak Kodir, membuat lelaki tua itu tak meneruskan perkataanya. " Iya. "
"Pak." Ferdi yang dibuat penasaran, kini hanya bisa terdiam, melihat sosok satpam itu pergi dengan berlari tergopoh gopoh.
"Mm, baru ingin tahu tentang Gina."
Pada akhirnya, Ferdi mulai menyalakan mesin mobil. Ia pergi dari rumah Gina, wanita yang selalu ia harapkan dari dulu menjadi istrinya.
Di dalam perjalanan, Ferdi masih membayangkan raut wajah Gina, yang terlihat tak bahagia. Di tambah perkataan satpam. Jika Gina tak mempunyai seorang suami.
"Siapa lelaki berengsek yang sudah menghamili kamu Gina? Kenapa lelaki itu tidak mau tanggung jawab, apa alasannya. Aku harus cari tahu. "
Rasa penasaran yang terus menggebu pada hati ini, membuat Ferdi tak fokus. Ia hampir saja menabrak pengendara motor, yang melintas tak jauh dari mobilnya.
__ADS_1
Memukul stir mobil." Sialan, hampir saja kena. "
Keluar dari dalam mobil, pengendara motor itu terlihat sedang mengendarai seorang penumpang. Dimana sang penumpang menundukkan wajahnya.
Wajahnya sedikit tertutup topi. Seperti raut wajah tak asing bagi Ferdi.
"Maaf pak, saya benar benar tak sengaja. Saya kirim uang untuk ganti rugi kerusakan mobil bapak. "
Ferdi menolak, keinginan sang bapak yang akan bertanggung jawab.
"Tak usah pak, tidak ada yang rusak pada mobil saya. "
Lelaki tua itu mengelus dada, sedangkan penumpang dibelakang hanya diam dan menghindari pandangan mata.
"Kalau begitu saya pamit, terima kasih sudah mau berbaik hati. "
Ferdi tersenyum lepas menganggukan kepala, dimana si pengendara itu berlalu pergi dari hadapan Ferdi.
Masuk ke dalam mobil, Ferdi mulai berlalu pergi, untuk pulang ke rumah.
" kenapa penumpang itu terus menyebunyikan wajahnya?"
Pertanyaan tak karuan, mengelilingi otak Ferdi.
Sampai suara ponsel lelaki itu berbunyi. " Nomor siapa ini?"
__ADS_1
Ferdi yang tak biasa mengangkat nomor baru, mengabaikan begitu saja, menaruh ponsel. Dimana ponsel itu terus berdering.
*******