
Riana yang telah merasa lega setelah mengikuti Ujian Tes Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil pun kembali ke rumah dan melihat Hana yang sedang mencuci piring.
"Han, dimana Shasa dan Shawn?" tanya Riana dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang mencari ke segala tempat jejak kehidupan kedua anaknya.
"Agh, mereka sedang pergi keluar bersama Leo. Leo bilang mau traktir eduanya belanja baju jadi mereka pergi bareng, Mbak!" ucap Hana dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Hmmm, mbak seneng dengernya. Mbak ganti baju dulu. Mbak tidak mau ketahuan Mas Kamal kalau baru pulang tes!" ucap Riana dengan senyum lembut sambil menyerahkan sekotak kue kepada Hana.
"Oke, Mbak!" ucap Hana dengan wajah yang gembira dengan nada suara yang ceria sambil mengambil makanan yang diberikan Riana kepadanya.
Hana yang khawatir pada Riana pun memotong kue yang dibawa Riana lalu menyusunnya di atas piring dan membuatkan minuman dingin untuk Riana.
"Mbak, makan dulu. Aku sudah potongin kuenya dan aku juga sudah buatin minuman dingin untuk Mbak!" ucap Hana dengan senyum yang lembut dan nada suara yang ramah.
Riana yang telah selesai mandi dan mengganti pakaiannya pun duduk bersantai di ruang keluarga sambil memainkan handphonenya membaca pesan Kamal dan Yonna yang tak berani dibukanya selama beberapa hari terakhir.
Riana yang awalnya biasa saja dan masih bisa duduk sambil bersansar tiba-tiba mengubah posisi duduknya saat membaca isi pesan antara Kamal dan Yonna yang menurutnya semakin menyebalkan.
"Tidak tau malu! Beraninya dia merayu Mas Kamal untuk memberikannya uang untuk perawatan di Dokter kecantikan hingga sepuluh juta!" ucap Riana yang meninggikan suaranya dengan ekspresi wajah yang kesal.
Hana yang duduk di samping Riana menjadi terkejut dan penasaran di saat bersamaan tapi Riana yang tak ingin membuat Hana menjadi semakin khawatir padanya mencoba menutupi permasalahan yang dihadapinya.
"Kenapa Mbak? Apa j*lang itu melakukan sesuatu yang tidak tau malu lagi?" tanya Hana dengan ekspresi wajah yang ikut kesal dengan tatapan mata yang menunjukkan rasa penasaran yang tinggi
"Seperti yang sudah kau duga. Jangan khawatir. Mbak tidak akan diam saja. Mbak pasti akan melakukan sesuatu untuk menghancurkan j*lang itu dan Mas Kamal bersama-sama!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang kesal.
Hana yang mendengar perkataan Riana menjadi tenang dan tak melanjutkan pembicaraan itu lalu membuat keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Waktu berlalu, Hana dan Leo yang tidak bisa tinggal terlalu lama pun kembali pulang ke rumah orangtua dan Riana yang sendirian di kamarnya mulai menyusun rencana baru.
__ADS_1
"Hah! Mas, kau sungguh tidak punya hati. Kau memanfaatkan kebaikanku dengan sangat baik! Selama ini aku tertipu dengan perhatian dan cintamu yang palsu itu!" ucap Riana dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Bisa-bisanya kau berniat liburan bersama Mbak Yonna ke B*ndung setelah uang pinjaman Bank itu cair!" ucap Riana dengan tangan terkelal erat menahan emosi.
"Kalian ingin liburan, bukan? Aku akan memberikan liburan yang menyenangkan untuk kalian berdua! Aku akan memberikan tempat menginap dengan pemandangan yang terbaik!" ucap Riana dalam hati dengan senyum yang licik.
Sementara itu, Kamal yang ternyata mendapatkan uang dari salah satu client-nya karena berhasil membuat kesepakatan untuk memanipulasi pembayaran uang kontrak ternyata mengajak Yonna makan malam di Restoran Seafood.
*Yonna, ayo kita makan di Restoran Seafood. Aku tau kamu suka sekali dengan makanan laut jadi aku akan mentraktirmu makan Seafood. Aku jemput kamu di tempat biasa ya setelah pulang kerja!* (isi pesan wh*tsh*pp Kamal)
*Agh, makanan Seafood. Aku suka sekali, Mas. Kamu memang yang terbaik, Mas. Aku jadi tidak sabar menunggu jam pulang kerja.* (isi pesan wh*sh*pp Yonna)
Riana yang ternyata terus membaca isi pesan yang ada di handphone mata-mata miliknya menjadi semakin kesal saat membaca notifikasi di handphone mata-mata miliknya.
"Kamu mengajak Mbak Yonna makan di luar tapi tidak denganku dan anak-anak, Mas. Kamu pasti mendapatkan bonus lagi yang tak akan pernah kau ceritakan apalagi kau berikan uang itu padaku!" ucap Riana dengan ekspresi wajah yang kesal.
Riana yang tak ingin melihat Kamal karena khawatir akan kebablasan hingga emosi pun memutuskan untuk duduk bersantai bersama Shasa dan Shawn yang duduk di ruang keluarga.
"Setelah puas bersama selingkuhannya barulah Mas Kamal pulang ke rumah tanpa membawa apapun! Hah! Menyebalkan sekali!" gumam Riana dalam hati sambil mengepalkan tangannya dengan sangat erat saat melihat Kamal masuk ke dalam kamar begitu saja.
"Sudahlah. Percuma saja aku marah-marah. Tidak akan ada gunanya. Mas Kamal pun tidak akan tau dan tidak akan peduli dengan alasanku marah-marah. Lebih baik aku duduk bersama anak-anakku!" ucap Riana sambil memegang kepalanya yang mulai berdenyut sakit memikirkan sikap Kamal yang semakin hari semakin kelewatan.
Namun saat ketiganya sudang tertawa dan bahagia bersama, Kamal yang telah selesai berpakaian pun muncul dan duduk di samping Riana.
"Hmmm, sedang apa kalian? Nonton apa sih seru sekali? Papa ikut dong!" ucap Kamal dengan ekspresi wajah yang tidak tau malu dengan senyum yang lebar.
"Hmmm, nonton film Avenger, Pa. Seru banget loh, Pa!" ucap Shasa dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan nada suara yang penuh antusias.
Shawn yang memiliki kepekaan yang sangat tinggi sebagai anak tanpa sadar melihat Riana yang merasa tidak nyaman saat berada di dekat Kamal.
__ADS_1
"Ada apa, Ma? Mama sakit, ya?" tanya Shawn dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir dengan nada suara yang lembut.
"Agh, tidak! Mama hanya sakit kepala sedikit sepertinya kurang tidur! Beberapa hari ini sering terbangun tengah malam terus susah untuk tidur lagi!" ucap Riana yang mencoba menutupi permasalahannya sambil tersenyum lembut dan membelai rambut Shawn dengan lembut.
Riana yang tidak nyaman berdekatan dengan Kamal ataupun bersentuhan dengannya pun berdiri dan mencari alasan agar tidak terlihat canggung.
"Hmmm, mama ke dapur dulu, ya. Mama ambilkan cemilan untuk kalian!" ucap Riana yang buru-buru pergi menuju dapur dan menghiraukan tatap mata curiga Shawn padanya.
Riana yang berhasil kabur langsung menarik nafas panjang dan merasa sangat lega lalu mencuci wajahnya dengan air agar kewarasannya tetap terjaga.
Riana yang mengambil keripik yang disimpannya pun memindahkannya ke dalam toples kecil lalu membuat kopi untuk Kamal yang sedang duduk bersantai bersama anak-anak.
"Ini dia makanannya! Mama ada kripik pangsit pedas di sini. Mama harap kalian suka!" ucap Riana dengan senyum yang lembut.
"Hmmm, Mas ini kopinya!" ucap Riana dengan suara yang ramah dan senyum yang lembut lalu mengambil posisi duduk di samping Shasa dengan jarak yang cukup jauh dari Kamal.
"Terima kasih, Dek!" ucap Kamal dengan lembut sambil tersenyum lalu mengambil cangkir kopi ity meminumnya sedikit yang direspon dengan senyuman balil oleh Riana.
"Hah! Jika aku tidak ingat memiliki Tuhan dan anak mungkin aku sudah memasukkan racun sianida ke dalam kopi, Mas. Aku sudah menjadi M*rna kedua nantinya!" ucap Riana dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.
"Atau aku akan menyewa pembunuh bayaran yang profesional untuk membunuh dan p*lacur itu saat kalian sedang berhub*ngan b*dan agar semua orang tau perbuatan bejat kalian!" ucap Riana dalam hati dengan tangan yang terkepal erat menahan emosi kemarahan yang tak bisa disalurkannya.
"Kau sudah memiliki anak yang cantik dan tampan serta baik hati, pintar dan juga sholeh/sholeha tapi kau masih saja berselingkuh dariku! Kau memilih untuk berzina dengan teman kantormu yang bahkan masih memiliki suami yang sah!" ucap Riana yang langsung mengalihkan pandangannya ke film yang sedang di putar di televisi.
"Aku jadi bingung siapa yang bodoh di sini sebenarnya, aku atau kamu, Mas?" tanya Riana pada dirinya sendiri dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin.
#Bersambung#
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya ya..
__ADS_1