Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 85


__ADS_3

Sampai di kantor polisi, aku melihat Bu Tari duduk dengan wajah sendihnya. Ia menundukkan wajah, memukulkan tangan secara perlahan lahan, dan berulang ulang di atas meja.


Membuat polisi merasa terganggu dengan suara yang ditimbulkan Bu Tari.


"Bu Tari, apa tangan anda bisa anda kontrol sebentar. Karena terlalu mengganggu."


Bu Tari akhirnya menghentikan tingkahnya yang aneh itu, ia merapihkan duduknya. Mencoba menuruti perkataan polisi.


Aku dan Alex duduk tak jauh dari Bu Tari, mendengar pertanyaan polisi yang harus di jawab wanita tua itu.


Polisi mulai menintrogasi Bu Tari, atas perbuatannya. Tampak wanita tua itu terlihat ketakutan dan menyesal dengan pertanyaan polisi. Yang aku rasakan begitu tegas.


Berulang kali Bu Tari berbohong, membuat aku yang mendengarnya merasa geram. Bisa bisanya di situasi menegangkan ini, Bu Tari sempat sempatnya tidak mengakui kesalahannya sendiri.


Polisi menekan dan membolak balik pertanyaan pada Bu Tari, sampai wanita tua itu mengakui semua kesalahnya sendiri.


"Jadi benar anda sudah merencakan penculikan. "


"Iya, saya melakukan semua itu hanya ingin dekat dan dipercayai anak saya. "


Polisi mencatat semua kejujuran yang terlontar dari mulut Bu Tari.


Sedangkan aku yang duduk dibelakangi Bu Tari merasa lega, jika ia sadar akan kesalahanya,


Polisi sudah menempatkan tersangka, jika Bu Tari bersalah. Dimana aku dan Alex menyetujui jika Bu Tari ditahan untuk waktu yang cukup lumayan lama.


"Kalian." Bu Tari bangkit dari tempat duduknya, ia menunjuk nunjuk ke arahku dengan raut wajah penuh kebencian, meneruskan setiap bait kata, dengan menyalahakan kami berdua. Tampa ia intropeksi diri akan kesalahanya."semua karena kalian. Aku tidak akan tinggal diam setelah ini."


Kami mengabaikan kesedihan Bu Tari, tak ingin memberi kesempatan padanya lagi, sudah cukup yang kedua kalinya, aku berusaha tega, pada wanita tua itu.


Agar ia sadar akan dan berubah untuk bisa memperbaiki dirinya sendiri.


Bu Tari sudah sah di masukkan ke dalam penjara, dengan begitu cepatnya, setelah keputusan yang sangat memuaskan terdengar dari telinga kami.


Aku dan Alex mulai pulang untuk segera menemui Gina. Menjelaskan pada anak itu.


"Mungkin dengan cara ini, Bu Tari bisa merenungi kesalahnya. Mm, padahal tak perlu membuat kejahatan hanya untuk mengambil hati anaknya. Karena masih banyak cara lain. "


"Alex, Alex. Pikiran semua orangkan beda beda tak ada yang sama, jadi sudahlah. Ini semua sudah nasib Bu Tari. Semoga jadi pembelajaran untuk dirinya. "


Keluar kantor polisi, kami berdua di kejutkan dengan sosok Gina yang sudah duduk di kursi roda.


"Gina, kamu. "


Gina memperlihatkan kemarahannya didepanku dan juga Alex, dia mengepalkan tangan lalu berucap. " Kenapa kalian tidak menempati janji. Kenapa kalian pergi berdua tanpa menjemputku. "


Aku dan Alex saling menatap satu sama lain, berusaha menjelaskan semuanya, namun Gina seakan tak menerima ia akhirnya melewati kami dengan menggunakan kursi roda.


" Menyingkir, aku ingin melihat ke adaan Bu Tari. "


Ahk, padahal kami berusaha menjauhkan perdebatan, tapi karena keras kepalanya Gina, membuat aku dan Alex kebingungan.


"Gimana ini?"

__ADS_1


Angkat tangan, tak tahu harus melakukan hal apa, agar Gina tak menemui Bu Tari yang terlihat terpuruk.


Tampa banyak berpikir, akhirnya aku menghentikan kursi roda milik Gina, membuat wanita yang menjadi sahabatku kesal.


"Kaira, apa yang kamu lakukan, cepat lepaskan tanganmu itu dari kursi rodaku. "


Menahan dengan sekuat tenaga, Gina memperlihatkan tenanganya, ia memutarkan kursi roda dengan tangannya.


"Lepaskan."


Karena kemarahan yang membuat tenaga ya menjadi besar, aku mulai kewalahan. Terjatuh di atas lantai.


"Gina, tunggu." Aku berusaha berteriak, menyuruhnya untuk tidak menemui Bu Tari.


"Kaira, ayo. "


Alex berusaha untuk membantuku berdiri, ia mencoba menahanku untuk tak mengejar Gina lagi.


"Alex, aku harus kejar Gina. "


"Sudah cukup, percuma. Dia itu keras kepala, tak ada gunanya kamu mengejar dia, yang ada hanya lelah dan buang buang tenaga saja. "


Apa yang dikatakan Alex, ada benarnya. Percuma mengejar Gina, karena ia tak akan mendengarkan perkataanku.


Tetap pada pendirianya itu.


Alex memegang kedua bahu ini, ia berucap dengan nada lembutnya. " Sabaiknya kita ikuti saja Gina, kita lihat apa yang dikatakan Gina pada Bu Tari. "


"Kamu pelan pelan jalannya. "


Menganggukkan kepala, terlihat dari kejauhan Gina mulai masuk ke ruangan dimana ibunya di tahan.


"Anak itu, selalu saja bikin repot . "


Sampai di ruangan yang tujuan Gina, kamu berdua hanya bisa mengintip, mendengarkan apa yang akan dibicarakan Gina kepada ibu kandungnya sendiri.


"Gina, akhirnya kamu datang ke sini nak, bagaimana keadaan kamu sekarang? Ibu kangen sekali sama kamu, ibu ingin bertemu dengan kamu. "


"Alah, cukup. Jangan sok perhatian di depanku, aku sudah bilang, jangan anggap dirimu seorang ibu. "


Bu Tari menangis, setelah mendengar bentakan keluar dari mulut Gina, ia berusaha mengusap kasar air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


"Kamu kok tega nak, sama ibu kandung kamu sendiri. "


Mendengar Gina berdecak kesal di depan ibunya, membuat aku merasa kasihan pada Bu Tari.


Wanita tua itu menyodorkan tangannya, ia terlihat ingin sekali memegang pipi kiri milik anaknya.


Namun Gina yang menyadari hal itu, dengan begitu sigapnya, ia menyingkirkan tangan ibunya sendiri. " jangan berani menyentuhku ya. Aku tak suka. "


"Gina, aku ibumu. "


"Cukup, jangan katakan perkataan itu lagi, sudah cukup ya, aku jijik mendengarnya. "

__ADS_1


Betapa terluka sekali hati Bu Tari, ia hanya bisa menangis, menahan kesedihan setelah mendengar kenyataan yang dikatakan oleh Gina pada ibunya.


"Gina, apa yang harus ibu lakukan, agar kamu percaya dan sayang lagi pada ibu."


Gina malah tersenyum sinis, setelah mendengar kata kata manis dari mulut Bu Tari.


"Apa yang harus kamu lalukan, agar aku percaya dan mengakui kamu sebagai ibuku. Kamu mau tahu?"


Dengan kesedihan yang dirasakan wanita tua itu, pada akhirnya Bu Tari menganggukan kepala, " apa itu, ibu akan berusaha melakukannya demi kamu. Agar kamu mau mengakui ibu sebagai ibu kamu. "


Sejenak Gina memikirkan, apa yang harus ia katakan pada Bu Tari.


Sampai, wajah penuh amarah itu menatap pada Bu Tari dengan tatapanya yang begitu amat tajam dan menyeramkan.


"Tolong hidupkan Bu Parida ke dunia ini. "


Permintaan yang tak masuk akal, keluar dari mulut Gina. Dimana Bu Tari menangis sejadi jadinya.


"Gina, mana mungkin. Bu Parida sudah tiada. "


"Aku tak peduli, semua itu karena ulahmu. kenapa bukan kamu saja yang mati, kenapa harus Bu Parida. "


Bu Tari semakin terluka hatinya, ia mencekram dada bidangnya berulang kali, merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa dari kata kata Gina.


"Kalau ibu bisa, ibu akan melakukannya. Tapi semua itu mustahil. "


Mengusap air mata yang sudah basa mengenai kedua pipi, Gina pergi begitu saja. Dimana Bu Tari berusaha memanggil anak semata wayangnya itu.


"Gina tunggu. "


"Gina."


Mendengar suara Bu Tari yang tak putus asa memanggil nama Gina, membuat Gina membalikkan kursi roda agar menghadap pada ibu kandungnya.


"Kenapa Bu Tari, apa saya salah mengatakan hal itu. "


Bu Tari memegang jeruji besi dengan kedua tangannya, ia meminta keringanan atas keinginan Gina.


"Apa tidak ada cara lain, agar kamu dapat mempecai ibu. Jika menghidupkan orang yang mati itu rasanya mustahil dan diluar nalar. "


" Bodoh, kamu harusnya peka. "


Gina pergi dari hadapan Bu Tari, ia berjalan dengan perasaan leganya, membuat aku yang mendengar dan melihat perdebatan itu hanya diam tanpa harus bertanya.


"Alex, Kaira. Sebaiknya kita pulang. "


Bu Tari kini disulitkan dengan kehidupannya, karena banyak kejahatan yang ia perbuat di masa dulu. Dan kini wanita tua itu mendapatkan balasanya sendiri, tampa di duga datang dengan begitu cepatnya.


"Setelah berbicara dengan Bu Tari, hati dan perasaanku lega. Aku sudah buat dia berpikir. "


"Gina, apa yang kamu lakukan itu apa tidak keterlaluan, kasihan Bu Tari yang sudah tua. "


"Sudahlah, Kaira, ngapain kamu kasihan pada Bu Tari. Setelah apa yang sudah ia lakukan pada kita."

__ADS_1


__ADS_2