Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Pengamen


__ADS_3

Seseorang tadi memperhatikan penampilan Kinan dari bawah keatas.


"Direktur Bram sedang sibuk," ucap orang tadi yang kemungkinan adalah asisten pribadi.


Deg


"Ka-kamu gak salah bilang kan. Bram? Direktur?" tanya Kinan memastikan.


"Berani sekali kau menyebut namanya dengan tidak sopan," ucap asisten tadi marah.


Kinan tidak mendengarkan perkataan asisten itu. Hatinya diselimuti ke penasaran, dan ke penasaran itu mendorongnya untuk masuk.


Kinan menyingkirkan asisten itu dari hadapannya. Lalu tanpa membuang waktu dia membuka pintu dihadapannya.


Kinan mematung melihat pemandangan menjijikkan dihadapannya.


"Apa kalian tidak tau malu," teriak Kinan setelah berhasil menguasai dirinya.


"Maaf Tuan, orang ini memaksa masuk," ucap sang asisten.


Dua insan yang sedang berciuman itu menghentikan aksinya.


"Siapa kau? Berani sekali menggangguku," ucap Bram menatap tajam Kinan.


"Sudah kuduga, sifat mu tidak akan pernah berubah," ucap Kinan dengan tatapan jijik.


"Tidak di kampus, tidak di rumah sakit kau selalu melakukan hal menjijikkan ini. Apa kau tidak sadar, seminggu lagi kau akan menikah. Dan sekarang kau malah bermesraan dengan wanita yang tidak tau malu ini. Dasar brengsek," ucap Kinan menahan amarah yang bergejolak dihatinya.


"Apa peduli mu? Ini hidupku. Kau tidak berhak mengaturku," ucap Bram.


"Cih, kau dan kakakmu itu sama saja. Sama sama menjijikkan," ucap Kinan.


"Hey, kenapa kau diam saja. Usir wanita gila ini," titah Bram kepada asistennya.


"Siap bos" ucap asisten.


Asisten menarik paksa tangan Kinan. Kinan mengibaskan tangan asisten itu kasar.


"Jangan pernah menyentuhku," ucap Kinan.

__ADS_1


"Aku akan pergi. Tapi sebelum itu," Kinan men jeda kalimatnya.


Ia menatap mata Bram tajam.


"Kau akan menerima hukuman dariku. Kau akan dipermalukan dihadapan seluruh dunia," ucap Kinan.


"Jangan anggap ini sebagai ancaman kosong," Setelah mengatakan hal itu, Kinan pergi dari rumah sakit Bunga.


Kinan menaiki taksi yang berbaris diluar rumah sakit. Ia menyuruh supir taksi mengantarkannya ke salah satu taman yang sepi pengunjung.


Taman,


Kinan mendudukkan dirinya disalah satu bangku taman. Lalu mengeluarkan ponselnya dari tas miliknya.


Ia menekan sebuah nomor untuk memanggil. Di dering pertama panggilan sudah tersambung.


Kinan terlihat sangat serius dalam berkomunikasi ditelepon.


Dalam 3 menit, Kinan sudah selesai berbicara dengan seseorang diseberang sana. Ia melangkahkan kakinya bermaksud untuk pergi. Tapi sesuatu membuatnya berhenti.


Senyuman mu yang indah bagaikan candu


Ingin trus kulihat walau


Kau disini


Mengobati rindu ruai


Dalam sunyi


Ku sendiri meratapi


Perasaan yang tak jua didengar


Tak kan apa


Bila rasa ini tumbuh sendirinya


Tak berdaya

__ADS_1


Diri bila diantara


Walau itu hanya bayang-bayangmu


Senyuman mu yang indah bagaikan candu


Ingin trus kulihat walau dari jauh


Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku


Yang berkhayal akan bisa bersamamu


Hu hu hu hu


Senyuman mu yang indah bagaikan candu


Ingin trus kulihat walau dari jauh


Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku


Yang berkhayal akan bisa bersamamu


Senyuman mu yang indah bagaikan candu


Ingin trus kulihat walau dari jauh


Sekarang aku pun sadari semua hanya mimpiku


Yang berkhayal akan bisa bersamamu


Dihampiri seribu ragu


Hanya membisu (hu)


Dihampiri seribu ragu


Hanya membisu (hu)


Ku berkhayal

__ADS_1


Kinan bertepuk tangan.


"Apa kamu seorang pengamen?" tanya Kinan kepada seorang gadis yang sedang memegang sebuah kantong.


__ADS_2