
"Aku berhak atas rumah ini. Ini adalah rumah suamiku," ucap Mommy.
"Ayahku bukan suamimu, dasar jalang," teriak Cherry.
"Cherry," bentak Mommy yang kali ini mendaratkan tamparannya di pipi Cherry.
Plak, suaranya sangat keras.
Justin bergerak ingin membentak Mommy, tapi Cherry menghentikannya dengan isyarat tangan.
"Biarkan aku melepaskan segala beban ku dengan ini," ucap Cherry.
Dengan isyarat tangan, Cherry mengusir petugas juga seluruh pelayan yang ada disitu.
Lalu ia beralih menatap Mommy nya.
"Kau menamparku? Seharusnya aku lah yang menamparmu, bukan kau. Tapi jika aku menamparmu, itu sama saja mengotori tanganku yang bersih ini. Tapi pipiku sudah kotor karena tersentuh tangan kotor mu itu," ucap Cherry menatap jijik kearah Mommy.
"Cherry," bentak Mommy dengan wajah yang merah padam menahan amarah.
"Kenapa? Aku sudah tahu segalanya. Ayahku sudah memberitahuku segalanya. Tapi karena permintaan terakhir Ayahku, aku masih berbaik hati kepadamu. Tapi perbuatan mu tidak bisa ku maafkan. Bukan hanya sekali, tapi kau melakukan kesalahan itu berkali kali," bentak Cherry.
Seketika wajah Mommy memucat.
"Kau memilih keluar dari rumah ini dengan baik baik atau aku yang menyeret mu?" Tanya Cherry.
__ADS_1
"Ke-kenapa a-ku ha-rus per-gi? I-ini rumahku," ucap Mommy terbata bata.
Kesabaran Cherry habis, dia menarik tangan Mommy nya. Mommy mendorongnya sehingga kepala Cherry terbentur dinding dengan sangat keras.
Kemarahan Cherry membuatnya tidak merasakan sakit di kepalanya. Ia malah makin bersemangat untuk mengusir Mommy nya.
Dengan kekuatan yang entah datang darimana, Cherry menyeret mommy nya keluar dengan sangat kasar. Lalu ia mencampakkan Mommy nya dijalan.
"Jangan pernah kembali lagi ke rumah ini," ucap Cherry dengan murkanya.
"Aku akan kembali, akan ku pastikan kau menyesali perbuatan mu hari ini. Saat aku kembali, aku akan menjadi malaikat maut mu," ucap Mommy.
"Tapi kejahatan mu tidak akan membiarkan kematian menjemput ku," ucap Cherry.
Setelah itu Cherry masuk diikuti Justin dan Valeri yang sedari tadi mengikuti Cherry.
Justin duduk disebelah kiri Cherry seraya mengelus punggung Cherry, berusaha memberinya kekuatan.
Cherry mendongakkan wajahnya menatap lekat wajah Justin. Detik berikutnya, Cherry sudah memeluk Justin dan Justin membalasnya.
Valeri yang mengerti Justin dan Cherry butuh waktu berdua, pergi ke halaman belakang yang terdapat taman bunga yang luas.
Ia duduk disalah satu kursi panjang sambil menatap bunga bunga indah didepannya.
Tiba tiba dia teringat akan Gilang. Gilang yang dulunya selalu memberikan dia bunga.
__ADS_1
Tangan Valeri bergerak sendiri menghubungi nomor Gilang. Di dering pertama, Gilang langsung mengangkat tangannya. Mungkin Gilang sedang menantikan telepon darinya. Mereka berdua pun mengobrol ngobrol ringan.
***
Disisi lain,
Justin mengelus-elus punggung Cherry memberinya ketenangan.
Setelah Cherry merasa tenang, ia melepaskan diri dari dekapan Justin.
"Maaf atas sikapku tadi," ucap Cherry.
"Tidak apa apa," balas Justin sambil tersenyum manis.
"Maaf gara gara aku, kamu harus meninggalkan pekerjaanmu," sesal Cherry.
"Tidak perlu merasa bersalah, Byan sudah meng-handle semua pekerjaanku," ucap Justin.
Cherry mengangguk.
"Hari ini aku libur, apa kamu mau jalan-jalan bersamaku?" Tanya Justin.
"Jalan-jalan? Sekarang?" Tanya Cherry balik.
"Iya," jawab Justin.
__ADS_1
"Aku mau, aku mau," jawab Cherry dengan bahagia nya.