Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Bom waktu


__ADS_3

2 minggu kemudian.


Kini Valeri sedang berada disalah satu gedung terbesar di Singapura. Ia ingin mengecek segala persiapan di gedung tersebut. Valeri ingin semua persiapan yang dilakukan perfect.


"Sir, Please move the flowers a little to the right," pinta Valeri.(Tuan, tolong bunganya geser sedikit ke kanan)


Orang yang disuruh oleh Valeri mengangguk dan melaksanakan apa yang Valeri pinta.


"Perfect," gumam Valeri puas. (Sempurna)


Lalu Valeri pergi dari panggung dan melihat lihat dekorasi lain. Tidak lupa ia juga menggambar bentuk ruangan tersebut, agar saat acara besok mereka bisa mengatur dimana ruang untuk pengantin masuk.


Ya, pengantin. Besok adalah hari pernikahan Justin and Cherry. Justin memutuskan untuk segera melaksanakan pernikahan mereka, karena ia tidak mau Nyonya Desty membahayakan Cherry. Lebih tepatnya, Justin ingin melindungi Cherry.


Setelah selesai mengecek semuanya, Valeri bermaksud ingin kembali ke perusahaan. Hingga saat matanya melihat gerak gerik seorang pria yang mencurigai.


Valeri menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Valeri sangat tahu siapa pria itu. Pria itu adalah orang yang pernah Valeri lihat bersama Nyonya Desty beberapa bulan lalu.


"Apa yang dia lakukan," gumam Valeri.


Valeri bersembunyi dibalik dinding yang dapat membuatnya bisa melihat apa yang pria itu lakukan dengan jelas.


"Aku yakin tempat ini adalah tempat paling strategis di gedung ini," gumam pria itu yang masih bisa didengar Valeri.


"Dia bisa berbahasa Indonesia," batin Valeri tak percaya.


Beberapa saat kemudian pria itu pergi.


Setelah pria itu jauh, Valeri mendekat ketempat pria itu tadi berdiri.

__ADS_1


Valeri menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan nya, karena terkejut.


"Oh My Good, ini bom waktu," gumam Valeri.


" Disini waktunya diatur 24 jam. Itu artinya besok. Gimana cara matiin bomnya ya? Aku gak tahu apa apa soal beginian," gumam Valeri terlihat frustasi.


Valeri pernah mendengar kalau mematikan bom bisa dari memutuskan kabel. Tapi kalau salah memutuskan, maka bom tersebut akan langsung meledak.


"Gimana ya, aku matiin gak ya? Kalau aku salah motong nanti aku bisa mati. Astaga, Tuhan tolong hamba mu ini. Aku gak mau mati muda," gumam Valeri.


"Kalau aku tinggalin dan pergi cari orang yang bisa matiin bomnya. Bisa bisa nanti aku lupa lagi. Aku gak boleh salah bertindak," Valeri masih saja berperang dengan pikirannya.


"Oh iya," Valeri teringat sebuah ide.


Ia mengeluarkan ponselnya.


"Frans pasti mengerti hal beginian," gumam Valeri.


"Dia pasti akan bingung saat melihat wajahku. Tapi biarlah, yang terpenting saat ini adalah mematikan bom ini," gumam Valeri, lalu ia menekan tombol telepon untuk vidio call.


"Halo," sapa Frans.


"Ha-halo Frans, i-ini aku Va-leri," balas Valeri.


"Valeri? Ini benar kamu?" Tanya Frans.


"Iya, nanti aku ceritakan semuanya. Tapi untuk sekarang bisakah kamu membantuku?" Tanya Valeri.


"Jika aku mampu, aku akan membantumu," jawab Frans.

__ADS_1


Lalu Valeri mengarahkan ponselnya kearah bom itu.


"Bagaimana cara mematikannya?" Tanya Valeri.


"Itu bom? Apakah sekarang kamu dalam bahaya?" Tanya Frans khawatir.


"Aku baik baik saja. Tapi bisakah kamu membantuku?" Tanya Valeri.


Frans mengangguk.


"Ambil sesuatu yang akan bisa memotong kabel," titah Frans.


Valeri melirik kesana-kesini dan mendapati sebuah gunting.


"Potong kabel berwarna merah," ucap Frans.


Valeri berjalan mendekati bom. Dengan tangan bergemetar ia mengangkat kabel berwarna merah.


"A-apakah i-ini?" Tanya Valeri gemetaran.


"Iya," jawab Frans.


Valeri mengangkat tangannya yang ada gunting. lalu saat dia ingin menggunting perasaan takut menghampirinya.


"Apa aku akan baik baik saja, setelah menggunting ini?" Tanya Valeri.


"Bagaimana mungkin aku memberikan petunjuk yang salah kepadamu. Apalagi ini menyangkut nyawamu," ucap Frans.


Masih dengan tangan gemetaran, Valeri menggerakkan tangannya menggunting kabel tersebut.

__ADS_1


Dan.....


__ADS_2