Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Hoek


__ADS_3

Pesanan mereka sudah tiba. Mereka memakan dan meminum apa yang telah mereka pesan.


Tiba tiba...


"Valeri," Panggil seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping meja.


Valeri yang merasa namanya dipanggil segera menoleh.


Betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang ada dihadapannya.


"I-ini benar Valeri?" Tanyanya lagi.


Valeri yang masih dilanda keterkejutan segera mengendalikan dirinya.


"Ehmm. Maaf Tuan, mungkin Anda salah orang," ucap Valeri.


"Tidak, aku tidak mungkin salah mengenalimu," ucapnya.


"Maaf sekali lagi Tuan. Tapi saya bukan Valeri, nama saya Serra," bohong Valeri.


Valeri memberikan kode kepada Justin untuk mengikuti sandiwaranya.


"I-iya Tuan, dia ini adalah Serra, sekretaris saya," ucap Justin.


"Valeri apa kamu tidak mengingatku? Aku Frans," ucap orang itu yang tak lain adalah Frans.


"Frans? Maaf Tuan saya tidak mengenal orang bernama Frans," ucap Valeri lagi.


"Valeri, apa kamu tidak mengingatku atau Devina?" Tanya Frans.


Valeri menggeleng.


"Jika Devina tahu bahwa kamu masih hidup, pasti dia akan sangat bahagia. Pasti dia tidak akan sedih lagi," ucap Frans.

__ADS_1


"Maksudnya?" Tanya Valeri tak paham.


"Lupakan," jawab Frans.


"Tapi apa benar kamu bukan Valeri, sahabatku?" Tanya Frans sekali lagi.


"Aku bukan Valeri," jawab Valeri.


"Oh," Balas Frans sedih.


Setelah pamit, Frans pergi meninggalkan mereka berdua.


"Siapa dia?" Tanya Justin.


"Dia Frans," jawab Valeri.


"Dia siapa mu?" Tanya Justin.


"Seperti yang dia bilang, kami sahabatan. Kami temenan sejak kuliah," jawab Valeri.


"Karena aku tidak mau dia tahu identitas ku yang sebenarnya," jawab Valeri.


"Aku ingin meninggalkan masa laluku," ucap Valeri menunduk.


Entah kenapa kalau membahas masa lalu, Valeri menjadi emosional. Buktinya sekarang matanya sudah berkaca kaca.


"Hey, jangan nangis dong," ucap Justin yang mendengar lirihan suara isakan.


"Udah, aku gak nangis kok," ucap Valeri sok tegar.


Mereka berdua melanjutkan makan siang yang sempat tertunda tadi.


***

__ADS_1


Selesai makan, Valeri membawa Justin mengelilingi kota. Mobil yang kini dikendarai Valeri berhenti didepan taman pusat.


Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke area taman. Yang mereka lakukan hanyalah berkeliling. Memandang pemandangan yang indah bagi mata.


Hoek...


"Justin, kamu kenapa?" Tanya Valeri panik.


Justin memuntahkan isi perutnya. Untung dia memuntahkannya ditempat sepi. Kalau tidak mungkin orang orang sudah ingin muntah karena merasa jijik.


"Astaga Justin, kamu sakit?" Tanya Valeri.


"Gak tahu ni. Perut aku sakit banget," jawab Justin yang kembali memuntahkan isi perutnya.


"Kita ke rumah sakit aja deh kalau gitu," ucap Valeri yang masih dilanda cemas.


"Gak usah," tolak Justin.


"Gak usah gimana? Kalau kamu sakit, ntar Cherry marah marah lagi sama aku," ucap Valeri.


Valeri menarik paksa tangan Justin masuk kedalam mobil. Setelah Justin masuk, ia juga masuk.


Valeri mengendarai mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Diperjalanan, Valeri menelepon seseorang, yang tak lain adalah Byan.


"Halo Byan. Kamu datang ke rumah sakit xx sekarang," titah Valeri lalu mematikan sambungan telepon.


Kini mereka sudah tiba di rumah sakit.


Valeri memapah Justin yang pucat masuk kedalam rumah sakit. Tidak lupa Valeri memakai masker.


"Suster," teriak Valeri.

__ADS_1


Seorang suster yang mendengar teriakan Valeri langsung mengambil tempat tidur dorong dan menyuruh Valeri untuk meletakkan pasien di atas tempat tidur yang sudah dibawah.


Kini beberapa orang sudah mendorong Justin menuju ruang UGD.


__ADS_2