Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Pantai Siloso


__ADS_3

Valeri tercengang mendengar cerita Wiliam. Ia merasa tidak percaya, ternyata selama 6 bulan dia pergi banyak yang terjadi.


Rasa bersalah kini menyelimuti hatinya. Merasakan penyesalan yang teramat dalam.


"Apa yang kamu katakan benar?" Tanya Valeri.


"Iya, Val," jawab Wiliam.


Valeri memegang dadanya yang terasa sesak.


"Ini semua salahku. Aku yang bersalah atas kecelakaan yang terjadi kepada Gilang. Aku juga yang bersalah atas semua penderitaan yang terjadi kepada Ayah Gilang. Semua yang terjadi adalah salahku, hanya salahku. Hiks. Andai saja aku tidak datang ke kehidupan Gilang, ini semua tidak akan terjadi. Mungkin Gilang dan Berlyn sekarang sudah hidup bahagia. Dan segala kejadian ini, tidak akan terjadi," ucap Valeri dengan penuh penyesalan.


"Bu-" ucapan Wiliam terhenti karena melihat kehadiran seseorang.


"Tidak Valeri, ini semua bukan salahmu. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kehadiranmu di hidupku adalah hal yang sangat berharga bagiku," ucap Gilang yang tiba tiba datang.


"Gi-Gilang," tanpa aba aba Valeri langsung memeluk Gilang dengan erat. Gilang juga membalas pelukan Valeri tak kala erat.


"Maaf kan aku," ucap Valeri.

__ADS_1


"Tidak perlu meminta maaf, yang terpenting sekarang kamu sudah kembali," balas Gilang.


"Dan ku harap kamu tidak akan pernah pergi lagi dariku," sambung Gilang.


Tiba tiba saja Valeri melepaskan pelukannya ketika ia teringat bahwa malam ini dia akan lepas landas ke Singapura.


"Ada apa Val?" Tanya Gilang.


"Ta-tapi, malam ini aku harus pergi," jawab Valeri terbata bata.


"Pergi? Kemana?" Tanya Gilang.


Untuk sesaat Gilang terdiam, tapi ia kembali berkata.


"Tidak apa apa, asal kamu akan kembali lagi kesini," ucap Gilang.


Valeri mendongakkan wajahnya.


"Tapi, aku akan lama di sana," ucap Valeri.

__ADS_1


"Seumur hidupku pun aku rela menunggumu," balas Gilang.


"Aku serius Gilang," ucap Valeri menghentikan Gilang dengan ucapan gombalnya.


"Emang berapa lama sih?" Tanya Gilang.


"Kira kira dua bulan," jawab Valeri.


"Dua bulan? Itu hanya jangka waktu yang pendek. Aku bahkan bisa menunggumu selama dua tahun," ucap Gilang.


Valeri tampak berpikir, "Gak rela aku ninggalin Gilang, baru juga baikan masak iya aku pergi. Kalau aku bisa, aku sudah akan membiarkan Justin dan Cherry. Tapi apa boleh buat, Justin adalah temanku. Dia sangat baik dan selalu menolongku dulu. Sekarang pun dia masih mau menolongku dan memberiku pekerjaan. Apa aku harus memilih kebahagian orang lain daripada diriku untuk yang kedua kalinya? Egois! Apa ini julukan yang akan orang orang bilang kepadaku. Ingin rasanya aku tetap disini bersama Gilang. Tapi aku tidak bisa melupakan kebaikan Justin yang telah menyelamatkanku dari maut...."


5 bulan lalu


Sudah sebulan Valeri menetap di Singapura. Ia pergi ke salah satu pantai yang ada di sana untuk sekedar bersantai.


Valeri duduk di atas pepasiran sambil menatap indahnya pemandangan dihadapannya.


Setelah puas memandang, Valeri berjalan masuk kedalam air. Valeri berenang di pantai hingga tanpa terasa dia sudah mencapai batas yang dihimbau kan.

__ADS_1


Valeri berenang ingin kembali ke daratan. Tapi sebuah tanaman air melilit kaki kanannya. Valeri menyelam dan berusaha melepaskan tanaman air itu dari kakinya. Semakin Valeri memberontak, tanaman itu semakin menjeratnya. Tanpa sadar kini Valeri menangis. Bukan karena ia cengeng. Tapi tanaman itu sangat tajam seperti duri. Ia kesakitan, kakinya serasa ditusuk tusuk.


__ADS_2