
Jam sudah menunjukkan pukul 18.05, di salah satu cafe sepasang suami istri dan seorang gadis sedang duduk dan mengobrol.
"Dev, ini Kinan," ucap Frans mengenalkan Kinan.
"Kinan ini istriku, Devina," ucap Frans kembali.
"Sudah tahu," ucap Kinan, tapi ia tetap mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Hay, aku Kinan," sapa Kinan.
"Devina," balas Devina menerima uluran tangan Kinan.
"Kalau sudah tahu kenapa berkenalan?" Tanya Frans.
"Karena kami belum berkenalan secara formal," jawab Kinan.
"Lagian aku yang membuat kalian berdua bisa menikah, masa iya aku gak tahu siapa mempelainya," ucap Kinan.
Devina tersenyum membalas ucapan Kinan, sedangkan Frans terlihat kesal.
"Kinan, terima kasih," ucap Devina.
"Sama-sama," balas Kinan.
"Andai Valeri masih ada, pasti dia orang yang paling bahagia atas pernikahan ini," ucap Devina dengan tatapan sendu.
"Valeri sudah bahagia di atas sana, sayang. Kalau kamu sedih, maka dia akan ikut sedih," ucap Frans menasehati.
"Tapi tetap saja. Valeri pernah berjanji, kalau disaat pernikahanku dia akan hadir. Tapi nyatanya, dia sudah pergi di luan," ucap Devina.
__ADS_1
"Valeri sudah menepati janjinya," gumam Kinan lirih.
"Jangan sedih sayang, kan ada aku. Hidup ini harus dihadapi dengan senyuman," tegur Frans.
Devina hanya membalas perkataan Frans dengan senyuman. Frans juga. membalas senyuman Devina. Mata mereka saling memandang satu sama lain.
"So sweet nya," celetuk Kinan yang membuat Frans dan Devina mengalihkan pandangan dari satu sama lain.
"Ehm..." Frans mencoba mengendalikan diri.
Sedangkan Devina, wajahnya sudah memerah karena malu.
"Dasar pengantin baru, bermesraan tak tahu tempat," gerutu Kinan.
Walau pun mulutnya berkata begitu, tapi tidak dengan hati. Mulut bisa saja berbohong. Tapi hati, dia akan selalu mengatakan sejujur nya.
"Belum," jawab Frans.
"Aku punya dua tiket pesawat untuk ke Paris. Dan aku juga sudah memesan sebuah kamar hotel. Apa kalian mau?" Tanya Kinan.
Mereka berdua terlihat terkejut dan saling bertatapan memikirkan jawaban yang akan mereka berikan kepada Kinan.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan?" Tanya Devina balik.
"Sebenarnya tiket ini sudah ku pesan jauh jauh hari, untuk ku dan calon suami ku. Tapi ternyata pernikahan kami gagal. Lagian kalau tiket ini tidak di pakai kan sayang," ucap Kinan.
Kinan sudah tahu Devina akan menolak tiket itu, jadi ia mencari alasan agar Devina mau menerimanya.
"Kami turut sedih," ujar Frans.
__ADS_1
Kinan mengangguk.
Lalu Kinan mengeluarkan sebuah amplop dari tas nya dan meletakkan di atas meja.
"Ini, mohon diterima ya. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan kalian," ucap Kinan seraya menyodorkan amplop itu.
"Paris ya? Aku jadi ingat dengan Valeri lagi," ucap Devina.
"Kata Valeri dia akan membuat aku dan Frans menikah dan mengirim kami ke Paris untuk honeymoon. Alasannya dia bilang karena ada gembok cinta," ucap Devina dengan tatapan kosong.
"Sudahlah, sayang. Sebaiknya kita pulang dan menyiapkan pakaian untuk ke Paris," ucap Frans.
"Dan pulang nya kalian dari Paris, harus memberiku kabar baik. Supaya aku bisa langsung menggendong keponakanku," ucap Kinan menimpali.
Wajah Devina merona mendengar perkataan Kinan.
"Hey, kenapa wajahmu memerah sayang," goda Frans.
"Sudah, jangan menggoda ku," ucap Devina seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ayo, Frans kita pulang saja," Ucap Devina seraya menarik tangan Frans.
"Tapi Kinan gimana?" Tanya Frans.
"Kami pulang dulu ya Kinan, bye," ucap Devina tanpa melirik Kinan.
Kinan hanya bisa geleng geleng kepala melihat Devina yang masih pemalu.
Selepas kepergian mereka, Kinan juga pergi meninggalkan cafe Rose.
__ADS_1