
Valeri dan tuan Admaja sudah tiba didepan rumah keluarga Admaja. Rumah yang Kinan tinggalkan 6 bulan yang lalu.
"Dulu, aku berpikir, aku tidak akan melihat rumah ini lagi. Tapi ternyata, takdir berkata lain," batin Valeri.
Ada setetes air yang keluar dari ujung matanya.
"Ini rumahku?" Tanya Tuan Admaja merasa tak percaya.
Ada kerinduan yang sangat besar dihatinya untuk rumah dan penghuni didalamnya. Matanya berkaca kaca, saking bahagianya.
"Iya Om, ini rumah Om. Masuk, dan temui lah keluarga, Om" titah Valeri.
Tanpa menunggu lama lagi, tuan Admaja berlari masuk kedalam rumah.
Valeri menatap punggung tuan Admaja yang semakin kecil dipandangannya. Valeri tersenyum melihat kebahagian yang sangat besar yang ada dalam diri Tuan Admaja. Tapi walaupun begitu, hati Valeri merasa sangat merindukan semua yang berkaitan dengan masa lalunya, terutama Gilang.
"Lupakan mereka Valeri, sekarang kamu harus kembali. Sebentar lagi akan ada meeting," gumam Valeri mengingatkan diri sendiri.
Valeri meninggalkan rumah tersebut dengan segudang kerinduan yang mungkin tidak akan pernah ia lepaskan.
Valeri berkeliling kota dengan taksi. Walau tak bisa melampiaskan kerinduan kepada keluarga Admaja, tapi dia bisa melepas kerinduan dengan kotanya ini. Walau itu hanya sebentar.
Pukul 10.25 Valeri pergi menuju hotel xx. Dia langsung pergi ke kamar untuk bersiap dan mengambil berkas untuk meeting.
Valeri, Justin, dan Byan sudah berada di restoran hotel, tempat meeting dilakukan. Mereka datang sepuluh menit lebih cepat.
"Pak Justin, saya permisi ke toilet sebentar," ucap Valeri.
__ADS_1
"Ok, tapi jangan lama lama," balas Justin.
Valeri pergi ke toilet, hanya membutuhkan dua menit untuknya berurusan didalam toilet. Selesai dengan urusannya, Valeri pergi ke restoran.
Ternyata klien mereka sudah tiba. Valeri melangkahkan kakinya mendekat. Tapi alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa kliennya. Valeri kabur dari restoran dan pergi ke kamar hotel. Dia mencari masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Setelah dapat, barulah Valeri kembali ke restoran.
"Maaf, saya telat," ucap Valeri.
"Kok lama banget Ser?" Tanya Justin.
"Nanti kita bahas, Pak," jawab Valeri.
"Baiklah, karena sekarang semua sudah lengkap, mari kita mulai meeting nya," ujar Justin.
Sepanjang meeting, Valeri merasa sangat gugup. Apalagi saat ia berkali kali bertemu pandang dengan sang klien yang adalah, tuan Rahardian, Papi Valeri.
"Senang bekerja sama dengan Anda," ucap Justin seraya menjabat tangan Papi Ricko.
"Semoga kerja sama ini berjalan lancar," balas Papi Ricko.
Setelah Papi Ricko dan asistennya pergi, mereka bertiga kembali ke kamar hotel.
"Val," Panggil Justin disaat Valeri ingin melangkah masuk kedalam kamar.
"Iya," sahut Valeri.
"Aku mau ngomong sesuatu," ucap Justin.
__ADS_1
"Ngomong apa?" Tanya Valeri.
"Sekalian kita jalan jalan," ucap Justin.
"Kemana?" Tanya Valeri.
"Ikut saja," ucap Justin.
Valeri mengikuti langkah Justin yang mengarah menuju basement.
"Ayo, masuk," ajak Justin saat mereka sudah tiba di mobil Justin.
Tanpa banyak tanya Valeri langsung masuk kedalam mobil.
Setelah Justin dan Valeri masuk kedalam mobil, Justin melajukan mobil dengan perlahan meninggalkan basement.
Didalam mobil.
"Ada apa?" Tanya Valeri.
"Kenapa tadi kamu datangnya lama? Trus kamu datang pakai masker?" Tanya Justin to the point.
"Masalah pribadi," jawab Valeri.
"Kamu punya masalah?" Tanya Justin melirik Valeri sekilas.
"Ya, gitu deh," jawab Valeri.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu masalah apa?" Tanya Justin lagi