
Kinan melajukan mobilnya menuju sebuah danau. Danau yang diberi nama danau kenangan.
Kinan duduk di atas rerumputan dipinggir danau. Ia menatap lurus ke depan. Rasanya sakit harus berpura pura tidak peduli terhadap Gilang. Tapi akan menyakitkan lagi kalau dia bersikap pura pura bahagia.
Kinan menghabiskan waktunya di danau kenangan sampai matahari terbenam. Setelahnya dia pergi ke rumah Ibu Sri untuk membersihkan diri. Setelah selesai, barulah dia pergi ke rumah sakit.
***
Waktu yang ditunggu tunggu telah tiba. Segala persiapan sudah dilakukan. Banyak wartawan akan mengabadikan momen membahagiakan ini.
Selama tiga hari belakangan ini Kinan berusaha menghindari Gilang.
Terlihat seorang gadis tengah berada didepan cermin. Dua orang MUA merias gadis itu. Sedangkan gadis yang dirias hanya diam dengan sesekali menumpahkan kesedihannya lewat setetes air.
"Tolong kak, jangan menangis. Nanti riasannya jadi hilang," ucap salah satu MUA.
Gadis itu tidak memperdulikan mereka. Mau riasannya hancur, dia mana peduli. Pernikahan ini adalah kutukan baginya. Dialah Devina Kusuma.
Devina dan Bram sudah ingin mengatakan janji suci. Tapi suara seseorang menghentikannya.
"Berhenti," Ucap orang itu yang tidak lain adalah Kinan.
Kinan memakai jasa perias kostum sehingga orang orang tidak mengenali nya.
__ADS_1
"Maaf menganggu waktu Anda Tuan dan Nyonya-Nyonya," ucap Kinan.
"Siapa kau? Berani sekali mengganggu pernikahanku," ucap Bram kesal.
"Sabar Tuan Bram. Hanya saja saya ingin bertanya satu hal kepada mempelai wanita," ucap Kinan mengalihkan pandangannya kearah Devina.
"Apakah anda melakukan pernikahan ini tanpa paksaan?" Tanya Kinan.
Devina menunduk. Jika boleh jujur dia akan mengatakan tidak. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Nyawa Ibunya lah taruhannya.
Devina mengangguk.
"Saya rasa mempelai wanitanya malu malu untuk bicara," ucap Kinan.
"Security," panggil Bram.
"Berhenti security, tetap di tempatmu," ucap Kinan.
Security itu diam ditempatnya.
"Saya disini akan mengungkapkan sebuah rahasia dari pernikahan ini," ucap Kinan lantang.
Sebuah layar yang ada didepan mereka menampilkan sepucuk kertas surat. Yang Kinan temukan dari kamar Berlyn.
__ADS_1
"Dengan surat ini, pastinya kalian dapat menyimpulkan bahwa nona Devina telah dipaksa. Tapi bagi saya ini bukan pemaksaan melainkan jebakan. Bagaimana bisa saya mengatakan itu?" tanya Kinan dengan senyum manisnya.
"Dokter Nil," panggil Kinan.
Dokter Nil masuk bersama dengan Ibu dan adiknya.
"Kau," Ucap Berlyn dan Bram yang tidak dapat melanjutkan kata katanya.
"Jelaskan Dokter tentang hasil lab dari nyonya Hadiya Kusuma," ucap Kinan.
"Sebenarnya itu adalah hasil palsu. Mereka menyuruhku membuat laporan itu. Dan pada saat aku ingin memberitahukan yang sebenarnya, direktur Bram memecat ku. Ia juga mengurungku bersama keluargaku, di rumahku sendiri," jelas Dokter Nil.
"Lalu dimana Mamaku?" tanya Devina.
Bram menatap Devina tajam.
Bram membisikkan sesuatu ditelinga Devina.
"Mamamu ada bersamaku. Jika ingin nyawa Ibumu selamat, tutup mulutmu," ancam Bram.
"Ma-maksudku semua itu tidak benar," ucap Devina
"Tenang Nona Devina, Ibu Anda baik baik saja. Sekarang Ibu Anda bersama saya. Jadi katakan saja apa yang Anda ingin katakan," bujuk Kinan yang sudah menebak bisikan Bram.
__ADS_1
"Aku, sebenarnya aku...," Devina terlihat kurang yakin dengan perkataan Kinan.
Kinan menepuk tangannya. Seorang wanita paruh baya ditemani seorang gadis dan dua pengawal berjalan memasuki ruangan.