Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Luka


__ADS_3

Valeri menunggu Justin yang sedang diperiksa didalam ruangan UGD.


Pintu UGD terbuka, keluarlah seorang Dokter.


"Permisi Dok, bagaimana keadaan teman saya?" Tanya Valeri.


"Keadaan pasien baik baik saja," jawab Dokter.


"Apa pasien memiliki riwayat alergi?" Tanya Dokter.


"Ya, Justin memiliki alergi terhadap bunga kertas," jawab Valeri.


Sesaat Valeri terdiam, dia mencoba mencerna kata katanya.


"Oh iya, Justin alergi pada bunga aster. Sedangkan di taman ada bunga aster," ucap Valeri menepuk jidatnya. Dia baru sadar bahwa Justin memiliki riwayat alergi.


"Betul sekali Nona, pasien menderita alergi. Itu sebabnya ia muntah sedari tadi," ucap sang Dokter.


"Kalau begitu saya pamit dulu Nona. Pasien akan segera dipindahkan keruang inap," ucap Dokter.


Valeri mengangguk.


Setelah dokter itu pergi dari depan Valeri, Valeri membuka maskernya.


Valeri tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang menatap wajahnya.


***


Justin sudah dipindahkan keruang inap. Byan duduk di sofa yang ada di ruangan itu dengan ponsel ditangannya. Sedangkan Valeri duduk di kursi samping bangsal Justin sambil mengupas buah.


"Bagaimana, apa sudah kamu handle semua?" Tanya Justin Kepada Byan.

__ADS_1


"Sudah bos. Besok bos hanya perlu istirahat, tidak perlu menghawatirkan pekerjaan," jawab Byan.


Justin mengangguk.


"Apa kamu memberitahu Cherry tentang kondisiku?" Tanya Justin, kini ia menatap Valeri.


"Tidak," jawab Valeri.


"Baguslah," balas Justin.


Sebab ia tidak ingin Cherry khawatir dan datang ke Indonesia untuk menjenguknya.


Tok tok tok


"Masuk," ucap Valeri.


Dua orang dokter masuk dengan menggunakan masker. Tapi kali ini dokternya berbeda dengan yang diruang UGD.


Suara ini!


Valeri menatap Dokter itu, berusaha mencari tahu siapa sebenarnya orang dihadapannya ini. Tapi tangannya masih tetap mengupas buah.


"Sore Dok," balas Justin.


"Bagaimana keadaan Anda sekarang?" Tanya Dokter 1.


"Sudah lebih baik dok," jawab Justin.


"Aww," pekik Valeri saat merasakan benda tajam menggores jarinya.


Dokter yang ada dibelakang, ia mendengar suara Valeri. Langsung saja ia menarik tangan Valeri dan menghisap darahnya yang keluar.

__ADS_1


Valeri hanya mematung melihat orang didepannya. Ia teringat kejadian dulu. Kejadian yang sangat indah. Tapi kini menyakitkan baginya.


*Flashback on


Valeri sedang memberikan minum kepada Gilang, yang saat itu sedang sakit. Tapi saat dia ingin meletakkan gelas keatas nakas. Tangannya tersenggol meja, hingga gelas itu jatuh menyentuh lantai dan pecah.


"Ma-maaf, aku gak sengaja," ucap Valeri.


Valeri berjongkok ingin memungut pecahan gelas.


"Biarkan saja Vale, nanti pelayan yang akan membersihkannya," ucap Gilang dengan suara lemahnya.


"Tidak apa apa. Aku yang membuat ini terjatuh. Jadi aku yang harus bertanggung jawab membersihkannya," ucap Valeri keras kepala.


Valeri mengulurkan tangannya dan mengambil pecahan bening itu. Tapi dengan tidak sengaja pecahan itu melukai jari cantik Valeri.


"Aww," pekik Valeri.


Gilang yang mendengar pekikan Valeri langsung bangun dan menarik jarinya yang terluka. Ia menghisap jari itu.


"Sudah kubilang tadi kan. Jangan memungut pecahan itu. Tapi kamu tetap keras kepala. Lihat sekarang hasil keras kepalamu itu. Jarimu terluka," tegur Gilang.


"Tapi ini hanya luka kecil Gilang," ucap Valeri.


"Mau luka kecil atau luka besar. Tetap saja namanya luka," ucap Gilang.


"Luka kecil gini aja kamu permasalahin. Gimana kalau nanti aku terluka parah," Ucap Valeri geleng geleng kepala.


"Shttt, jangan bicara seperti itu," ucap Gilang meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Valeri.


Flashback off*

__ADS_1


__ADS_2