Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Yes, I Will


__ADS_3

Pengawal mengangguk, mereka melakukan perintah bosnya.


"Saya memanggil Tuan Frans untuk maju keatas panggung," ucap Kinan dengan menggunakan mic.


Orang yang dipanggil maju ke depan.


"Lakukan tugasmu," bisik Kinan ditelinga Frans.


Frans menatap Kinan bingung. Pasalnya ia tidak mengenali siapa wanita dihadapannya.


"Aku Kinan. Lakukan tugasmu, dan lamar Devina," bisik Kinan kembali.


Seketika Frans tersenyum mengangguk.


Frans berlutut dihadapan Devina.


"Devina, entah sejak kapan perasaan ini muncul. Perasaan ingin bersamamu, perasaan ingin melihatmu bahagia. Saat kamu sedih, hatiku merasa sakit. Aku ingin mengubah persahabatan kita menjadi sesuatu yang lebih indah. Yang menyatukan kita didalam sebuah hubungan rumah tangga," Frans men jeda kalimatnya, ia menarik nafas dalam dalam sebelum melanjutkannya.


"Devina, Will you merry me?" tanya Frans.


Devina menutup mulutnya saking bahagia. Sebelum menjawab, Devina meminta persetujuan dari Mamanya. Mama Diya mengangguk.


"Yes, I Will," jawab Devina.


Disaat itu Kinan pergi dari ruangan. Lalu mengganti pakaiannya diruang ganti. Setelah itu, ia masuk kembali sebagai Kinan.


"Bagaimana pertunjukannya?" tanya Kinan berbisik kepada Wiliam.


"Astaga, kau mengagetkanku saja," ucap Wiliam.

__ADS_1


"Maaf," balas Kinan.


"Pertunjukan yang sempurna. Aku tidak menduga kau ternyata sangat hebat," puji Wiliam.


"Gilang dimana? Tadi aku lihat dia sangat marah?" tanya Kinan khawatir.


Ya, walaupun dia ingin menghindar dari Gilang. Tapi hatinya tidak bisa dibohongi. Hatinya sangat menghawatirkan keadaan Gilang sekarang.


"Tadi Gilang keluar mengejar si tua bangka sama keluarganya," jawab Wiliam.


"Kenapa tidak kau hentikan?" tanya Kinan.


"Dia tidak bisa dihentikan. Kemarahannya sudah sampai keubun ubun. Aku mendukung tindakannya itu. Bagaimanapun juga keluarga Nilvam harus mendapatkan hukumannya," jawab Wiliam.


Sedangkan dipanggung, kedua pengantin sedang mengatakan janji suci.


Kinan meras bingung antara mengejar Gilang untuk menenangkannya atau melihat pernikahan dua sahabatnya, yang telah ia tunggu selama beberapa tahun belakang ini. Bahkan sebelum ia bertemu Gilang.


"Halo," ucap Kinan setelah panggilan tersambung.


"Maaf mengganggu waktu anda bos. Tapi disini Tuan Gilang membuat keributan," ucap seseorang yang tidak lain adalah anak buah Kinan.


"Baiklah, aku ke sana sekarang. Tolong ulur waktu sebentar," ucap Kinan lalu mematikan sambungan telepon.


"Wiliam," panggil Kinan.


"Iya," sahut Wiliam.


"Aku mau pergi sebentar. Tolong video kan pernikahan Devina dan Frans," pinta Kinan.

__ADS_1


"Tapi," Wiliam tidak melanjutkan perkataannya karena Kinan sudah memotong ucapannya.


"Pleass, aku gak ingin melewatkan acara pernikahan mereka. Tapi aku tidak berdaya," mohon Kinan.


"Baiklah," balas Wiliam mengalah.


"Thanks," ucap Kinan yang berlalu pergi.


Kinan pergi menuju sebuah ruangan tak terpakai dibelakang gedung.


Terlihat Gilang yang mencoba untuk memukul Jodi, tapi beberapa anak buah Kinan berusaha menghalangi. Sehingga anak buah Kinan yang mendapat pukulan Gilang.


"Gilang," panggil Kinan lembut.


Orang yang dipanggil tidak menghiraukan panggilan tersebut. Ia masih asyik dalam kemarahannya.


"Gilang," panggil Kinan kembali.


Masih sama, Gilang tidak merespon.


"Gilang," teriak Kinan yang sukses membuat Gilang berhenti.


"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Gilang masih dengan sorot penuh amarah.


"Kalian semua pergi," usir Kinan kepada para pengawal. Setelah semuanya pergi, kini tinggallah Kinan dan Gilang.


"Apa apaan ini?" Tanya Kinan.


"Kenapa kamu menghentikan ku? Kamu tidak perlu melindungi pendosa itu," ucap Gilang yang terlihat masih marah.

__ADS_1


"Dengarkan aku, ok. Mereka itu akan mendapat karma atas perbuatannya. Biarkan Tuhan yang membalas mereka," ucap Kinan.


__ADS_2