
"Hufs..." Valeri bernafas lega karena akhirnya bom tersebut berhenti.
"Thanks," ucap Valeri kepada Frans.
"You're welcome," balas Frans.
"Sudah dulu ya Frans, nanti aku telepon lagi," ucap Valeri.
Setelah mendapatkan anggukan dari Frans, Valeri memutuskan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Preno," panggil Valeri kepada salah satu pengawalnya.
"Iya, bos"
"Preno, suruh beberapa orang kita untuk menyamar menjadi pelayan dan mengamati setiap gerak gerik para pelayan. Dan satu lagi, beli bom mainan yang terlihat seperti bom waktu sungguhan, seperti bom itu," titah Valeri seraya menunjuk bom tersebut.
"Baik, bos," balas Preno tanpa berani bertanya.
"Setelah kamu membelinya tukar bom mainan itu dengan bom yang ada disitu. Sebelum kamu kembali, suruh beberapa orang untuk menjaga disini, tapi jangan sampai ada yang curiga," ucap Valeri yang hanya dibalas dengan kata penurutan dari Preno.
Setelah itu barulah akhirnya Valeri pergi.
***
Keesokan harinya
Pernikahan akan segera dimulai. Para tamu sudah mulai berdatangan. Dan para penjaga sudah siap diposisi masing masing untuk mengamankan gedung tersebut.
Valeri berada diruang monitor untuk mengawasi semua tamu dalam jarak jauh. Dibelakang Valeri berdiri Preno dan di sampingnya ada Gilang yang menemani nya.
__ADS_1
Mata Valeri terus mengamati layar komputer di depannya, yang berisikan CCTV.
"Preno, lihat lah wanita ini," ucap Valeri seraya menunjuk layar komputer dimana seorang wanita yang sedang berada di pintu masuk.
Preno melihat ke komputer.
"Apa kamu mengenal wanita ini?"
"Tidak, bos" jawab Preno.
"Aku tidak pernah melihat wanita ini. Dan wanita ini tidak masuk kedalam daftar tamu yang hadir," ucap Valeri.
"Apa kamu mencurigainya?" Tanya Gilang.
"Entahlah Gil, wanita ini bisa saja menggantikan keluarganya yang tak bisa hadir. Dan dia bisa juga suruhan oleh Nyonya Desty," ucap Valeri.
"Jadi kita harus gimana?" Tanya Gilang.
"Iya, bos" sahut Preno.
"Hubungi bagian penerima tamu. Tanya kepada mereka, wanita ini masuk dengan undangan milik siapa," titah Valeri.
"Baik, bos" balas Preno yang langsung menjalankan perintah bos nya.
"Gilang, sebaiknya kamu turun temani Justin," ucap Valeri.
"Kenapa?" Tanya Gilang.
"Barang kali Justin gugup dan butuh dukungan dari kamu. Dan untuk pelajaran bagi kamu saat kita nikah nanti," jawab Valeri.
__ADS_1
"Baiklah, honey" ucap Gilang.
Sebelum pergi Gilang mencium pipi Valeri sekilas.
Valeri tersenyum bahagia sambil menatap punggung Gilang yang semakin menjauh. Tidak lupa ia juga memegang pipinya, dimana tadi bibir Gilang mendarat.
"Bos," panggil Preno.
"Iya, No" balas Valeri.
"Wanita itu datang membawa undangan Nyonya Parny," ucap Preno.
"Ok, baiklah" balas Valeri.
Valeri mengambil tas nya yang berada di atas meja dan mengeluarkan ponselnya.
"No, apa kamu sudah melakukan tugas yang ku perintahkan kemarin?" Tanya Valeri.
"Sudah, bos" jawab Preno.
"Dan satu lagi, suruh seseorang untuk mengawasi wanita itu," titah Valeri.
"Baik, bos" balas Preno.
Valeri menghubungi Nyonya Parny yang adalah rekan bisnisnya.
"Hay Mr. Parny, Good morning," sapa Valeri.
"Good morning Miss Valeri," balas Nyonya Parny.
__ADS_1
"Mrs. Parny, did you send someone to come in your stead for Mr. Justin's wedding?" Tanya Valeri. (Nyonya Parny, apakah Anda mengirim seseorang untuk datang menggantikan Anda ke pernikahan Tuan Justin?)
"No, Miss" jawab Nyonya Parny. (Tidak, Nona)