
Setelah mendengar janji Valeri, Gilang mencium lama kening Valeri. Perasaan nya tidak enak untuk meninggalkan Valeri. Tapi dia akan tetap mempercayai janji Valeri.
Valeri merasakan kehangatan yang diberikan oleh ciuman Gilang. Tanpa terasa air matanya jauh mengingat sesuatu yang dia prediksikan akan terjadi. Segera Valeri menghapus air matanya agar tidak dilihat oleh Gilang.
Setelah Gilang menjauhkan bibirnya dari kening Valeri, segera Valeri memeluk Gilang dengan erat. Tanpa bisa diduga olehnya, mata nya kembali mengeluarkan air yang deras.
"Ada apa?" Tanya Gilang.
"Maafkan aku jika nanti aku tidak dapat menepati janjiku. Maafkan aku jika nanti aku meninggalkanmu," jawab Valeri menangis dalam hati.
"Tidak ada," jawab Valeri seraya menggeleng geleng kan kepalanya.
Sebelum melepaskan pelukan eratnya, Valeri menghapus air matanya.
"Aku ingin kamu berjanji juga," Valeri menarik nafasnya dalam dalam. Seolah olah yang akan dia ucapkan sangat berat.
"Katakanlah apa yang kamu ingin aku janjikan," ucap Gilang.
"Berjanjilah bahwa kamu akan selalu tersenyum dalam kondisi apapun," ucap Valeri.
"Itu saja, baiklah. Aku berjanji, dalam kondisi apapun aku akan selalu tersenyum," ucap Gilang.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu pergi sana," ucap Valeri tersenyum paksa seraya mendorong pelan Gilang.
"Baiklah, honey" balas Gilang yang pergi menjauh.
Valeri menatap punggung Gilang yang menjauh. Seolah olah itu adalah yang terakhir baginya melihat Gilang.
"Maafkan aku," gumam Valeri yang kembali menangis.
Setelah itu ia kembali menghapus air matanya.
Valeri turun dari panggung untuk menenangkan tamu tamu.
"Please pay attention to everyone, please don't panic," ucap Valeri menggunakan mic. (Mohon perhatiaan nya semua, tolong jangan panik)
"Go into each room and hide, don't forget to lock all of your rooms," ucap Valeri. (Masuklah kedalam kamar masing masing dan bersembunyi lah, jangan lupa mengunci kamar Anda semua)
Para tamu segera pergi meninggalkan lokasi menuju kamar yang telah Valeri suruh. Kini hanya ada Valeri di ruangan itu dengan beberapa pengawal.
"Suruh pemimpin kalian masuk," ucap Valeri yang membuat perkelahian antara pengawal dan pemberontak berhenti.
Seseorang yang sangat Valeri kenal masuk kedalam ruangan tersebut. Ia adalah Jodi Nilvam.
__ADS_1
"Sudah kuduga pasti Anda adalah dalang dari semua masalah ini," ucap Valeri.
"Ternyata sia sia aku memberikan Anda dan keluarga kesempatan untuk berubah," ucap Valeri.
"Itu salahmu karena mengampuniku dan keluargaku," ucap Jodi.
"Apa yang kau mau?" Tanya Valeri.
"Balas dendam. Aku menginginkan nyawamu untuk ku habisi. Dan siapapun yang menghalangi ku, akan ku bunuh," jawab Jodi.
"Aku sudah menduganya," gumam Valeri dalam hati.
Ternyata yang ia prediksikan benar. Dan itulah alasannya menyuruh Gilang pergi. Valeri tidak mau Gilang menjadi korban dalam balas dendam Jodi Nilvam.
"Kalau kau mau membunuhku, silahkan" ucap Valeri yang sudah pasrah akan takdirnya.
Jodi tersenyum jahat.
"Ternyata kau mudah sekali untuk menyerah," ucap Jodi seraya mengeluarkan pistol dari balik saku kemejanya.
"Dimana aku harus menembak mu. Apakah disini(kening), atau langsung di jantungmu. Tidak keduanya, aku ingin kamu menderita sebelum meninggal. jadi terimalah ini,"
__ADS_1
Dor
Valeri memegang perutnya yang mengeluarkan banyak darah dengan kedua tangannya. Tiba tiba saja kaki Valeri lemas, sehingga ia jatuh kelantai.