
"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya ditinggal seseorang yang sangat dicintai," ucap Gilang yang kini berubah menjadi sedih.
Reflek Kinan memeluk Gilang dan mengusap punggungnya memberi ketenangan.
"Mungkin aku memang tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi satu hal yang kutahu, orang yang kamu sayangi itu tidak akan suka melihatmu seperti ini. Dia akan merasa sedih jika kamu sedih," ucap Kinan memberi pengertian.
Kinan melepaskan pelukannya. Kondisi Gilang juga terlihat sudah mulai tenang.
"Ayo, kita kembali," ajak Kinan.
Gilang mengangguk.
***
Malam hari
Kinan sedang berbaring di atas ranjang miliknya. Ia melihat layar ponselnya yang berisikan video pernikahan Frans dan Devina.
Melihat dua pengantin, membuatnya membayangkan pernikahannya dengan Gilang. Pernikahan yang sudah ia tunggu tunggu, tapi sayangnya pernikahan itu tidak terjadi.
"Andai kecelakaan itu tidak terjadi. Mungkin sekarang aku sudah bahagia bersama Gilang," gumam Kinan.
"Hey Kinan, jangan berpikir seperti itu. Gilang sudah menemukan cintanya sekarang. Jadi kamu tidak boleh berharap untuk memilikinya. Jangan merusak kebahagiaannya," ucap Kinan memperingati dirinya sendiri.
__ADS_1
Kinan memutuskan untuk tidur, agar pikirannya berhenti membayangkan Gilang.
***
"Siksa dia, tapi jangan sampai dia tiada. Aku tidak ingin dia membongkar rahasiaku. Kalau rahasiaku terbongkar, maka semua rencana ku akan gagal. Perjuanganku selama bertahun tahun ini akan gagal," ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Berlyn.
"Siap bos. Semua akan berjalan sesuai yang anda inginkan," ucap seseorang yang diyakini adalah anak buah Berlyn.
"Aku harus mendapatkan perusahaan Admaja. Melalui dirinya akan ku buat perusahaan Admaja jatuh ke tanganku. Semua aset keluarga Admaja akan jatuh ke tanganku. Harta keluarga Nilvam akan bertambah 4 kali lipat," ucap Berlyn yang diikuti tawanya. Tawa yang terdengar sangat menyeramkan.
Prang
Terdengar suara guci pecah. Seseorang yang dari tadi menguping, tidak sengaja menjatuhkan guci. Dialah Valeri Selen Rahardian.
***
Ternyata dia tadi sedang bermimpi. Mimpi yang menjadi bagian masa lalunya.
Kinan terbangun dengan berkeringat dingin. Jantungnya berdegup sangat kencang. Perasaannya sama seperti saat dia memergoki Berlyn yang sedang membahas sebuah rencana jahat.
"Kenapa aku harus bermimpi begini? Sudahlah Kinan, sebaiknya kau melanjutkan pekerjaanmu," ucap Kinan menasehati dirinya sendiri.
Kinan pergi ke dapur, ia membuat teh untuk Ibu Sri. Lalu Kinan memasak sarapan. Setelah selesai, barulah Kinan membersihkan diri.
__ADS_1
"Pagi, Bu" sapa Kinan kepada Ibu Sri yang sedang menikmati teh buatan Kinan di teras rumah.
"Pagi, Kinan" balas Ibu Sri.
"Bu, Kinan pergi dulu ya," pamit Kinan.
"Kemana nak?" Tanya Ibu Sri.
"Mengurus keluarga Nilvam," jawab Kinan.
"Hati hati, nak. Jangan terlalu menyiksa mereka," ucap Ibu Sri.
"Ibu tenang saja. Aku tidak akan terlalu menyiksa mereka. Bagaimanapun juga aku masih memiliki hati nurani," ucap Kinan.
***
Kinan tiba disebuah gedung kosong. Gedung yang dulunya adalah sebuah pabrik. Pabrik itu dulunya terbakar sehingga membuat beberapa orang didalamnya menjadi korban.
Kinan masuk kedalam gedung. Tapi sebelum dia ke sana, dia mengubah wajahnya. Menjadi seperti kemarin, saat di pesta.
Kinan memasuki sebuah ruangan yang didalamnya terdapat beberapa orang bertubuh kekar juga keluarga Nilvam yang diikat.
"Selamat pagi," sapa Kinan.
__ADS_1
Mereka bertiga hanya diam dengan mata tajamnya.
"Siapa kau? Beraninya kau menyandra kami. Kau tidak tahu siapa kami," ucap Jodi Nilvam.