
Tapi yang ia lihat sangat mengejutkan. Pembantu barunya berhasil mengusir Berlyn. Tapi anehnya, Kinan memegang kepala kesakitan. Dan hal itu membuatnya merasa cemas.
Setelah Berlyn pergi, Gilang keluar mobil dan mencari keberadaan Kinan. Sampai akhirnya, Mama Desi mengatakan bahwa Kinan pergi kearah gudang dengan memegang kepalanya.
Sesampainya Gilang di gudang, ia mendapati Kinan yang pingsan dipojok ruangan.
Dan dengan cepat, Gilang menggendong Kinan menuju rumah sakit.
Setelah diperiksa Dokter, barulah Gilang tahu bahwa Kinan memegang kepalanya karena ada sesuatu yang membuatnya mengingat masa lalunya. Dan lebih parahnya sesuatu itu adalah Berlyn.
Kedua, Gilang pulang ke rumah karena ada berkas yang ketinggalan. Ketika masuk kedalam ruang kerja, Gilang malah melihat Kinan yang tidak sadarkan diri dengan sebuah bingkai ditangannya. Gilang menggendong Kinan menuju kamar tamu dengan cemas. Gilang juga menyuruh asistennya untuk menggantikan ia rapat.
Tidak berapa lama, Dokter keluarga yang dihubungi Gilang tadi datang.
"Va-" Dokter yang bernama Wiliam itu tampak terkejut melihat Kinan.
"Ada apa Wil?" tanya Gilang.
"Tidak ada," jawab Dokter Wiliam berusaha menenangkan dirinya dari keterkejutan.
Setelah selesai memeriksa, Dokter Wiliam memberikan resep obat.
"Ini adalah resep obat yang harus ditebus," ucap Dokter Wiliam.
"Tapi Wil, tadi kami baru saja pergi ke rumah sakit. Dan dokter sudah memberikan obatnya. Apa tidak bermasalah minum dua obat?" tanya Gilang.
"Jangan minum obat yang dari rumah sakit. Gunakan saja resep ini " jawab Dokter Wiliam.
"Thanks, Wil," ucap Gilang.
"Sama sama, bro," balas Wiliam.
"Jaga dia baik baik. Jangan melukainya. Jika kau melukainya, suatu saat nanti kau pasti akan menyesal" pesan Wiliam.
"Gue pulang ya, bye" ucap Wiliam pergi dari kamar itu.
***
Sore hari
Kinan bangun dari tidurnya. Ia melirik jam yang menunjukkan pukul 17.05. Kinan menurunkan kakinya dari ranjang. Lalu pergi ke wastafel dikamar mandi untuk mencuci mukanya.
Setelah selesai mencuci muka, Kinan pergi keluar kamar menuju kamar yang akan ia tempati selama seminggu ini. Kinan mengambil baju dan masuk kedalam kamar mandi.
20 menit kemudian, Kinan sudah rapi. Kinan pergi keruangan untuk menyetrika.
Tetapi didalam ruangan sudah ada seseorang.
Karena bosan, Kinan memutuskan untuk pergi keluar. Mungkin ia akan menyiram tanaman.
__ADS_1
Kinan melewati ruang keluarga yang ternyata ada Mama Desi dan Sepia di sana.
"Kak Kinan," panggil Sepia yang tidak sengaja melihat Kinan.
"Iya," sahut Kinan.
"Sini duduk," ajak Sepia.
Kinan mengangguk, lalu duduk di samping Sepia.
"Kakak sudah baikan?" tanya Sepia.
"Sudah mendingan," jawab Kinan tersenyum.
"Maaf atas sikapku tadi," ucap Kinan merasa bersalah.
"Tidak apa nak. Mungkin kamu hanya mimpi buruk atau trauma sama sesuatu," ucap Mama Desi memaklumi.
"Ma, albumnya mana?" tanya Sepia.
Mama Desi berjalan ke lemari lalu mengambil sebuah album tebal, dan berjalan kembali.
"Ini," jawab Mama Desi.
"Album apa itu nyonya?" tanya Kinan penasaran.
Kinan tersenyum kecil.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Kinan.
"Boleh," jawab Sepia senang.
Di lembaran pertama. Tampak sebuah foto Valeri dan Gilang berlatarkan taman. Kinan ingat, itu adalah pertemuan pertama mereka. Disaat itu mereka bertengkar memperebutkan payung yang mereka akui adalah payung masing masing. Sampai akhirnya payung itu dimenangkan oleh Valeri. Sampai di rumah, Valeri sadar kalau payung itu bukan miliknya. Di payung miliknya ada sebuah sticker kupu kupu.
Lalu lembar kedua, terdapat foto makan malam antara dua keluarga disalah satu restoran terkenal. Itu adalah keluarga Valeri dan Gilang. Ternyata orang tua mereka adalah sahabat. Orang tua keduanya berinisiatif untuk menjodohkan keduanya.
Valeri ingat saat itu dia izin ke toilet. Dan saat kembali, dia hanya menemukan Gilang dimeja.
"Dimana semua orang?" tanya Valeri bingung.
"Semuanya sudah pulang," jawab Gilang santai.
"Papi dan Mami pulang? Aku ditinggal. Aku gak bawa mobil lagi. Besok harus kuliah pagi. Gimana nih?" gumam Valeri sedikit kesal dicampur panik.
Valeri yang asyik dengan pikirannya, terkejut melihat Gilang yang beranjak dari duduknya.
"Om dan tante Rahardian menitip mu kepadaku," ucap Gilang.
"Mimpi! Mami dan Papi gak mungkin menitipkan ku sama orang yang gak bertanggung jawab," ucap Valeri yang berlalu pergi keluar restoran berusaha mencari taksi.
__ADS_1
5 menit
10 menit
15 menit
Kaki Valeri sudah pegal karena terus berdiri. Tidak ada taksi yang lewat.
"Kamu yakin gak ikut pulang?" tanya Gilang yang entah sejak kapan ada dibelakang Valeri.
Valeri diam, ia masih sibuk mencari taksi.
"Baiklah aku akan pergi," ucap Gilang.
Tepat saat Gilang menyelesaikan kalimatnya, ponsel Valeri berdering.
Valeri mengangkat telponnya.
"Mami, kenapa tinggalin Valeri? Valeri kan gak tahu pulangnya gimana. Disini gak ada taksi lewat. Kalau Valeri jalan kaki terus tersesat gimana? Atau nanti kalau ada orang yang ganggu Valeri, Mami mau dimarahi Papi?" Valeri langsung menyerbu Maminya dengan banyak kalimat pertanyaan.
"Va-" belum sempat Mami menyelesaikan katanya, Valeri sudah bicara kembali.
"Mami gak tahu apa? Besok Valeri harus kuliah pagi. Dosennya itu galak. Kalau Valeri terlambat satu detik saja, pasti dosen akan marah marah. Dan lebih parahnya lagi, Valeri akan disuruh keluar ruangan. Kalau gitukan Valeri jadi gak bisa nerima mata kuliah. Jadi untuk apa Valeri kuliah kalau gitu? Itu sama saja dengan buang buang uang," cerocos Valeri.
"Valeri kamu dengar Mami dulu," ucap Mami.
Setelah merasa Valeri tidak akan bicara, Mami melanjutkan ucapannya.
" Mami dan Papi dapat telepon dari perusahaan. Kalau Papi harus melakukan perjalan bisnis ke Jepang malam ini juga. Mami juga ikut sama Papi. Kamu jaga diri kamu baik baik. Pulanglah bersama nak Gilang," ucap Mami.
"Ta-" belum sempat Valeri menolak, Mami sudah lebih dulu mematikan sambungan.
"Dasar Mami suka banget maksa Valeri," gumam Valeri kesal.
"Hey, aku ikut," ucap Valeri yang melihat mesin mobil Gilang menyala.
"Sana aku gak terima penumpang," usir Gilang.
"Kalau gak karena Mami dan Papi gak akan mau aku semobil dengan orang yang gak bertanggung jawab," ucap Valeri ketus.
"Ya sudah, jangan naik kedalam mobilku," ucap Gilang.
" Aku telpon Mami ya. Aku bilang kalau kamu gak izinin aku nebeng. Biar Mami nanti lapor ke Tante Desi, terus kamu dimarahi deh," ancam Valeri.
"Gak takut," ucap Gilang.
Valeri menelpon Mami, tapi tidak diangkat. Lalu ia menelpon Papinya, sama saja. Papinya juga tidak mengangkat.
"Apa mereka sudah di pesawat ya?" gumam Valeri.
__ADS_1