
Di tengah tengah acara, di salah satu sudut ruangan. Seorang wanita sedang memegang perutnya dengan mengerang kesakitan.
"Ah..." teriaknya kesakitan.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya suami wanita itu, Frans.
"Ah... sakit. Perut aku sakit," keluh Devina.
"Aduh, gimana ini? Apa perutnya sakit banget?" Tanya Frans yang memang tak berpengalaman.
"Pak, mungkin istrinya mau lahiran," ucap salah seorang wanita yang melihat kejadian itu.
"Tapi kata Dokter lahirannya masih beberapa hari lagi, Bu" balas Frans.
"Astaga Dev, kamu kenapa?" Tanya Valeri yang baru datang bersama Gilang.
"Kayaknya dia mau lahiran, Bu" jawab wanita itu lagi.
"Frans kamu bawa saja Devina ke rumah sakit," ucap Gilang.
"Gak bisa, Devina gak akan kuat di perjalanan. Suruh saja Dokter yang datang kemari dengan peralatan bersalin," ucap Valeri saat melihat kondisi Devina.
Dengan cepat Frans menghubungi Dokter kandungan dan menyuruhnya datang dengan alat alat persalinan.
"Justin kamu tolong pesankan satu kamar untuk prosesi salinan Devina," titah Valeri kepada Justin yang ada di samping Cherry.
"Baik," balas Justin menurut.
__ADS_1
Justin yakin apapun yang dilakukan dan dikatakan Valeri sudah ia pikirkan dengan matang. Dan untuk tujuan yang baik bagi kita semua.
"Apa ada lagi yang harus kulakukan?" Tanya Frans.
"Tolong panggil Wiliam. Dia lebih mengerti tentang dasar media, daripada diriku" jawab Valeri.
"Devina, kamu tarik nafas dan buang. Lakukan dengan baik," ucap Valeri kepada Devina.
"Tarik dan buang," ucap Valeri lagi kepada Devina seraya memperagakannya.
"Val, semua kamar sudah penuh," ucap Justin yang baru datang.
"Penuh?" Valeri bertanya dengan kening berkerut.
Justin mengangguk.
"Sabar, Val" ucap Gilang mengelus punggung istrinya yang dilanda kekesalan itu.
Dia tidak bisa melakukan apa apa. Karena pengetahuannya ialah mengelola perusahaan bukan menangani seorang wanita hamil.
Valeri menarik nafas dan membuangnya. Ia melakukan nya berkali kali sampai nafasnya teratur.
Tiba tiba sebuah ide terlintas di pikiran Valeri.
Hanya kamar itu satu satunya yang bisa digunakan. Tapi akan terasa aneh jika digunakan untuk proses persalinan.
Batin Valeri.
__ADS_1
Tapi ini darurat!!!
Batin Lidya kembali.
"Berikan jalan," suara Frans yang terdengar terburu buru.
Frans datang bersama Wiliam yang dengan segera mengeluarkan stetoskop dari tas yang dia bawa.
Kemana pun dia pergi, Wiliam selalu membawa stetoskop juga kotak P3K. Untuk jaga jaga jika ada kondisi darurat.
Wiliam meletakkan stetoskopnya di atas perut Devina.
"Devina akan segera lahiran," ucap Wiliam.
"Apa kondisinya memungkinkan untuk melakukan persalinan normal?" Tanya Valeri.
"Ya," jawab Wiliam.
"Tapi maaf aku tidak bisa membantu proses lahirannya. Aku bukan Dokter Obgyn yang mengetahui bagaimana caranya membantu seseorang melahirkan," ucap Wiliam jujur.
"Tidak masalah, kami sudah memanggil Dokter untuk membantu Devina melakukan persalinan," balas Valeri.
"Tunggu apa lagi? Cepat bawa Devina ke kamar. Dia akan merasa lebih nyaman jika berbaring," ucap Wiliam.
"Tapi kamar di hotel ini sudah penuh semua," sahut Justin.
Tadi Justin sempat mengatakan pada resepsionis, bahwa jika ada pengunjung yang check out segera beritahu dia. Justin jika memberikan nomor kerjanya yang dipegang Byan kepada resepsionis. Dan yang pasti, Byan akan langsung memberitahunya jika resepsionis menelepon.
__ADS_1
"Ada satu kamar," ucap Valeri tiba tiba.