
"Dia bukan kekasihku, Val," elak Gilang.
"Oh ya, lalu siapa dia?" Tanya Valeri.
"Harusnya aku yang bertanya, siapa Justin?" Tanya Gilang.
"Justin siapaku, itu bukan urusanmu," jawab Valeri.
"Itu urusanku, Val," ucap Gilang.
"Tidak Gilang, itu bukan urusanmu. Kau tidak punya hubungan apa apa denganku," ucap Valeri.
"Aku punya, Val. Kamu adalah calon istriku," ucap Gilang.
"Salah, aku hanyalah mantan calon istrimu," ucap Valeri.
"Dan ingat satu hal. Aku bukan Valeri yang dulu. Aku adalah Valeri yang berbeda," ucap Valeri.
Valeri melangkahkan kakinya ingin keluar, tapi baru saja ia menyentuh pintu. Suara Gilang berhasil membuatnya berhenti.
"Bukankah selama ini, kamu selalu merindukanku?" Tanya Gilang.
Deg!
Valeri memejamkan matanya berusaha menahan segala gejolak yang ada dalam dirinya. Menahan segala rasa yang sulit untuk diungkapkan.
"Papa sudah memberitahukan semuanya kepadaku," ucap Gilang.
__ADS_1
"Kenapa diam, Val? Apa yang kukatakan benar?" Tanya Gilang yang mulai mendekat.
"Jawab Val," desak Gilang yang kini sudah berada tepat dibelakangnya.
Gilang memutar tubuh Valeri agar menghadap kepadanya.
"Jawab aku Val," pinta Gilang.
Valeri yang sedari tadi menahan air matanya untuk jatuh, kini tidak bisa lagi. Air bening itu jatuh bercucuran tanpa diminta. Valeri kini sudah terduduk dengan cairan kristal yang mengalir di pipinya.
"Iya, selama ini aku selalu merindukanmu. Tidak ada sedetik pun dimana aku tidak merindukanmu. Dimana mana hanya ada dirimu. Aku pergi untuk melupakanmu. Tapi hati (menunjuk dadanya) dan pikiran ini (menunjuk kepalanya) tidak mau melepaskan mu. Aku benci hati dan pikiran ini, aku benci diriku sendiri," ucap Valeri semakin terisak.
"Jangan nangis, Vale," ucap Gilang seraya memeluk Valeri.
"Ini semua salahku. Aku yang salah, aku yang tidak bisa menjagamu. Aku yang terlalu ceroboh sehingga kecelakaan itu terjadi. Semua yang terjadi adalah salahku, hiks hiks hiks," ucap Valeri.
"Ini bukan salahmu," ucap Gilang.
Valeri tertidur didalam dekapan Gilang, walau dia masih sesegukan akibat menangis tadi.
Gilang mengangkat tubuh Valeri dan meletakkannya di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
Gilang membuka pintu dan mempersilahkan seseorang yang berdiri di sana untuk masuk.
"Masuklah," ucapnya.
"Valeri tidur?" Tanya Wiliam yang melihat Valeri tertidur.
__ADS_1
"Iya, dia habis nangis," jawab Gilang.
"Gimana hubungan kalian jadinya?" Tanya Wiliam.
"Entahlah, gue juga gak tahu. Valeri salah paham samaku. Dia pikir Tiara itu pacarku," Jawab Gilang.
"Tiara yang sekampus sama kita dulu?" Tanya Wiliam.
"Iya," jawab Gilang.
"Kok bisa dia berpikir gitu ya?" Tanya Wiliam.
"Mungkin dia baca artikel yang lalu lalu itu. Soal fotoku dan Tiara yang sedang berpelukan," jawab Gilang.
"Ya, elo sih. Ngapain pakai peluk peluk segala l," ucap Wiliam.
"Bukan gitu ceritanya. Waktu itu dia hampir kepeleset, terus gue tolongin dong. Entah entah nya dia malah meluk gue," jelas Gilang.
"Dasar ya sih Tiara, gak berubah juga. Masih aja terobsesi sama lo," ucap Wiliam.
Gilang hanya mengangguk menyetujui ucapan Wiliam.
"Gue punya solusi, Gil," ucap Wiliam.
"Solusi apa?" Tanya Gilang.
"Solusi untuk masalah lo," jawab Wiliam.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Gilang antusias.
"Gimana kalau gue yang bicara sama Valeri. Sejarah kan dia waktu jadi Kinan, gue yang paling dekat sama dia. Jadi, mana tahu dia mau dengerin gue," saran Wiliam.