
"Ini, Mami belikan kamu ponsel. Ingat untuk menghubungi Mami" ucap Mami seraya menyodorkan sebuah paper bag.
"Tapi Mi," Kinan ingin menolak.
"Tidak ada tapi tapi. Kalau kamu menolak maka Mami gak akan izinin kamu tinggal disini sebagai pembantu," ancam Mami.
"Ok ok Mi," ucap Kinan pasrah.
"Begitu dong. Kalau kamu nurut kan Mami jadi senang," balas Mami.
"Udah, Mami pergi sana. Nanti mereka curiga karena kita ngobrolnya lama," ucap Kinan.
"Baiklah Mami pergi, jaga dirimu baik baik ya," ucap Mami.
"Mami juga," balas Kinan.
Mami berlalu pergi meninggalkan Kinan dengan sebuah paper bag ditangannya.
Kinan keluar dari ruangan dan masuk kedalam kamarnya. Ia meletakkan paper bag di atas meja nakas lalu kembali keruang tamu.
Ternyata Papi dan Maminya sudah pamit mau pulang.
Sebelum keluar dari rumah, Mami melemparkan senyum manisnya kepada Kinan. Kinan dengan senang hati membalas senyuman itu.
Kinan mengikuti Mama Desi dan Sepia yang mengantar Papi dan Mami sampai keluar rumah.
Tapi sebuah mobil masuk kedalam halaman membuat tubuh Kinan bergetar hebat karena ketakutan.
"Ah...," teriak Kinan histeris.
Mendengar teriakan Kinan, sontak semua orang melihat kearahnya. Mami sampai berlari mendekati Kinan.
"Di-dia u-usir dia," ucap Kinan seraya menunjuk mobil yang masuk halaman.
"Kamu kenapa nak?" tanya Mami cemas.
"Di-dia Usir," ucap Kinan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
"Kinan, bangun nak," ucap Mami seraya menepuk pelan pipi Kinan.
"Pi ayo, bawa Kinan ke rumah sakit," ucap Mami panik kepada Papi.
Dengan sigap Papi menggendong Kinan dan membawanya ke rumah sakit.
Dua orang keluar dari dalam mobil. Ia adalah Gilang dan Berlyn. Mobil yang mereka kendarai itu adalah mobil milik Berlyn.
Ditengah jalan tadi, mobil Gilang mogok. Dan kebetulan Berlyn sedang lewat. Berlyn menawarkan tumpangan dengan syarat ia bisa ikut ke rumah Gilang. Setelah berpikir, akhirnya Gilang setuju karena dia harus kembali ke rumah untuk mengambil berkas.
"Ada apa Ma?" tanya Gilang.
"Gilang, ayo kita ke rumah sakit," ucap Mama Desi dengan cemas.
"Untuk apa Ma?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Tadi Kinan pingsan, Mama cemas banget," jawab Mama Desi.
"Apa? Kinan pingsan? Kenapa gak bilang dari tadi Ma?" Ucap Gilang yang ikut ikutan cemas.
"Pia sini kunci mobilmu," ucap Gilang.
Sepia pergi kedalam dan mengambil kunci mobilnya.
"Ini kak," ucap Sepia.
"Aku dan Mama akan pergi. Kamu jaga rumah baik baik," pesan Gilang.
" Aku ikut," ucap Berlyn.
"Gak. Kamu di rumah aja temenin Pia," tolak Gilang.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Mereka yakin keluarga Rahardian membawa Kinan ke rumah sakit itu.
"Permisi Sus, pasien atas nama Kinan?" tanya Gilang.
"Sebentar ya Tuan," ucap Suster.
1 menit kemudian.
"Pasien atas nama Kinan masih berada didalam ruang UGD," ucap Suster.
"Terima kasih, Sus," ucap Mama Desi. Sedangkan Gilang, ia sudah lari menuju UGD.
"Bangun nak," ucap Mami.
"Permisi Nyonya, ada yang harus saya bicarakan," ucap Dokter yang menangani Kinan.
"Katakan saja, Dok," ucap Mami.
"Mari ikut saya keruangan, Nyonya," ucap Dokter.
"Pi, Papi jagain Kinan ya," pinta Mami.
"Biar Papi saja yang bicara sama Dokter Mi," ucap Papi.
"Papi jagain Kinan saja," tolak Mami.
Mami pergi mengikuti Dokter menuju ruangannya.
"Pertama tama, saya ingin bertanya. Apa hubungan anda dengan pasien?" tanya Dokter.
"Saya adalah ibunya, Dok" jawab Mami.
"Begini Nyonya, putri Anda mengalami trauma yang sangat mendalam. Putri anda juga pernah mengalami amnesia. Dan sepertinya ingatannya baru kembali akhir akhir ini. Setelah ingatannya itu kembali. Putri anda bisa mengingat satu kejadian yang sangat menakutkan sehingga membuatnya menjadi sangat ketakutan," jelas Dokter.
"Jadi apa yang harus saya lakukan untuk mengobati traumanya, Dok?" tanya Mami.
"Anda hanya perlu menjauhkan segala sesuatu yang mengingatkan kepada kejadian tersebut," jawab dokter.
__ADS_1
"Apa trauma putri saya bisa sembuh dok?" tanya Mami.
"Bisa. Anda bisa membuat putri anda berdamai dengan kejadian itu. Misalnya anda bisa membuatnya perlahan lahan menerima semua yang terjadi kepadanya. Membuatnya berdamai dengan masa lalu. Anda juga bisa membawanya menemui psikiater," jawab dokter.
Setelah pamit, Mami keluar dari ruangan dokter.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Valeri ketakutan melihat mobil Berlyn? Apa Berlyn ada sangkut pautnya dengan kejadian itu? Atau jangan jangan," Mami membatin.
"Tidak tidak. Aku harus memastikannya terlebih dulu," batin Mami lagi.
Mami pergi ke UGD, ternyata Kinan sudah dipindahkan ke kamar inap. Mami pun pergi ke kamar tempat Kinan dirawat.
Mami membuka pintu, dan ternyata Gilang dan Mama Desi ada didalamnya.
Mami berjalan lebih dekat dan melihat Kinan yang sudah tersadar di atas bangsal.
"Bisakah saya berbicara empat mata dengan Kinan?" tanya Mami.
Mama Desi dan Gilang saling pandang, lalu mengangguk.
Sedangkan Papi sudah pergi karena ada urusan mendadak.
"Ada apa, Mi?" tanya Kinan setelah Mama Desi dan Gilang keluar.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mami serius
"Maksudnya Mi?" tanya Valeri tidak mengerti.
"Dokter bilang kamu mengalami trauma akibat suatu kejadian. Dan saat kamu melihat mobil Berlyn kenapa kamu ketakutan?" tanya Mami serius.
Valeri memejamkan matanya dan menarik nafas dalam dalam. Lalu menghembuskan nya secara perlahan.
"Mami janji gak akan marah ya," pinta Valeri.
"Tergantung," ucap Mami.
"Kalau Mami gak mau janji, Valeri gak mau ngomong," ancam Valeri.
Valeri takut Mami akan melakukan sesuatu dengan Berlyn yang akan berujung pembongkaran identitasnya.
"Baiklah, Mami janji gak akan marah," janji Mami.
"Sebenarnya dihari itu, Valeri mau pergi ke rumah Gilang. Valeri melewati jalanan satu arah dan mengendarai mobil dengan kencang. Tapi ditengah jalan, rem mobil Valeri blong. Dan itu membuat mobil Valeri tidak melintas dengan baik. Lalu ada sebuah mobil truk yang datang dari arah berlawanan. Valeri memutar stir dan mengakibatkan Valeri masuk jurang," jelas Valeri.
"Lalu apa hubungannya dengan Berlyn?" tanya Mami.
"Saat masuk jurang, Valeri berhasil keluar dari mobil. Dan ternyata dibawah jurang ada sebuah sungai. Valeri terdampar di sungai itu. Saat itu Valeri masih setengah sadar. Valeri mendengar dan melihat Berlyn yang memerintahkan anak buahnya untuk mencari Valeri," jawab Valeri.
"Dasar anak sialan," gumam Mami yang terlihat sangat kesal.
"Mulai dari rem blong dan mobil truk itu, Valeri menyimpulkan itu adalah ulah Berlyn. Dan sekarang Valeri mau mencari bukti," ucap Valeri.
"Kamu gak perlu mencari bukti itu nak. Biar orang Mami yang melakukannya," ucap Mami.
__ADS_1