Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Berkumpul bersama


__ADS_3

Kini waktu untuk menebus janji itu sudah tiba. Sesuai janjinya, Valeri harus membantu Justin mendapatkan kebahagiaannya. Tapi tetap saja Valeri tak rela meninggalkan Gilang.


"Gilang, aku ada ide agar kita tak berpisah dan aku bisa membantu Justin," ucap Valeri.


"Apa?" Tanya Gilang.


"Di Singapura aku punya dua apartemen. Satu untuk ku tinggali dan satu lagi untuk Papamu. Tapi sekarang apartemen itu tak ditinggali, kalau kamu mau. Kamu bisa ikut kami ke Singapura dan tinggal di apartemen itu," jawab Valeri mengusulkan idenya.


"Baiklah, tapi aku belum menyusun koperku," ucap Gilang.


"Kamu tidak perlu membawa baju, cukup bawa laptop dan keperluan kerja. Agar kamu bisa bekerja dari jauh," ucap Valeri.


"Baiklah, aku akan pulang dulu dan mengambil keperluan kerjaku," ucap Gilang.


"Aku ikut ya," ucap Valeri.


"Ayo, Mama dan Sepia pasti akan bahagia," Ucap Gilang dengan senyuman manisnya.


***


Mereka berdua sudah tiba di rumah. Tanpa menunggu lama mereka masuk dan melihat Mama dan Papa Gilang, Sepia, Mami dan Papi Valeri duduk diruang tamu sedang mengobrol ria.


"Mami, Papi" ucap Valeri.


Mereka berlima menatap ke sumber suara.


"Valeri, anak Mami. Sini nak," panggil Mami.


Valeri berjalan mendekati Mami dan Papinya. Ia duduk ditengah tengah keduanya.

__ADS_1


"Kamu kapan sampai nak?" Tanya Mami.


"Tadi pagi Mi," jawab Valeri.


"Papi," panggil Valeri kepada Papinya yang hanya diam sedari tadi.


"Hmm," balas Papi dingin.


Valeri menunduk merasa bersalah karena tidak memberitahu Papinya bahwa dia masih hidup.


"Maaf," ucap Valeri yang kini sudah berkaca kaca tak sanggup menerima sifat dingin Papinya.


"Valeri gak bermaksud bohongi Papi. Valeri hanya takut Papi ti-"


Tiba tiba Papi memeluk tubuh Valeri dan tangis Valeri pecah didalam pelukan Papinya. Papi berkata


"Kamu tidak perlu meminta maaf, sayang. Papi senang akhirnya kamu mau datang menemui Papi. Selama ini kamu hanya menemui Mami. Apa kamu tidak sayang sama Papi?" Tanya Papi.


"Kalau Ibu?" tanya sosok yang datang dari dapur.


Ia adalah Ibu Sri. Sekarang penampilan Ibu Sri sudah lebih modis.


"Ibu Sri," gumam Valeri.


"Valeri juga sayang sama Ibu, sayang sama semuanya," ucap Valeri.


"Sudah dong sayang, jangan nangis lagi," ucap Papi seraya menghapus air mata Valeri.


Valeri hanya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Kak Valeri selama ini kemana aja?" Tanya Sepia.


"1 bulan Kakak berobat 4 bulan kakak di rumah ini, lalu 6 bulan kakak di Singapura," jawab Valeri.


"4 bulan? Kapan?" Tanya Sepia yang sepertinya tak tahu apa apa.


"Emang kak Gilang gak kasih tahu?" Tanya Valeri sambil melirik Gilang yang duduk didekat Sepia.


"Kasih tahu apa kak?" Tanya Sepia polos.


"Aku yang kasih tahu atau kak Gilang?" Tanya Valeri.


"Emm, kak Gilang aja deh," jawab Sepia.


"Kasih tahu apa?" Tanya Gilang.


"Kak Gilang, kasih tahu dong. Jangan main rahasia-rahasiaan sama Pia," ucap Pia.


"Baiklah, 3 bulan kak Valeri disini sebagai pembantu," jawab Gilang.


"Pembantu? Masa sih? Gak mungkin deh, masa iya calon menantu rumah ini jadi pembantu," ucap Sepia bingung.


"Kalau gak percaya tanya sendiri sama kak Valeri," ucap Gilang.


Sepia menatap Valeri meminta jawaban.


"Iya, yang dikatakan kak Gilang benar," jawab Valeri.


Sepia masih kebingungan.

__ADS_1


"Kamu masih ingat pembantu yang resign 6 bulan lalu? Namanya Kinan," tanya Valeri.


"Kak Kinan. Iya aku kenal. Dia sangat baik dan ramah. Dia itu anak bibi Sri," jawab Sepia.


__ADS_2