Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Jangan Sia Siakan


__ADS_3

"Kamu masih ingat klien kita tadi?" Tanya Valeri.


"Iya," jawab Justin seraya mengangguk angguk.


"Dia adalah CEO perusahaan Rahardian grup," lanjut Justin


"Dia itu Papi ku," ucap Valeri.


Chittt...


Justin tiba tiba merem mendadak.


"Justin, kok kamu merem mendadak. Untuk aku pakai seat belt," gerutu Valeri.


"Jadi Tuan Ricko adalah Papi kamu?" Tanya Justin yang menghiraukan gerutuan Valeri.


"Iya, nama panjang aku kan Valeri Selen Rahardian. Putri tunggal keluarga Rahardian," jawab Valeri.


"Aku lupa nama panjang kamu," Ucap Justin.


"Iyalah, nama aku kan gak penting. Yang penting bagi kamu hanya Cherry," ucap Valeri.


"Tentu dong," ucap Justin dengan bangganya.


"Udah ah, jalan cepat," titah Valeri.


"Ok," balas Justin.


Ditengah jalan.

__ADS_1


"Kita mau kemana?" Tanya Valeri.


"Gak tahu juga," jawab Justin.


"Kami gimana sih Jus, ngajak keluar tanpa tujuan," ucap Valeri.


"Gini aja deh, kita cari restoran terdekat aja. Kamu tadi kan gak makan apa apa," ucap Justin.


"Ok, aku tahu dimana restoran enak dekat sini," ucap Valeri.


Valeri menunjukkan jalan kepada Justin. Selang beberapa menit mereka sudah tiba di restoran.


Valeri dan Justin keluar dari mobil.


"Nih masker untukmu," Ucap Valeri seraya menyerahkan masker kepada Justin.


"Thanks," balas Justin seraya menerima masker tersebut.


Jika saja mereka memakai pakaian non formal, pasti mereka akan dikira sepasang kekasih.


"Ramai juga ya," ucap Justin.


"Iya," balas Valeri.


"Kita ke meja sana aja," ucap Valeri seraya menunjuk salah satu meja.


Setelah mereka duduk, seorang pelayan datang menghampiri mereka memberikan buku menu.


"Saya pesan 1 mango juice dan 1 chicken stick," ucap Valeri tanpa melihat buku menu.

__ADS_1


"Kamu apa, Jus?" Tanya Valeri.


"Aku orange juice saja," jawab Justin.


Pelayan mencatat pesanan mereka, lalu membacakan sekali lagi untuk memastikan. Setelah itu ia pergi dari meja mereka.


"Kamu sering makan disini, Val?" Tanya Justin.


"Yaps," jawab Valeri.


"Oh," balas Justin.


"Bagaimana kabar Cherry?" Tanya Valeri.


"Baik," jawab Justin.


"Jadi, kapan kalian akan nikah?" Tanya Valeri lagi.


"Gak tahu juga, mungkin sebulan atau tiga bulan lagi," jawab Justin.


"Kalian udah lama loh tunangan, kamu gak ngerti gimana perasaan Cherry? Apa kamu tahu? Seorang wanita itu butuh kepastian Justin. Kalau kamu gak sayang sama Cherry, maka bilang. Tapi kalau kamu memang sayang, maka kamu harus secepatnya nikahin Cherry, sebelum dia diambil orang," nasihat Valeri.


"Aku sayang sama Cherry. Tapi pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan," ucap Justin.


"Pekerjaan tidak akan pernah habis. Selesai satu, datang lagi. Tapi ini masa depan kamu, kebahagiaanmu. Hal yang terpenting di hidupmu. Dengan adanya seorang wanita, maka seorang pria akan lengkap," ucap Valeri.


Justin hanya bisa terdiam, bingung harus berkata apa. Karena sesungguhnya, yang dikatakan Valeri adalah benar.


"Aku pernah merasakan gagal nikah dan merasa ditinggalkan. Dan aku tahu bahwa itu adalah kesalahan ku. Aku membiarkan seorang wanita merusak hubunganku dan aku lebih fokus tentang kebahagian sahabatku. Dan kebahagiaanku, aku biarkan. Tapi, aku tidak mau kamu mengalami hal yang sama denganku. Aku ingin kamu bahagia," jelas Valeri panjang lebar.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, kalau kamu punya masa lalu kelam. Tapi walaupun begitu, kamu masih tetap tegar. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku tidak akan bisa setegar dirimu," ucap Justin.


"Maka jangan sia siakan Cherry," ucap Valeri.


__ADS_2