
Malam hari.
Kinan melirik ponselnya yang sedari tadi bergetar. Malas rasanya harus bergerak setelah hampir masuk ke alam mimpi.
"Siapa sih nelpon malam malam. Ganggu orang tidur saja," gerutu Kinan.
Kinan menutup telinganya menggunakan bantal.
Tapi ponselnya tidak mau untuk diam. Tanpa menunggu lama lama, Kinan mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau, tanpa ia ketahui siapa sang penelpon.
"Halo," jawab Kinan kesal.
...
"Halo, kalau gak mau bicara ngapain nelpon. Ganggu orang tidur saja," gerutu Kinan semakin kesal.
...
Kinan langsung menutup sambungan ketika tidak ada sautan. Ia meletakkan ponselnya lalu kembali tidur.
Drtttt...
Ponsel Kinan kembali berdering, membuat si empunya makin kesal.
Kinan mengambil ponselnya lalu mematikan dayanya.
"Aku tuh capek, jadi jangan bergetar terus. Buat aku jadi kesel," ucap Kinan kepada ponsel ditangannya.
Kinan kembali tidur setelah meletakkan ponselnya kembali.
***
Disisi lain
"Ponselnya mati, Wil" ucap seseorang yang tak lain adalah Gilang.
__ADS_1
"Itu sih lo, tadi pas dia angkat malah lo gak bicara," bukannya memberikan semangat, Wiliam malah memarahi Gilang.
"Ya, gue kan nervous," balas Gilang.
"Hufs," Wiliam mengeluarkan nafasnya kasar.
"Kalau lo nervous, gak usah deh nembak dia. Belum nembak aja udah gugup, apalagi kalau udah didepan mata. Langsung pingsan lo. Coba misalnya kalau Kinan nolak lo, Udah jadi gila lo," ucap Wiliam menakut nakuti Gilang.
"Gak mungkinlah ditolak. Dilamar pun dia mau kalau lo yang lakuin," batin Wiliam geleng geleng kepala.
"Lo jangan nakut-nakutin gue dong," tegur Gilang.
"Ya udah terserah lo aja mau ngapain sekarang," ucap Wiliam yang berlalu pergi meninggalkan Gilang yang sedang kebingungan.
"Wiliam, hey Wiliam lo mau kemana?," Teriak Gilang frustasi.
Wiliam tidak menggubris teriakan Gilang dan tetap melangkah.
***
Keesokan harinya
"Kinan," panggil Ibu Sri dari ruang tengah.
"Iya Bu," sahut Kinan.
"Ada telepon untuk kamu," ucap Ibu Sri.
"Telepon? Siapa? Gak biasanya ada orang yang nelepon aku dari telpon rumah," gumam Kinan seraya mencuci tangannya yang habis membersihkan daging ayam.
"Siapa Bu?" Tanya Kinan yang sudah ada diruang tengah.
"Ibu juga gak tahu," jawab Ibu Sri seraya menyodorkan telepon kepada Kinan.
Kinan menerimanya dan meletakkannya ditelinga.
__ADS_1
"Halo," sapa Kinan.
"Halo bos," balas seseorang diseberang sana yang Kinan sangat kenal pemilik suaranya.
"Kenapa kamu nelpon saya dari telepon rumah?" Tanya Kinan berbisik.
"Maaf bos, tapi nomor bos tidak bisa dihubungi," jawabnya.
Kinan baru ingat bahwa ponselnya ia matikan dayanya kemarin.
"Maaf, saya lupa. Kita bicara dari ponsel saya saja," ucap Kinan.
Tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya Kinan langsung mematikan panggilan.
"Siapa?" Tanya Ibu Sri.
"Teman Bu," jawab Kinan.
"Oh," balas Ibu Sri mengangguk angguk.
"Kinan kebelakang dulu ya Bu," ucap Kinan.
Setelah mendapatkan anggukan, Kinan langsung pergi.
Kinan pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya. Setelah itu ia kembali ke dapur.
Di dapur, Kinan mengaktifkan ponselnya. Lalu ia menekan sebuah nomor dan menekan tombol panggil.
Di deringan pertama, panggilan sudah diterima.
"Ada apa?" Tanya Kinan to the point.
"Tuan besar Admaja sudah siuman bos," jawabnya.
"Apa? Kapan?" Tanya Kinan.
__ADS_1
"Baru saja bos," jawabnya.
"Persiapkan keberangkatan ku sore ini. Aku akan pergi ke sana sekarang juga," ucap Kinan lalu mematikan sambungan.