
Valeri terbangun dari tidurnya saat mendengar suara deringan telepon miliknya.
Setelah membaca nama si penelpon, Valeri mengangkat telpon.
Belum sempat ia menyapa, si penelpon yang tak lain adalah Cherry langsung saja bicara.
"Serra, aku gak punya banyak waktu. Dengerin aku baik baik ya," ucap Cherry tergesa-gesa.
"Ada apa Cher?" Tanya Valeri yang menjadi panik.
"Tolong bilang kepada Justin, kalau Mommy akan menjodohkan ku kalau Justin tidak segera menentukan tanggal pernikahan kami. Aku tidak ingin menikah dengan siapapun selain Justin. Jadi aku mohon Ser, segera suruh Justin untuk datang ke rumahku dan tentukan tanggal pernikahan," mohon Cherry, terdengar suara bergetar akibat menangis.
"Sudah ya Ser, Mommy mau datang," ucap Cherry mengakhiri panggilan tanpa mendengar perkataan Valeri.
Valeri bangun dari sofa berlari menuju pintu.
"Valeri kamu mau kemana?" Tanya Wiliam yang baru saja kembali dari toilet.
"Jangan menggangguku dulu, Wil. Aku tidak punya banyak waktu sekarang," ucap Valeri berlari meninggalkan Wiliam menuju kamar inap Justin.
Setibanya ia di sana.
"Justin, kita akan pulang ke Singapura malam ini juga," ucap Valeri.
"Tuan Byan, tolong bawa semua koper dari hotel dan beli tiket penerbangan tercepat," titah Valeri.
__ADS_1
"Baik," balas Byan.
Walaupun Byan bingung dengan perintah Valeri yang mendadak, tapi Byan tetap melaksanakannya.
Byan keluar dari ruangan melaksanakan semua perintah Valeri.
"Ada apa Val?" Tanya Justin bingung.
"Ada masalah besar," jawab Valeri.
"Apa perusahaan bermasalah?" Tanya Justin yang ikut ikutan panik.
"Masalah ini jauh lebih besar dari pada perusahaan," jawab Valeri.
"Persiapkan dirimu, besok kita akan ke rumah Cherry dan menentukan tanggal pernikahan. Jika kau tidak melakukan itu maka Cherry akan dijodohkan dengan pria lain," jawab Valeri.
"Ganti bajumu," ucap Valeri seraya memberikan pakaian Justin yang tadi dibawa oleh Byan.
Tanpa banyak bicara, Justin mengambil pakaian itu dan masuk kedalam toilet yang ada dikamar inapnya.
"Sudah kuduga ini akan terjadi," gumam Valeri.
"Valeri kita perlu bicara," ucap seseorang dari pintu.
"Wiliam," gumam Valeri.
__ADS_1
"Ikut denganku," ucap Wiliam.
Valeri mengikuti Wiliam yang berjalan menuju taman yang berada didekat rumah sakit.
"Ada apa?" Tanya Valeri.
"Sebenarnya 6 bulan yang lalu, Gilang mencintai seseorang. Dan itu adalah Kinan, dirimu sendiri," ucap Wiliam.
Terkejut! Itu yang dirasakan Valeri.
"Dan masalah artikel soal Gilang dan Tiara it-" ucapan Gilang dipotong oleh Valeri.
"Aku sudah tahu," ucap Valeri.
Ternyata saat itu, dia belum tertidur pulas. Jadi ia mendengar segalanya.
"Lalu, kenapa kamu tidak menemui Gilang jika kamu tahu bahwa semua ini hanyalah ke salah pahaman?" Tanya Wiliam.
"Menurut yang kamu katakan, Gilang mencintaiku. Bukan begitu?" Tanya Valeri.
Wiliam mengangguk.
"Lalu kenapa dia tidak mencari ku? Jika dia mau, dia bisa menyuruh anak buahnya untuk mencari ku. Walaupun dia tidak bisa menemukanku, bukankah dia bisa berusaha? 6 bulan Wil, 6 bulan aku tinggal sendiri untuk mengobati ayahnya. Aku bertahan hidup sendiri di sana. Hanya ada ayahnya dan Justin yang memberiku semangat. Aku pergi untuk melupakan semua masa laluku. Bahkan aku hanya pulang sekali dua bulan untuk menemui orang tuaku. Papi ku saja masih tidak tahu bahwa putrinya ini masih hidup. Dan pula aku sudah terbiasa tinggal sendiri," Ucap Valeri.
"Tapi kamu tidak tahu Val, apa yang terjadi kepada Gilang 6 bulan ini," ucap Wiliam.?????
__ADS_1