Pembantu Misterius

Pembantu Misterius
Pesan Terakhir


__ADS_3

Tepat setelah Valeri jatuh, para polisi Singapura datang dan menangkap para penjahat.


Sedangkan Jodi Nilvam, ia berusaha kabur. Tapi polisi menembak kaki kirinya, sehingga usahanya untuk kabur gagal.


Justin, Gilang, dan Cherry keluar dari persembunyian mereka ketika mendengar suara tembakan.


Mata mereka bertiga langsung terpaku ketika melihat Valeri yang terbaring dilantai dengan tangannya memegang perutnya yang sudah berdarah darah.


Gilang berlari kearah Valeri, lalu ia duduk dilantai seraya memangku kepala Valeri.


"Telepon ambulans," perintah Justin.


"Valeri..." Gilang tidak sanggup mengatakan apa apa. Tapi matanya terus mengeluarkan air, menyampaikan bahwa dia sangat sedih sekarang.


Valeri dengan bibir pucat nya berusaha tersenyum.


"Kamu sudah berjanji padaku, kamu akan baik baik saja dan. Tolong tepati janji mu itu," ucap Gilang berderai air mata.


"A-ku su-dah me-nepati jan-jiku. Buk-tinya seka-rang a-ku baik ba-ik sa-ja," ucap Valeri terbata bata.


"Dasar keras kepala," ucap Gilang.


Gilang menyentuh perut Valeri yang mengeluarkan banyak darah.


"I-ini? Apakah sakit?" Tanya Gilang yang ikut merasakan sakit yang dialami Valeri.


Valeri menggeleng dengan lemah.


"Apa yang harus ku katakan pada Ibumu. Dia menyuruhku menjagamu, tapi aku... aku malah membiarkanmu tertembak, tanpa bisa berbuat apa apa," ucap Gilang.


Valeri menyuruh Gilang tersenyum dengan memberikan kode menggunakan jari jempol dan telunjuknya.


Dengan terpaksa Gilang tersenyum.


"A-ku ba-ha-gia," ucap Valeri.

__ADS_1


Gilang menatap Valeri menunggu kelanjutan ucapnya.


"Ka-re-na di-masa te-rak-hirku, a-ku bisa mel-li-hat-mu sam-pai maut-ku men-jem-put-ku," ucap Valeri.


"Tidak," ucap Gilang seraya geleng geleng kepala.


"Kamu harus sembuh, kamu harus mendampingiku, kamu harus hidup bersamaku sampai kita menua," ucap Gilang.


Valeri kembali tersenyum.


"Ka-mu tahu, a-ku sa-ngat be-run-tung. Ka-rena aku pu-nya kamu. Ka-lau me-mang takdir memi-sahkan ki-ta, aku i-ngin ka-mu tidak ter-lalu ter-puruk. Sa-at kamu me-nu-tup ma-ta dan mema-nggil nama-ku, ma-ka saat itu ju-ga ak-u a-kan ada di ha-dapan-mu. Dan ka-takan ke-pada Papi dan Mami, putri-nya ini sangat menyayangi-nya. Kata-kan juga ke-pada o-rang tua-mu ju-ga Se-pia, aku ju-ga sa-ngat me-nya-yangi me-re-ka," ucap Valeri.


"Tolong jangan katakan itu. Kamu harus mengatakan kepada mereka langsung. Jangan menyuruhku," ucap Gilang.


"To-long-lah sam-pai-kan pe-sanku. Ju-ga kata-kan ke-pa-da F-rans, De-vina, Wili-am bah-wa aku sa-ngat ber-teri-ma ka-sih ke-pada me-reka yang su-dah mem-ban-tuku. Dan un-tuk Jus-tin dan Cher-ry se-moga ka-lian ba-hagi-a se-la-lu," ucap Valeri.


Justin dan Cherry ikut menangis melihat kondisi Valeri.


"Dan ka-mu, Gi-lang. Ca-rilah peng-gantiku. ja-ngan ter-lalu se-dih. I-ngat, aku se-lalu me-mantau-mu. Tu-ruti-lah jan-jimu. Ja-ngan lu-pa ter-senyum. Aku mencintaimu," ucap Valeri setelah itu matanya tertutup.


"Bangun, Val. Jangan tinggalkan aku begini. Aku gak bisa hidup tanpa kamu," ucap Gilang yang tidak bisa didengar oleh Valeri lagi.


Tiba tiba ambulans sudah datang. Seorang Dokter datang dengan tergesa gesa.


Maaf Tuan, dia sudah tiada, ucap Dokter setelah memeriksa Valeri yang sudah tak bernafas.


Gilang terlihat lemas dengan mata memandang kearah Valeri yang sudah pergi. Tiba tiba saja Gilang pingsan.


THE END


*


*


*

__ADS_1


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bercanda, ceritanya masih lanjut ya, karena kejahatan dari Nyonya Desty belum terungkap. Dan tenang saja, cerita ini happy ending kok.


__ADS_2