
Ingin menghabiskan waktu lebih lama, sayang Arisha harus segera pulang sore ini juga. Pasien yang ingin di tangani langsung olehnya membuat Arisha tak bisa menolak. Karirnya sedang berada di proses menuju atas. Tak mudah untuk bisa menolak permintaan klien yang sudah memberi kepercayaan padanya.
“Kenapa tidak besok saja? Ini kan sudah gelap. Bahaya kita langsung pulang.” Gina tak setuju mendengar Arisha mengatakan jika akan pulang hari ini juga.
Di tatapnya wanita yang benar-benar sudah menguji kesabarannya hari ini.
“Tidak ada yang mengajakmu untuk pulang. Kalau mau tetap di sini menetaplah. Aku tidak akan mungkin meninggalkan suamiku di sini.” Arisha melangkah menuju kamarnya usai makan bersama Reifan dan Gina.
Arisha akan mengemasi barang di kamar dan langsung meminta pelayan membawa ke mobil. Reifan tak mengatakan apa pun, sebab ia pun dengar jika Arisha mendapatkan klien. Sedangkan berdua dengan Gina di villa ini tidak mungkin ia lakukan.
“Rei, kita tetap di sini bukan? Aku sangat lelah. Besok pagi kita bisa pulang.” Suara Gina terdengar sangat manja. Ia mendekati Reifan.
“El, kita akan pulang.” Reifan mengusap lembut kepala Gina.
“Berkemaslah. Tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini.” Tersenyum Gina mendengar suara lembut Reifan.
Dengan semangat ia pun melangkah pergi ke kamarnya untuk berkemas. Hari sudah tampak mulai gelap Arisha mengemudikan mobil dengan Reifan di sampingnya.
“Huh perjalanan membosankan. Arisha, kau bisa membuat Reifan semakin sakit dengan kelelahan seperti ini. Apa niatmu memang ingin Reifan terus-menerus sakit?” Gina kembali berceloteh di jalanan.
__ADS_1
Arisha tak menanggapi sama sekali. Ia memilih tetap fokus menyetir. Perjalanan akan cukup memakan waktu saat ini. Apalagi Arisha harus hati-hati karena pencahayaan yang mulai tak terang di luar sana.
“El benar. Jika kau tidak memiliki waktu cukup sebaiknya tidak usah mengusahakan untuk pergi jauh seperti ini. Kepalaku terasa sakit.” sahut Reifan.
“Maaf.” Hanya kata itu yang mampu Arisha ucapkan.
Sejujurnya ia pun tidak ingin hal ini terjadi. Sampai akhirnya Arisha menambah kecepatan mobil. Khawatir jika keadaan sang suami memburuk. Arisha sadar kesehatan Reifan tidak cukup kuat untuk di bawa perjalanan jauh seperti ini.
“Rei, aku haus.” Gina berkata sembari memajukan badannya mendekati Reifan.
“Minum di samping itu lengkap kok. Mau yang tawar atau manis ada semua. Reifan bukan pesuruhmu.” sahut Arisha ketus.
“Mana aku tahu.” sahut Gina membalas.
“Rei, bukain botolnya.” Lagi Gina menguji kesabaran Arisha.
Selama perjalanan banyak sekali Gina melakukan hal-hal yang kecil namun terasa membakar emosi untuk Arisha.
Sampai pada akhirnya kendaraan roda empat itu sampai di sebuah rumah namun bukan rumah Reifan dan Arisha.
__ADS_1
“Rumah Mamah lebih dekat dengan rumahmu. Supir di sini bisa mengantarkanmu, Gina. Aku harus segera pulang membawa Reifan istirahat.” Arisha membuat Gina terkejut.
Sebelumnya ia berpikir jika akan sampai di rumah Reifan dan memiliki kesempatan menginap di sana. Kini waktu sudah menunjuk pukul sepuluh malam.
“Rei, aku nggak mau di antar supir. Kamu tahu kan mereka bisa saja jadi orang jahat. Aku takut.” Seolah keberadaan Arisha tak Gina anggap sama sekali.
Ia justru membujuk Reifan untuk bertindak.
“Arisha, antar El atau aku sendiri yang akan mengantarnya?” Arisha menoleh mendengar ucapan sang suami.
Manik mata lelah milik wanita berprofesi sebagai dokter itu kini menatap dalam sang suami di sampingnya.
“Rei, ini sudah malam. Di sini banyak kok supir yang Mamah percaya untuk…” Ucapan Arisha terpotong oleh Reifan yang ingin bergegas bangkit dari duduknya.
Tubuhnya sudah bergerak ingin membuka pintu mobil. Secepat mungkin Arisa mencengkram tangan sang suami. Pandangan mata Arisha nampak berkaca-kaca.
“Oke. Oke Rei. Kita antar Gina. Jangan keluar dari mobil. Oke?” Jatuh air mata Arisha melihat kekeuhnya sikap sang suami melindungi Gina.
Sebenarnya Arisha tak ingin dengan menemukan sang suami dengan banyak hal tentang Gina termasuk rumah wanita itu, justru akan semakin banyak hal yang membuat Reifan bisa mengingat tentang Gina dan masa lalu mereka.
__ADS_1
Sayang Reifan begitu kekeuh untuk melindungi Gina.