Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Keberadaan Tak Di Anggap


__ADS_3

“Tidak ada barang yang di keluarkan dari rumah ini.” Ucapan Dara terdengar begitu tegas. Matanya hanya menatap sang menantu yang juga menatapnya.


Arisha tahu apa pun yang ia lakukan tak akan pernah ada benarnya di mata sang mertua. Tidak adanya restu untuk Arisha kini membuat wanita itu enggan menunduk pada mertuanya. Arisha hanya ingin melakukan apa pun yang terbaik untuk rumah tangganya.


“Bu, ini rumah ku dan Reifan. Aku berhak menentukan apa pun yang ada di rumah ini dan yang akan keluar dari rumah ini.” sahut Arisha tak kalah tegasnya.


Mendengar ucapan Arisha sontak membuat rahang Dara mengeras. Tangannya bahkan gemetar ingin menghakimi Arisha.


“Arisha benar. Lagi pula ini semua juga karena salahku membawa Gina ke rumah ini. Biarkan aku menebus semuanya.” sahut Reifan yang justru membela sang istri.


Dara semakin murka, ia benar-benar marah dengan tingkah Arisha yang sudah menguasai sang anak.

__ADS_1


“Itu terlalu berlebihan, Reifan. Dia hanya kekanak-kanakan. Itu semua bisa di selesaikan tanpa harus banyak membuang uangmu seperti ini.” ujar Dara lagi.


Arisha tak menghiraukan ia hanya memilih untuk melangkah menuju kamarnya seraya bersuara.


“Bi, tolong ini masih ada yang di kamar tersisa. Keluarin semua yah? Yang di luar sana suruh masukin barangnya cepat. Saya nggak punya waktu banyak.” Suara di kamar itu begitu jelas terdengar.


Reifan melangkah menuju sofa untuk istirahat. Membiarkan sang istri berbuat sesukanya itu akan menjadi jalan paling aman. Setidaknya kemarahan Arisha akan reda setelah semua keinginannya tercapai.


“Oh ya satu lagi. Semua uangku adalah uang istriku. Jadi, itu haknya membelikan apa pun.” tutur Reifan yang membuat Dara membulatkan mata.


“Apa yang wanita itu lakukan padamu, Rei? Dia sudah mencuci otakmu kan?” Dara menunjuk ke arah kamar dimana Arisha berada.

__ADS_1


Reifan hanya diam. Melihat tingkah sang anak, Dara memilih duduk sembari menyilangkan tangan di dada. Tak tahu lagi harus bicara dengan Reifan seperti apa. Ingatan yang belum pulih total membuat pria itu sulit untuk di ajak berbicara.


Jika sebelumnya Reifan hanya mau bicara dengan Gina. Kini tidak lagi. Hanya Arisha yang mau ia ajak bicara sebagai wanita yang paling ia cintai.


Di depan keduanya terlihat banyak pekerja berlalu lalang ada yang mengeluarkan barang dan ada juga yang memasukkan ke dalam kamar serta mengikuti arahan Arisha untuk menatanya.


“Sayang, istirahatlah di kamar tamu. Kau bisa sakit jika kelelahan.” Arisha yang datang tiba-tiba bertutur lembut dengan sang suami.


Wajah Reifan yang lelah pun mendadak tersenyum senang. Itu artinya hubungan mereka akan baik-baik saja.


“Dasar gatal!” gumaman yang terdengar jelas saat itu sontak saja membuat Arisha menoleh. Siapa lagi pelakunya jika bukan ibu mertua dzolim.

__ADS_1


Detik berikutnya Arisha menjerit kaget kala tubuhnya ia rasa melayang di udara. Ternyata Reifan yang menggendongnya menuju kamar tamu. Keduanya masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan keberadaan Dara.


Di rumah ini rasanya tak ada lagi yang memperdulikan ucapannya. Lama menunggu hingga bosan. Akhirnya Dara memilih pergi dari rumah itu tanpa membawa hasil apa pun.


__ADS_2