
“Kak Arisha!” Nalendra berjalan cepat kala melihat kakak iparnya duduk menunduk mengusap air mata yang sulit ia tahan.
Arisha sadar jika suara itu mendekat padanya. Ia melihat sosok adik ipar yang selalu mensuport dirinya selama sang suami lupa ingatan. Susah payah ia mengembangkan bibir berusaha tersenyum. Nyatanya air mata justru kembali menetes.
“Ndra,” Entah bagaimana bisa Arisha menangis terisak tanpa bisa menahan diri lagi. Ia duduk menutup wajahnya yang menunduk.
Nalendra tahu pasti ada hal yang di perbuat oleh sang kakak dan Gina di dalam sama sampai melukai begitu dalam hati Arisha.
“Kak, ingat Kakak tidak boleh menyerah. Ingat pernikahan yang harus Kakak pertahankan.” Nalendra merangkul Arisha menepuk pundaknya pelan. Arisha hanya bisa mengangguk. Ia tak bisa berkata apa pun lagi.
Cukup lama Nalendra menunggu Arisha tenang. Sampai akhirnya ia melihat Arisha mengangkat wajah dengan mengusap semua air matanya.
“Lihat.” Kening Arisha mengerut dalam saat Nalendra justru menunjukkan beberapa lembar bulu mata palsu di jari yang baru saja menyentuh pipi Arisha.
“Ndra, apa itu? Hah?” Arisha sangat syok mendapati jika kedua matanya sudah tak lagi utuh dengan eyelash extention miliknya.
Nalendra terkekeh melihat sang kakak ipar yang panik mencari ponsel untuk melihat kelopak matanya.
“Kak, Kakak itu sudah cantik. Kenapa harus panik dengan ini sih? Ini bukan apa-apa.” ujar Nalendra.
Arisha tetap acuh. Baginya ia tetap ingin cantik di depan semua orang termasuk sang suami.
“Aku terlalu lelah rasanya menghadapi ini, Ndra. Mungkin bukan dengan keadaan. Hanya saja aku tidak terbiasa dengan masalah berat seperti ini. Mamah membenci aku, kemunculan wanita masa lalu suamiku, dan juga Reifan yang mendadak membenci aku. Tatapannya bahkan terasa jijik menatapku. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan, Ndra.” Arisha yang selalu diam kini akhirnya bersuara.
Ia lelah jika terus menghadapi semua sendiri.
__ADS_1
“Kakak jangan menyerah. Kak Reifan butuh Kakak untuk membawanya kembali ke jalannya. Jangan biarkan pernikahan kalian kalah dengan rencana murahan wanita itu, Kak. Aku yakin Kak Arisha pasti kuat.” Di genggam tangan Arisha dan Nalendra tersenyum.
“Maafkan Kak Reifan, Kak. Kakak pasti lelah dengan semua serangan Mamah dan juga wanita itu. Semoga Kak Rei segera pulih ingatannya.” gumam Nalendra menatap dalam sang Kakak ipar.
Bagi Nalendra, Arisha sudah seperti Kakak kandung baginya. Kebaikan Arisha bisa ia rasakan selama ini. Arisha selalu menitipkan apa pun yang ia kirim ke kantor untuk Reifan dan juga Nalendra.
Selama berpacaran, Nalendra bahkan tak pernah mendapatkan perhatian selengkap Arisha padanya. Dan itulah yang membuat ia bisa yakin hati sang Kakak jatuh pada Arisha akhirnya setelah perpisahan dengan Gina tentu karena perhatian Arisha yang tulus.
“Nyonya Reifan,” Arisha dan Nalendra melepaskan genggaman tangan seketika kala mendengar suara seseorang yang terdengar begitu asing.
Sosok pria tinggi yang memakai jas hitam mahal serta buket bunga di tangannya. Arisha menatap heran. Segera ia berdiri menyambut kedatangan pria itu.
“Iya, Saya. Ada apa yah? Maaf jika saya boleh tahu anda siapa?” tanya Arisha dengan canggung.
Takut tentu saja ia rasakan jangan sampai orang yang mengenalnya salah paham dengan genggaman tangan Arisha dan juga Nalendra.
“Oh begitu? Em iya suami saya sedang di dalam. Dan perkenalkan juga ini adalah Nalendra, adik dari suami saya sudah seperti adik saya sendiri.” Arisha berucap demikian demi menghindari prasangka buruk orang lain.
Sudah cukup baginya di benci Mamah mertua, suami, dan juga wanita di masa lalu sang suami. Arisha tidak ingin jika ia di benci juga oleh orang yang tidak ia kenal.
“Mari saya antar masuk.” Arisha membawa tamu tersebut setelah berkenalan dengan Nalendra.
Di dalam Gina yang tampak duduk tertawa bersama Reifan nampak menghentikan tawa mereka. Reifan melihat orang yang tidak ia kenali sudah berjalan ke arahnya.
“Maaf saya baru bisa menjenguk, Tuan Rei.” Sapaan itu membuat Reifan hanya diam. Tak tahu siapa pria yang sedang memberikan buket bunga padanya.
__ADS_1
Arisha mendekati Gina berbisik padanya. “Keluarlah. Setidaknya jangan membuat malu perusahaan suamiku. Dia adalah rekan bisnis Reifan.”
Gina patuh. Ia melangkah keluar setelah berpamitan pada Reifan.
“Rei, aku ke toilet dulu yah?” Reifan mengangguk dan tersenyum.
“Wah sepertinya anda berada di lingkaran masa depan dan masa lalu, Tuan Rei.” Ucapan itu seketika membuat Reifan menatapnya datar.
Dari cerita yang ia dengar dari Gina memanglah seperti itu. Gina adalah masa lalunya Reifan. Namun, alasan apa yang membuat mereka mengakhiri hubungan itu, Reifan belum tahu sampai saat ini.
“Maaf. Anda siapa?” tanya Reifan yang tak ingat siapa pun saat ini.
Pria tersebut tersenyum mengulurkan tangan pada Reifan.
“Saya rekan bisnis anda. Nama saya Jovan.” Reifan hanya membalas uluran tangan tanpa berkata apa pun.
Dalam berbisnin Reifan harus berhati-hati. Ia tidak bisa percaya pada siapa pun juga.
Lama Jovan menanyakan keadaan Reifan pada Arisha. Tentu dengan cerdasnya Arisha menjawab semua dengan baik. Ia mengatakan apa saja yang bisa ia katakan.
“Lalu, apa saja yang bisa menyebabkan kambuhnya suami anda, Nyonya Arisha?” tanya Jovan seolah membuat Arisha justru risih.
“Maafkan saya, Tuan Jovan. Sebagai istri saya tidak bisa menjelaskan detail apa saja yang menjadi informasi yang harus saya simpan dari suami saya. Sebab pekerjaan suami saya kemungkinan berisiko untuk hal tersebut.” Mendengar jawaban Arisha sontak saja Jovan mengangguk tersenyum.
Sedangkan Reifan hanya diam memperhatikan Arisha berbicara. Kali ini apa yang Arisha lakukan benar di matanya. Apa pun informasi tentang sakitnya tak boleh sembarang orang mengetahui. Itu bisa saja menjadi senjata mereka untuk mengalahkan Reifan.
__ADS_1
Kelelahan bisa membuat Reifan mudah drop. Memaksa ingatan Reifan untuk bekerja bisa justru mengganggu sarafnya dan membuat Reifan semakin memburuk nantinya. Arisha tidak ingin saingan bisnis sang suami akan memanfaatkan hal itu.