
“Keluarkan aku dari sini.” Arisha berkata saat melihat seseorang masuk ke dalam kamar mewah itu.
Tak ada suara yang di ucapkan seolah tuli dengan pendengaran. Wajah tampannya nampak menatap dalam Arisha.
“Tolong, dengarkan aku. Aku ingin keluar. Siapa sebenarnya kau?” tanya Arisha berdiri dari duduknya.
Pagi yang cerah terlihat tak ada harapan ketika semua jendela berlapis dengan tralis.
“Sarapanlah.” Mendengar perintah dari pria asing itu, Arisha membuang pandangannya ke arah lain.
Pintu kamar kembali di kunci dari luar. Arisha menunduk mengusap kasar wajahnya. Entah siapa pria yang bersamanya saat ini. Semua kebutuhan Arisha di penuhi dengan baik. Tanpa kurang satu pun.
“Apa yang harus ku lakukan?” tanya Arisha pada dirinya sendiri.
Tak bisa lagi sabar menunggu, ia berkeliling di setiap ruangan untuk mencari tempat kabur. Arisha tidak tahu jika di luar sana Nalendra begitu mencemaskan dirinya.
Hari ini Reifan sudah kembali ke rumah. Gina dan juga Dara ikut mengantar Reifan. Kini mereka semua sudah berada di rumah dimana Reifan tampak memperhatikan rumah dan kamar dimana Arisha tak juga terlihat.
“Bi, dimana Arisha?” Bukan Reifan yang bertanya melainkan Dara.
Tatapan meremehkan seolah menilai jika Arisha bukan istri yang baik.
Reifan menatap bibi ikut mendengarkan apa yang akan di jawab.
“Nyonya Arisha…belum pulang sejak kemarin malam, Nyonya besar.” Takut-takut Bibi menjawab.
Ia menundukkan kepalanya. Dirinya pun juga bertanya kemana sang nyonya sampai pagi ini belum terlihat. Sedangkan panggilan telepon ke rumah dari klinik milik Arisha tak bisa Bibi berikan jawaban.
Mendengar jawaban Bibi, tentu saja wajah Dara dan Gina tampak tersenyum tipis. Reifan memalingkan wajah saat mendengar ucapan Bibi.
“Biarkan saja dia. Saya ingin istirahat.” ujar Reifan memilih merebahkan diri di ranjang kamarnya.
Kepalanya masih tak begitu baik untuk ia gunakan berpikir.
__ADS_1
“Rei, kau masih sakit seperti ini. Tapi lihat wanita yang mengatakan dirinya sebagai istrimu, dimana dia sekarang? Di sini ada Gina yang selalu bersamamu. Siapa istrimu yang sebenarnya?” Dara seolah sengaja memanasi keadaan.
Berharap Reifan berubah pikiran untuk berpisah dengan Arisha. Gina satu-satunya wanita yang terasa pas untuk menjadi menantunya.
“Tolong keluarlah. Saya ingin istirahat.” pintah Reifan lagi.
“Rei…” Gina memberengut sedih mendekati Reifan.
Ia tak ingin meninggalkan Reifan ketika melihat ada peluang dimana pria incarannya hanya seorang diri.
“Baiklah. Kemari, temani aku di sini.” tambah Reifan lagi dan Gina yang mendengarnya begitu senang. Ia tersenyum melangkah mendekati Reifan.
Sejak hari itu pun Reifan selalu di urus oleh Gina. Perkataan pelayan yang melarang Gina berada di rumah itu justru di bantah oleh Dara. Tak sampai di situ saja, Gina sampai membawa barang miliknya ke rumah Reifan.
Seolah kini mereka sudah menjadi suami istri yang satu atap beda kamar.
“Gina, bagaimana kabarnya Rei? Ibu masih banyak keperluan di LA. Kamu tidak masalah kan di sana menjaga Reifan?” Telepon dari Dara membuat Gina mengangguk dan tersenyum senang.
“Terus Arisha gimana? Apa belum ada kabarnya sampai sekarang?” tanya Dara yang juga penasaran. Kemana sebenarnya kepergian menantunya itu.
Sudah hari ke lima Arisha tak pulang ke rumah.
Nalendra yang bekerja sama polisi masih belum mendapat pekembangan. Jejak penculikan Arisha sudah menghilang di pertengahan kota.
“Belum ada sih, Tan. Semoga aja selamanya. Lagian Reifan juga nggak pernah nyari dia kok. Kan yang penting ada Gina di sini, Tan.” sahutnya dimana Dara pun juga setuju.
“El,” Terdengar suara dari Reifan memanggil Gina.
Buru-buru Gina mematikan panggilannya dengan Dara. Segera wanita itu pun mendekati Reifan. Wajahnya tersenyum meski rasanya cukup lelah mengurus Reifan. Tapi, Gina sangat menyukai hal ini. Ia dekat dengan Reifan sudah menjadi hal yang cukup memuaskan untuknya.
Selama tidak ada Arisha, Gina bersyukur. “Iya, Rei. Apa yang kau inginkan?” tanya Gina.
“Aku ingin berjalan keluar. Rasanya di rumah saja sangat bosan.” sahut Reifan.
__ADS_1
Dengan senang hati Gina pun menurut. Ia menemani Reifan berkeliling di rumah. Keduanya duduk di kursi taman rumah.
“Reifan, aku pulang!”
“Rei, ayo temani aku. Aku takut.” Terdengar samar suara seorang wanita.
“Kenapa harus takut, Risha?” Suara dari Reifan terdengar kembali menyahut.
“Aku takut, Rei. Kamu sih ngajak nontonnya film horor.” ujar wanita di bayangan gelap itu. Tak lama kemudian keduanya tertawa renyah saling berpelukan.
Reifan menggelengkan kepalanya sembari memijat kening. Pusing yang kini Reifan rasakan.
“Rei! Rei! Reifan, ada apa?” Gina menepuk-nepuk pelan pundak Reifan yang duduk di sampingnya.
Reifan hanya mengabaikan ucapan Gina. Ia memilih duduk sejenak sampai akhirnya memilih masuk ke dalam rumah. Bayangan di kepalanya belum begitu jelas. Namun, ucapan di bayangan itu jelas terdengar olehnya.
Sudah hampir dua minggu berlalu dari kepulangan Reifan. Arisha masih juga belum kembali. Kini sikap lembutnya pada Gina perlahan hilang menjadi dingin. Seperti pagi ini, dimana Reifan mendapatkan layanan dari Gina.
“Rei, ini sarapannya. Aku sudah masakkan untukmu dan juga jus yang kamu minta.” tutur Gina tersenyum menyodorkan nampan yang ia bawa.
Tampak Reifan duduk di kursi taman menatap kedatangan Gina.
“Terimakasih, Gina.” sahut Reifan.
Kening Gina mengerut dalam mendengar sebutan dari sang mantan. Tak biasanya Reifan menyebut namanya seperti itu.
“Rei, apa yang kau katakan? Kau memanggilku apa tadi?” tanya Gina setengah tersenyum tak percaya.
Untuk pertama kalinya Reifan menyebut nama Gina tanpa panggilan El yang berarti sayang.
“Aku sudah baik-baik saja. Jika kau lelah pulanglah kembali ke rumahmu.” ujar Reifan dengan tenang.
Kini pikirannya terasa kacau mengingat sosok wanita yang berstatus istrinya. Satu persatu perbincangan di masa lalu mulai muncul di ingatannya.
__ADS_1