
Di kamarnya tampak Arisha mengusap-usap lembut kepala sang suami yang berbaring di pangkuan wanita itu. Senang rasanya sebab hubungan mereka saat ini sudah kembali seperti dulu lagi. Dimana Reifan akan selalu menghabiskan waktu bersama sang istri setiap urusannya sudah selesai.
"Rei," pangil Arisha lembut yang mendapat respon dari Reifan dengan menatapnya langsung menunggu ucapan Arisha berikutnya.
"Kita mungkin sudah bisa untuk program hamil lagi." tutur Arisha memulai niatnya.
Bukan hanya Dara yang menginginkan kehadiran bayi kecil di antara mereka. Arisha pun sangat ingin mendapatkan anak. Ia sudah sangat ingin merasakan perannya sebagai ibu.
"Apa dulu kita pernah melakukan program itu?" tanya Reifan yang penasaran. Arisha mengangguk tersenyum.
Singkat cerita sejak malam itu mereka sering menghabiskan waktu dengan berduaan di dalam kamar demi mendapatkan momongan. Reifan tak ragu lagi setiap ingin menjamah tubuh sang istri. Sampai suatu ketika dimana hubungan mereka membaik selama lima bulan namun belum juga membuahkan hasil. Terhitung pernikahan keduanya sudah hampir jalan tiga tahun.
__ADS_1
"Rei, aku pulang agak malam. Maaf yah ada pasien yang membuat janji denganku di klinik. Kau tidak apa kan jika makan malam sendiri?" tanya Arisha di seberang telepon.
Reifan sama sekali tidak keberatan. Ia memilih memberikan semangat pada sang istri. Reifan sadar dirinya saat ini masih berusaha mempelajari pekerjaan yang dulu ia tekuni. Di kantor Reifan bersiap untuk pulang lebih dulu. Kepalanya masih sedikit berat jika di gunakan terlalu lama dalam bekerja.
"Selamat sore, Tuan." sapa pelayan pada Reifan ketika memasuki rumah.
Pria itu hanya tersenyum kecil sembari berjalan menuju kamarnya.
"Kemarin Arisha menaruh berkas perusahaan dimana yah?" tanya Reifan yang ingin melihat berkas penting miliknya. Ia penasaran dengan isi tentang perusahaannya.
"Obat? Untuk siapa ini? Apa Arisha?" tanya Reifan yang penasaran.
__ADS_1
Ia membolak balik obat yang berisi beberapa butir di dalamnya tersisa. Pertanda obat itu sudah di minum cukup banyak. Segera Reifan membawa obat itu dan mengetik namanya di ponsel miliknya.
"Pil kb ini mampu untuk mengentalkan lendir yang di hasilkan oleh serviks sehingga mempersulit sel ****** untuk membuahi sel telur. Yang artinya kehamilan dapat di cegah?" Reivan bergumam membaca hasil pencarian di ponselnya.
Wajahnya nampak tegang membaca hasil dari internet itu. Segera ia membawa obat itu keluar kamar dan memberikan pada pelayan.
"Bi, ini apa?" tanya Reifan menatap tajam sang pelayan.
"In obat pil kb, Tuan. Untuk mencegah kehamilan." jawab Bibi tanpa ragu mengatakannya. Sampai akhirnya pelayan itu tergagap kala ingat dari mana Reifan membawanya.
"Waduh jangan bilang itu punya Nyonya Arisha? Aduh bagaimana ini? Tuan dan Nyonya kan sedang program hamil. Tapi, nggak mungkin itu punya Nyonya Arisha." gumam Bibi yang merasa tak percaya.
__ADS_1
Sedang Reifan yang mendengar pernyataan Bibi seketika sangat marah. Marah karena merasa di permainkan oleh sang istri. Dugaannya jika selama ini Arisha tenyata telah menunda kehamilan dan itu semua di dukung dengan karirnya yang semakin membaik. Reifan tak lagi bisa mengendalikan pikiran buruknya pada sang istri.
Pria itu berjalan meninggalkan pelayan dengan duduk di ruang tengah. Ia menunggu kepulangan sang istri untuk menanyakan hal ini.