Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Mendapat Pembelaan


__ADS_3

Kepulangan Nalendra malam itu membuat Arisha bergegas masuk ke dalam kamar sang suami. Dari arah pintu wanita cantik itu menghela napasnya kasar melihat sang suami sudah terlelap. Pelan Arisha mendekat duduk di samping Reifan. Tampaknya pria itu sudah sangat lelap tidurnya sampai tak merasakan kehadiran sang istri.


"Aku kangen banget sama kamu, Rei. Kapan yah kamu bisa kembali lagi ingatannya? Aku sangat menantikan waktu itu. Semoga kamu tetap mau mendengarkan ucapanku meski selalu memarahi aku. Aku sangat mencintai kamu, Reifan." Pelan dan hati-hati Arisha mengecup kening sang suami.


Malam ini Arisha tidur di samping Reifan. Tangannya memeluk tubuh kekar itu.


"Aku harus bangun subuh sebelum dia bangun." gumam Arisha meniatkan diri untuk bangun lebih awal.


Jangan sampai Reifan bangun dan melihatnya tidur di ranjang yang sama. Dari jam dua belas malam sampai kini ketika jam sudah menunjuk pukul empat subuh, ternyata Arisha menaati ucapannya semalam untuk bangun lebih awal. Kini wanita itu menuju kamar sebelah dimana ia tinggal selama sang suami lupa ingatan.


Tersenyum Arisha menatap wajah tampan Reifan sebelum pergi dari kamar itu. Rindu yang menggebu setidaknya terobati sedikit. Dan kini Arisha bersiap memasak sarapan di dapur di temani oleh pelayan.


"Nyonya, Bibi yakin hari ini wanita itu pasti akan datang lagi." Sang pelayan nampak membuka pembicaraan di awal.


Arisha yang sibuk memblender bumbu daging menghentikan aktifitasnya setelah di rasa cukup halus bumbu masakannya.


"Aku akan libur kerja hari ini, Bi. Kebetulan dokter partner di klinik sudah selesai trainingnya. Saya bisa sedikit longgar sekarang." sahut Arisha yang membuat Bibi merasa lega.


Ia tak sendirian di rumah melihat kedekatan Reifan bersama Gina. Ada Arisha yang bisa membuat keputusan tanpa campur tangan pelayan itu.


"Syukurlah, Nyonya. Saran saya ini sebaiknya Nyonya bawa Tuan keluar biar tidak bertemu wanita itu lagi." Arisha mengangguk.


"Iya, Bi. Saya juga tadinya berpikir seperti itu. Semoga saja Reifan mau yah, Bi?" Arisha pun menyiapkan sarapan untuk sang suami di meja makan.


Melihat keadaann Reifan yang kemarin jalan seharian di luar rumah sepertinya saat ini Arisha tak perlu lagi membawakan makan ke dalam kamar. Keadaan sang suami sudah cukup membaik.


"Sudah bangun?" tanya Arisha kala tiba di kamar sang suami.

__ADS_1


Reifan menoleh sejenak kala sibuk memainkan ponsel. "Segera sarapan. Dan kita akan keluar kontrol ke dokter. Aku sudah membuat janji pada dokter." ujar Arisha yang berniat akan membawa sang suami berjalan setelah ke dokter. Mungkin dengan begitu Reifan tak akan menolaknya.


Patuh pria itu memainkan kembali ponsel sekilas lalu keluar di ikuti dengan Arisha. Keduanya sarapan berdua di meja makan dalam keadaan hening. Arisha terus memberikan pelayanan yang baik untuk sang suami. Mengambilkan semua makanan serta menyiapkan obat untuknya.


Di arah dapur sang Bibi menggeleng melihat keduanya yang tak ada pembicaraan apa pun.


"Kasihan Nyonya Arisha. Semoga Tuan segera pulih dan mereka kembali seperti dulu." gumamnya dalam hati turut mendoakan kedua majikannya.


Tepat pada pukul setengah sembilan pagi, Arisha sudah siap untuk membawa sang suami keluar rumah. Mereka menaiki mobil dengan Arisha yang mengemudikan mobil itu. Reifan duduk diam menikmati perjalanan ke rumah sakit.


"Siapa sih? Dari tadi kok sibuk terus sama ponselnya?" tanya Arisha menatap Reifan penuh tanya.


Pria itu hanya diam tak menggubris pertanyaan sang istri. Ia memilih memejamkan mata dan Arisha pun hanya bisa menghela napas kasar.


Mobil yang melaju di jalan raya kini akhirnya tiba di parkiran rumah sakit. Dimana Arisha berniat menggandeng tangan sang suami, justru di tepis kasar oleh Reifan.


Bagaimana pun hubungan mereka, Arisha tak ingin orang luar tahu keadaan mereka saat ini. Banyak dokter yang sangat kenal baik dengan Arisha mau pun Reifan.


"Jangan pernah memanfaatkan keadaan untuk membodohi aku, Arisha." Arisha menggeleng tak percaya mendengar ucapan sang suami.


"Rei, tolong bersikaplah hangat padaku kali ini saja. Aku mohon..."


"Rei!" Suara panggilan dari arah lain tiba-tiba saja membuat keduanya menoleh.


Suara wanita yang bagi Arisha sangat tidak asing. Di lihatnya wanita cantik dengan langkah cepat berlari ke arah mereka. Arisha menoleh menatap kembali sang suami.


"Jadi sejak tadi dia yang selalu mengirim pesan padamu, Rei?" tanya Arisha sangat terkejut.

__ADS_1


Niat hati membawa sang suami keluar untuk menghindari wanita ini, justru Gina datang di tempat mereka akan kunjungi.


"Aku akan menemani Reifan periksa. Sebaiknya kau pulang saja atau menunggu di mobil. Tidak masalah kan?" sahut Gina dengan santainya berkata demikian pada Arisha.


"Tentu saja masalah. Aku adalah istrinya. Dan kau hanya wanita asing yang tidak pantas sama sekali mengantar suami orang lain." ketus Arisha berkata.


Gina menatap sendu pada Reifan seolah meminta pembelaan. Lama Reifan berdiam tak merespon sampai akhirnya ia bersuara.


"El, pergilah. Di sini banyak rekan kerjaku dan temannya. Akan jadi bahan bicara jika kita berdua kemari." tutur Reifan untuk pertama kali mengikuti ucapan Arisha.


Tentu saja Arisha tersenyum dalam hati mendengar apa keputusan sang suami. Sebab sebelumnya ia pikir Reifan akan berpihak pada Gina. Namun, dari cara bicara Reifan rasanya membuat hati Arisha ngilu. Bagaimana sang suami berbicara lembut pada wanita lain. Sedangkan dengannya Reifan begitu dingin.


"Rei..." Gina bersuara lembut dan manja sembari menampakkan wajah kecewanya. Berharap Reifan akan merubah keputusannya agar ia tak malu di depan Arisha.


"Aku hanya memberitahumu untuk aku ke rumah sakit. Bukan memintamu untuk kemari, El. Apa kata orang nanti?" Reifan pun menarik tangan Arisha berjalan ke dalam rumah sakit. Tanpa perduli bagaimana Gina menatapnya kesal.


Setelah berjalan di lorong rumah sakit barulah Reifan melepas genggaman tangan itu. Arisha sedih dengan perlakuan sang suami. Sampai di mana mereka memasuki ruangan dokter saat ini.


"Wah wah sepertinya Pak Rei di urus dengan baik yah oleh Dokter Arisha? Pasien saya yang lain mengalami hal yang sama dengan Pak Reii banyak yang membuat istrinya mengeluh. Tapi, saya yakin Dokter Arisha tidak akan mengeluh merawat suaminya." Sang dokter menyapa keduanya dengan wajah tersenyum ramah.


"Tidak ada yang perlu di keluhkan, Dokter. Saya dan suami saya menjalani semuanya dengan semestinya." Mereka tersenyum kecuali Reifan yang hanya menarik sedikit bibirnya untuk merespon senyum dokter di depannya.


Sementara di parkiran kini Gina mengumpat kesal di dalam mobil. Menunggu Reifan yang justru tidak kunjung keluar.


"Dok, hari ini saya berniat mengajak suami ke puncak. Apa itu tidak masalah untuk kesehatannya?" tanya Arisha yang memang berniat ingin mengasingkan diri dengan sang suami dari incaran ibu mertua serta Gina.


"Wah itu sangat baik, Dokter Arisha. Di puncak suasananya sangat tenang dan nyaman. Setidaknya pikiran Pak Reifan akan sedikit rileks di sana dan itu bagus untuk pemulihan syaraf beliau." Arisha mengangguk senang. Tidak dengan Reifan yang hanya berwajah datar saja.

__ADS_1


__ADS_2