
"Rei, makanlah. Aku sudah buatkan cemilan ini untukmu." Arisha tersenyum menyodorkan cemilan yang baru saja ia buat di dapur bersama bibi.
Kini keduanya duduk di tepi kolam yang menghadap langsung ke arah gunung di depan sana. Tak ada sahutan ucapan terimakasih yang Reifan berikan pada sang istri.
Matanya sibuk memainkan ponsel sembari mendengar teriakan-teriakan manja dari Gina yang sibuk berenang kesana kemari di bawa sana. Arisha sangat kesal namun ia tak ingin marah di depan sang suami. Jangan sampai ia membuat kesalahan di depan Reifan. Gina tengah berada di posisi aman saat ini karena Reifan merasa dekat dengannya.
"Seorang suami bukankah tidak boleh melihat aurat wanita lain selain istrinya? Meski kau merasa dekat dengannya tapi itu tetaplah salah, Reifan." Pelan Arisha memberi peringatan pada sang suami.
Tangan pria itu bergerak menikmati cemilan yang di buat Arisha.
"Rei, ayo ikut berenang. Airnya sangat segar," panggil Gina mencoba mengalihkan pembicaraan Arisha dengan Reifan.
"El, naiklah. Udara sangat dingin. Nanti kau bisa masuk angin." tutur Reifan kian lembut terdengar. Arisha menatap sendu sang suami.
Biasanya perhatian itu ia dapatkan juga dari sang suami. Namun, saat ini dunia seperti sedang memberikan masa manis untuk Reifan mengenang kembali hubungannya dengan Gina.
"Tarik aku kalau begitu." pintah Gina menjulurkan tangan. Tubuh seksi yang hanya berbalut dalaman saja menampakkan seluruh lekuk tubuhnya yang mulus. Arisha yang tak kuasa melihat sang suami melangkah mendekat ke arah Gina hanya bisa memalingkan wajah.
__ADS_1
"El, apa yang kau lakukan?" Saat itu Reifan sudah berteriak kencang kala merasakan tubuhnya hilang kendali dan ketika Arisha menoleh sang suami sudah tercebur ke kolam ikut bersama Gina.
"Hahaha kena kau, Rei. Ayo kejar aku." Gina berenang kesana kemari ketika Reifan ingin menangkapnya.
"El, ayo naik. Awas kau yah akan ku beri hukuman." teriak Reifan yang hanya mendapat tawa dari Gina.
Gadis itu nampak begitu lincah berenang sampai menyelam menghindari kejaran Reifan. Panas rasanya Arisha rasakan di kedua bola matanya menyaksikan keduanya saling kejar dan tertawa di kolam.
"Aku benar-benar tidak tahan seperti ini." ujar Arisha melangkah meninggalkan keduanya. Ia berlari masuk ke dalam kamar setelah bertemu Bibi.
"Baik, Nyonya."
Persis seperti apa yang Arisha katakan, sang Bibi menjaga keduanya dari jarak jauh. Bagaimana pun Arisha tidak ingin sang suami melakukan hal yang berbau kontak fisik pada wanita mana pun. Meski saat ini ia tak bisa melakukan apa pun. Sebab Dokter mengatakan untuk terus mendukung perkembangan kesehatan sang suami.
Di kamarnya Arisha memilih mengistirahatkan tubuhnya. Cukup lelah rasanya ketika harus mengemudikan mobil selama perjalanan tanpa di ganti siapa pun. Sedangkan Gina hanya menjadi beban di mobil itu tanpa berniat menyupir.
"Arisha," panggilan dari Reifan nyatanya tak terdengar sama sekali oleh wanita yang tengah patah hati itu.
__ADS_1
"Arisha." Kembali Reifan memanggilnya namun hasilnya nihil.
Pria tersebut kebingungan harus mencari pakaian dimana. Alhasil semua lemari di kamar itu ia buka dan ternyata ada banyak pakaian pria di dalamnya yang sesuai dengan ukuran tubuh Reifan.
"Apa sebanyak ini persediaan yang dia siapkan? Untuk apa?" batin Reifan bertanya-tanya. Melihat jajaran pakaian di dalam lemari tampak lengkap dan rapi.
Acuh, Reifan memilih untuk memakai pakaian dan menuju keluar kembali. Ia ingin berjalan-jalan di sekitar puncak menikmati udara yang segar.
"Rei, mau kemana?" tanya Gina melangkah cepat melihat Reifan baru keluar dari kamarnya.
Pandangan Reifan langsung tertuju pada pakaian yang Gina kenakan. "Kenapa kau selalu memakai pakaian seperti itu, El? Tidak baik pria melihatmu seperti ini. Lihat Arisha, pakaiannya sangat sopan. Pakailah baju seperti itu." pintah Reifan tak setuju kala melihat celana hotpans yang Gina kenakan serta atasan crop yang memperlihatkan perut mulus dan langsing tanpa lemak.
"Apa sih kok bandingin aku sama Arisha? Yah jelas beda dong, Rei." Gina merubah raut wajahnya menjadi menekuk.
Reifan yang memang tak tega melihat itu segera mengusap kepala Gina dengan sayang. "Ayo temani aku berkeliling."
Dengan senang hati Gina mengangguk. Ia mengikuti Reifan berjalan tanpa bisa menggandeng tangan pria itu. Reifan saat ini mulai menjaga jarak dengan Gina ketika menyadari hubungannya dengan Arisha adalah suami istri.
__ADS_1