
Satu persatu menunduk mendapatkan tatapan tajam dari Reifan. Nalendra sangat takut saat ini. Bayangan bagaimana marahnya Reifan ketika sadar jika dirinyalah yang membuat Arisha semakin menghilang.
“Rei, Ibu tidak tahu sama sekali. Arisha tiba-tiba saja menghilang. Tenangkan dirimu, Nak. Kamu masih harus istirahat.” Baru saja Dara hendak mendekati Reifan, pria itu justru bersuara lantang.
“Hentikan omong kosong ini. Ibu dan Nalendra bekerja sama untuk dia kan? Cepat katakan dimana Arisha? Atau aku akan menuntut kalian semua!” Teriak Reifan habis sudah kesabarannya.
Ternyata perasaannya pada Arisha memang sangatlah dalam di masa lalu. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan perasaan itu.
“Kak, maafkan saya.” Kini suara Nalendra akhirnya terdengar gemetar.
Sejak dulu ia sangat menghormati sang Kakak hingga kini ia begitu takut jika melihat sang kakak marah. Terlebih ini semua adalah salahnya.
Semua mata kini bergerak memandang Nalendra.
“Awalnya saya sudah menemukan Kakak ipar. Tapi, orang itu ternyata membawa kabur kembali Kakak ipar. Saya tidak tahu apa yang membuat orang itu membawa pergi Kakak ipar lagi? Sebab di awal alasannya hanya ingin memberi pelajaran pada Kak Rei tidak lebih. Maka dari itu saya tidak melanjutkan kasus ini.” Reifan menatap tajam sang adik yang ketakutan.
Nalendra berkata benar, meski sebenarnya di tengah-tengah jalan ia berubah pikiran untuk membawa Arisha pulang. Ia ingin mengamankan Arisha dulu sampai sikap Reifan berubah menjadi baik.
Sayangnya semua sudah terjadi di luar dugaan. Reifan marah dan turun dari ranjang. Layangan tinju mendarat sempurna di wajah Nalendra. Dengan tenaga yang susah payah ia keluarkan, Reifan menghajar sang adik untuk pertama kalinya.
“Reifan! Rei, berhenti!” Teriak Gina.
“Reifan! Reifan, dia adikmu. Jangan memukulnya seperti ini.” Dara ketakutan segera memeluk tubuh Nalendra.
Ia memasang badan jika saja Reifan tetap ingin memukul Nalendra. Secepat kilat Reifan mengayunkan tangannya hendak memukul namun terhenti di udara. Melihat tubuh seorang wanita paruh baya di depannya sudah memeluk erat tubuh Nalendra.
__ADS_1
“Ingat Nalendra, kamu harus bertanggung jawab atas ini semua. Arisha harus segera kembali. Jika sampai terjadi sesuatu dengan istriku, maka aku tidak akan memberimu ampun!” Reifan menunjuk wajah sang adik yang memar.
Pria itu menarik paksa selang infus yang menempel di punggung tangannya. Tampak tetesan darah terlihat di lantai ruang rawat itu.
“Rei, mau kemana?” tanya Gina menggenggam tangan Reifan.
Pria itu dengan kasarnya menepis tangan sang mantan. Ia melangkah keluar dari ruang rawat meninggalkan Gina yang pupus harapan. Jelas Gina melihat Reifan sudah tahu siapa dirinya. Tatapan yang begitu jijik menandakan jika Gina harus kembali ke kehidupan sebelumnya. Menjauh dari Reifan dan bekerja untuk masa depannya.
“Tan, bagaimana ini? Reifan sudah ingat semuanya?” Kini Gina mendekati Dara dan Nalendra.
Mendengar keluhan Gina tentu saja Nalendra tersenyum tipis. Senang jika Reifan telah ingat semuanya. Itu artinya ia tak perlu susah payah menjaga Arisha dari dua wanita ini.
“Nalendra, kita pulang. Wajahmu harus Ibu kompres.” sahut Dara yang jauh lebih mencemaskan sang anak.
“Gina, sekarang pulanglah. Tante harus pikirkan semuanya. Masih ada jalan, Arisha masih belum kembali. Yang artinya peluang juga masih besar.” ujar wanita paruh baya itu setelah melihat. Nalendra keluar dari ruangan itu.
Gina dan Dara mereka memutuskan pulang dari rumah sakit. Reifan yang di penuhi dengan emosi nampak mencegat taksi dan meminta di antar pulang. Ia akan mencari Arisha dengan pikirannya sendiri.
“Dimana kamu, Sayang? Arisha beri aku petunjuk.” gumam Reifan dalam hatinya.
Matanya berkaca-kaca mengingat bayangan sang istri yang sempat terasingkan olehnya. Bagaimana Reifan bertindak kasar pada Arisha jelas Reifan sangat sakit mengetahui wanita yang ia buat menangis adalah wanita yang sangat ia jaga selama ini.
“Brengsek!!!” Teriak Reifan dalam hati.
“Bagaimana mungkin aku justru mengidam-idamkan wanita sialan itu di sampingku? Membayangkannya saja aku sudah sangat jijik melihat Gina. Mengapa semuanya jadi seperti itu? Argh!!” Rutukan demi rutukan hanya bisa Reifan layangkan dalam hatinya.
__ADS_1
Kembali ke masa sebelumnya pun ia tak akan bisa.
Beda halnya dengan keadaan Arisha di sini. Sebuah pulau yang hanya ada satu tempat tinggal. Pemandangan yang sangat memanjakan mata, tubuh, dan pikiran ia dapatkan dari sosok penculik itu.
“Bagaimana? Bukankah ini sangat menarik untuk di nikmati?” tanya sang pria tampan tersenyum mendekati Arisha yang duduk di tepi pantai.
Tubuhnya basah akibat percobaan melarikan diri yang berujung Arisha kelelahan berenang. Ombak begitu tinggi, Arisha pun tak biasa berenang di luat lepas seperti ini. Ia mengatur napas berulang kali.
“Tidak ada yang menarik bagi seorang wanita yang sudah menikah dan mencintai suaminya selain menetap di rumahnya.” ketus Arisha.
Pria itu sama sekali tak mengambil pusing atas ucapan Arisha. Ia hanya terkekeh menggelengkan kepala.
“Arisha, seharusnya kau berterimakasih padaku telah membawamu ke tempat indah ini. Aku yakin Reifan pasti tidak pernah membawamu ke tempat seperti ini bukan?” tanyanya tersenyum.
Arisha yang semula memandang laut lepas di depan sana menatap wajah pria itu kesal. Kesal sebab ucapan pria itu memang benar adanya. Selama menikah Reifan hanya baik dan mencintainya. Tak pernah sekali pun Reifan memikirkan waktu berdua mereka untuk pergi ke tempat yang indah.
Mungkin kini Arisha baru sadar jika cinta yang ia perjuangkan selama ini nyatanya tak sebesar cinta yang di dapat oleh Gina dari Reifan. Itulah yang membuat Reifan bisa mengingat sosok Gina di kala ingatannya hilang.
Sementara Arisha adalah perasaan yang Reifan usaha pupuk dan dalam sekejap ia bisa melupakan semuanya.
“Pernah atau tidak itu bukan urusanmu. Sekarag bawa aku kembali pulang.” sahut Arisha.
Bukannya menuruti ucapan Arisha, justru pria itu bergegas meninggalkan Arisha masuk ke dalam vila.
Ia yakin wanita itu tidak akan mencoba hal bodoh lagi dengan berenang menyebrangi lautan di pulau ini.
__ADS_1