
"Arisha, dengarkan aku dulu..." Reifan setengah mati mengikuti pergerakan sang istri yang begitu lincah menunjuk barang-barang di mall terbesar saat ini.
Meski Reifan terus saja mencegah sang istri, nyatanya Arisha masa bodoh. Pikiran wanita itu sedang di kuasai api cemburu saat ini. Dari ranjang, kasur, selimut dan semua keperluan di kamar mereka benar-benar Arisha ganti sampai lemari pakaian dan juga ambal serta lap kaki yang terdapat di dekat ranjang mereka.
Reifan menghela napas tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi istrinya. Beberapa kartu kredit di tangan Arisha tak ada yang menganggur saat ini. Entah sudah berapa banyak uang yang wanita itu keluarkan untuk mengganti semua barang di kamar mereka.
"Arisha, Sayang..." panggil Reifan kembali.
"Diamlah, Rei. Aku mampu membayar ini semua. Bahkan kartu kreditmu pun masih di tanganku. Lihat ini...semua juga karena ulahmu berani membawa wanita lain saat aku tidak ada. Saat kamu lupa ingatan oke aku akan pahami. Tapi, di sini kamu sudah ingat semuanya bukan?" Reifan terdiam tak tahu harus menjawab apa lagi.
Diam mungkin keputusan yang tepat sebab di sini mereka tengah berada di tempat umum. Rasanya tidak baik jika pertengkaran mereka di dengar oleh orang lain. Terlebih Arisha yang sulit mengontrol emosinya saat ini setiap kali berbicara suaranya akan terdengar lantang.
__ADS_1
"Oke pakailah sesukamu, Sayang. Maafkan aku yah?" ujar Reifan yang kini pasrah dan mengikuti semua apa yang sang istri tunjuk.
Hari itu keduanya habiskan dengan berbelanja besar-besaran. Begitu pun yang terjadi di rumah mereka. Semua pelayan sibuk membereskan kamar sang majikan. Tepat ketika Dara tiba di rumah sang anak, betapa terkejutnya ia melihat pekerjaan sang pelayan.
"Tunggu, Bibi ada apa ini? Kenapa di keluarin semua?" tanya Dara kaget. Sebab semua barang-barang itu masih sangat bagus dan tentu ketika Arisha membelinya bukan dengan harga murah.
"Nyonya Arisha yang minta di keluarkan, Nyonya." jawab sang pelayan yang membuat Dara membulatkan matanya.
"Di keluarkan, Nyonya. Yah di buang maksudnya." jawab pelayan sontak membuat Dara membulatkan mata semakin lebar.
"Apa? Arisha yang minta ini? Benar-benar keterlaluan anak itu." Geram rasanya Dara mendengar kelakuan sang menantu.
__ADS_1
Semua barang itu bukan barang murah dan bagaimana mungkin Arisha begitu mudahnya membuang semua barang itu.
"Berhenti! Jangan ada yang di keluarkan. Kembalikan semua ke tempat semula. Sekarang!" teriak Dara yang membuat para pekerja terdiam bingung.
Jelas mereka mendapat perintah sang majika untuk mengeluarkan barang itu Namun, kini Dara datang sebagai Nyonya besar justru meminta untuk di kembalikan ke tempat semula.
Lama mereka semua diam tak mengerjakan perintah majikan besar. Sampai akhirnya Arisha dan Reifan pun tiba di rumah tentu dengan beberapa mobil yang sudah ikut di belakang mobil mereka. Melihat itu Dara naik darah. Kedua tanganya ia letakkan di pinggang seolah siap untuk berperang dengan sang menantu.
"Apa-apaan ini Arisha? Reifan?" tanya Dara yang menghampiri keduanya.
"Ibu," ujar Arisha tampak biasa saja. Sedangkan Reifan hanya berwajah datar masih tak ingat siapa wanita di depannya ini.
__ADS_1
Andai bukan hilang ingatan mungkin Dara sudah mengatai Reifan sebagai anak durhaka yang tidak ingat dengan jasanya melahirkan sang anak.