
Pagi menjelang siang ketiganya justru duduk di sofa atas perintah Nalendra. Tatapannya begitu serius memperhatikan ekspresi kedua kakaknya itu. Arisha nampak biasa tanpa mengatakan apa pun. Sementara Reifan kesal sebab sang adik berani memerintah dirinya.
"Cepat katakan. Kita tidak punya banyak waktu. Kakakmu juga ada pasien yang menunggu." ujar Reifan.
Pria tampan berstatus single itu tampak mencondongkan tubuh ke arah meja di tengah-tengah mereka dengan tangan yang meletakkan map yang entah apa isinya. Arisha dan sang suami saling pandang sebelum Reifan mengambilnya.
"Apa itu?" tanya Reifan.
"Bacalah, Kak. Dan aku tahu Kak Arisha melakukan itu semua demi kenyamanannya dan keutuhan pernikahan kalian." Yah itulah keputusan Nalendra akihrnya.
Pagi-pagi ia sangat bimbang memikirkan apa yang harus ia lakukan. Berdiam saja membiarkan semuanya terjadi begitu saja rasanya tidak mungkin untuk Nalendra. Ia tak akan tega membiarkan kakak iparnya memikirkan beban berat seorang diri.
Arisha meneguk kasar salivahnya setelah mendengar ucapan sang adik ipar. Ia baru ingat tentang map yang kemarin ia bahas bersama sang ibu mertua. Reifan pun tak ingin membuang waktu. Pria itu mengambil map membukanya dan membaca. Mulanya ekspresi wajah tampannya tampak serius sampai akhirnya terlihat kedua alisnya mengerut.
__ADS_1
"Rei...aku bisa jelaskan ini padamu." Arisha takut jika suaminya akan marah padanya.
Sama saja jika dirinya mengkhianati kepercayaan sang suami. Bertindak seorang diri tanpa diskusi tentu membuat Reifan merasa seperti suami tak berguna.
"Kak Arisha benar, Kak. Ini semua tidak perlu di permasalahkan. Ini semua sumbernya dari Ibu kita sendiri." Nalendra pun turut membela.
Sudah jelas dalam pikirannya akan terjadi pertengkaran. Yang bisa ia lakukan hanya membela Arisha. Sebagai pengantar berita Nalendra tak ingin sampai keduanya bertengkar karenanya.
"Rei, mau kemana? Tunggu! Reifan!" teriak Arisha ketika tiba-tiba suaminya beranjak dari sofa.
"Ndra, ayo kejar Reifan. Ini bahaya, dia masih sakit." Arisha sangat panik.
Nalendra pun berlari menuju mobil di ikuti Arisha. Keduanya melaju meninggalkan rumah siang itu juga.
__ADS_1
Reifan yang terlalu emosi sampai menggelengkan kepala berulang kali. Tak habis pikir dengan keputusan sang istri dan juga sang ibu.
"Mereka benar-benar keterlaluan. Ibu tidak seharusnya seperti ini. Aku mencintai istriku, bagaimana mungkin aku berpisah dengannya jika perjanjian itu tidak berhasil?" umpatnya sepanjang jalan.
Melajukan mobil layaknya orang yang sudah ingat semuanya. Reifan masih tidak menyadari jika ia sudah ingat tentang mengendarai mobil, tentang jalanan yang cukup macet. Bahkan dengan lihai pria itu melewati jalanan tikus agar bisa lebih cepat tiba di rumah sang ibu.
Di belakangnya Arisha dan Nalendra di buat saling pandang heran.
"Kak, apa Kak Rei sudah ingat semuanya? Bahkan ini jalan tikus yang banyak belokannya." sahut Nalendra sepemikiran dengan Arisha.
"Kakak juga tidak tahu, Ndra. Apa di mobil itu ada supir mungkin yang iku dengannya?" ujar Arisha menduga. Sebab rasanya tidak mungkin sang suami bisa melajukan mobil dengan lihai seperti itu.
"Kakak tidak lihat yah di pagar tadi security sama supir lagi duduk ngopi?" Arisha terdiam. Ia sampai tidak memperhatikan hal itu.
__ADS_1
"Yasudah cepat lajukan mobilnya. Bahaya jika benar Kakakmu nekat melajukan mobil sendiri seperti itu."