Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Kecemburuan Reifan


__ADS_3

Suasana mendadak riuh di halaman rumah milik Reifan. Pria itu yang berniat bertemu dengan seorang detektif urung melangkah menuju mobil. Matanya menatap bingung siapa gerangan yang membawa helikopter sampai ke halaman rumahnya. Bahkan dirinya saja tak pernah melakukan hal itu. Beberapa pelayan pun ikut heboh saat ini menunggu siapa gerangan yang akan turun dari helikopter itu.


"Arisha?" gumam Reifan berdiri diam mematung melihat sosok wanita yang baru turun dari helikopter.


"Reifan!" Arisha yang tersenyum senang melihat sang suami menatapnya seketika berlari mendekati Reifan. Arisha memeluk pria itu tanpa perduli bagaimana banyak mata yang memandangnya saat ini.


Mereka bahkan tak perduli jika di dekat helikopter ada seorang pria yang berdiri menatap datar pemandangan suami istri yang tengah berpelukan. Terlihat bagaimana Reifan saat ini yang memeluk Arisha begitu eratnya. Pertanda jika ia benar mencemaskan sang istri.


"Aku mencarimu kemana-mana. Apa kau baik-baik saja?" tanya Reifan yang sibuk memegang lengan sang istri seolah mencari apakah ada yang terluka di sana.


"Rei..." Arisha justru menghentikan aksi sang suami. Arisha memilih menangkup wajah Reifan agar mengarah tepat pada wajahnya. Mata bulat hitam kecil milik Arisha menatap dalam bola mata sang suami.


Bisa Reifan lihat jika saat ini Arisha menahan air mata di sana. "Hei...maafkan aku, Sha." ujar Reifan namun Arisha menggeleng.

__ADS_1


"Aku yang meminta maaf padamu, Rei. Aku meninggalkanmu di saat seperti ini. Aku tidak seharusnya pergi." Itulah kecemasan Arisha selama ia jauh dari sang suami.


Arisha takut jika Reifan tak mendapat perawatan yang baik dari orang lain. Hanya dirinya lah yang ia yakini sanggup menghadapi Reifan sekali pun Arisha sering di buat menangis.


"No. Aku yang minta maaf. Aku sudah begitu kasar denganmu." tambah Reifan.


"Apa itu artinya kau mengingat semuanya?" tanya Arisha dan Reifan mengangguk.


Kini Arisha memeluk kembali tubuh sang suami. Bahagia rasanya ketika ia pulang dengan segala kecemasan dan kerinduan justru ia di sambut dengan kabar bahagia jika sang suami sudah tak lagi lupa ingatan.


"Bagus! Bagus! Ini yang ku harapkan, Reifan. Aku membawa Arisha kembali padamu sebab aku memberimu kesempatan untuk membahagiakannya. Tapi, jika aku tahu dia tidak bahagia bersamamu maka bersiaplah Arisha akan ku bawa pergi." Reifan mengeratkan rahangnya mendengar ucapan pria di depan sana.


"Apa hakmu? Arisha adalah istriku!" teriak Reifan geram mendengar ancaman Wisnu.

__ADS_1


Harga dirinya sebagai seorang suami terasa di hina ketika Wisnu seolah mengatakan jika Arisha berada di bawah kendalinya.


"Rei, tenanglah. Ingat tubuhmu belum pulih sepenuhnya." tutur Arisha cemas bukan main. Takut jika sang suami justru membuat kerusuhan dengan Wisnu.


"Arisha adala sepupuku. Dia adalah keluargaku yang sangat aku sayangi. Kau hanya suami yang baru hadir di dalam hidupnya. Maka, jangan sampai telingaku mendengar Arisha kembali menangis. Kau tidak akan bisa bertemu dengannya seumur hidupmu lagi." Bukan hanya Reifan yang kaget mendengar itu. Arisha pun sama kagetnya. Mata wanita cantik itu membulat sempurna.


"Wisnu?" gumam Arisha bertanya pada diri sendiri. Siapa gerangan pria yang bersamanya beberapa hari terakhir ini. Sampai akhirnya ingatan jatuh pada bocah gendut hitam dan dekil yang ada di masa kecil Arisha.


"Wisnu gentong?" sahut Arisha menunjuk pria tampan di depannya dengan wajah penuh rasa tak percaya.


"Arisha, rem sedikit gelarnya." sahut Wisnu yang tidak terima di sebut gentong seperti para keluarga memanggilnya dulu.


"Kau mengenalnya, Sha?" tanya Reifan menatap sang istri curiga.

__ADS_1


Tentu saja Reifan cemburu sebab Arisha bersama pria tampan selama beberapa hari tanpa ia tahu dimana mereka berada.


__ADS_2