Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Kecemburuan Reifan


__ADS_3

"Aku hanya ingat bayangan wanita selingkuh di depanku dan menangis meminta maaf." tutur Reifan ketika memeluk tubuh sang istri dari belakang. Posisi yang sangat manis di lihat ketika berdiri dengan tubuh polos di bawah guyuran shower kamar mandi.


Arisha bergerak melepaskan pelukan sang suami dan memutar tubuhnya untuk menghadap pada Reifan. "Kamu mengingat semua tentang wanita itu?" tanyanya terlihat tak suka.


Sebab tentang hubungan Reifan dan Arisha, masih belum semuanya mampu pria itu ingat. Tentu saja Arisha kini cemburu. Bahkan ia ingat bagaimana pertama kalinya Reifan yang sadar justru lebih percaya pada Gina di bandingkan istrinya sendiri.


"Arisha, dengarkan aku dulu. Arisha, hei." Reifan susah payah menahan tubuh sang istri ketika melihat Arisha melangkah menjauh darinya.


"Yah ngambek lagi." Pusing Reifan menghadapi Arisha yang selalu naik darah. Reifan mengejar sang istri dan memeluknya lagi.


Jujur inilah yang selama ini Arisha rindukan. Sosok suami yang selalu tahu cara memperlakukan istrinya. Sudah lama rasanya Arisha tak mendapatkan perhatian dari Reifan, dan kini waktunya ia mengekspresikan semua kemarahannya selama ini yang hanya bisa ia pendam dalam sabarnya mengurus sang suami.


"Tidak semuanya, Sayang. Hanya beberapa saja yang ku ingat. Maka dari itu bantu aku mengingat semua tentangmu." tambah Reifan.


"Apa tentang dia juga?" tanya Arisha mengungkit kembali soal Gina. Namun, Reifan terlihat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Keduanya pun berjalan menuju kamar untuk memakai baju. Arisha melayani sang suami dengan baik. Semua kebutuhan Reifan ia siapkan sampai Reifan hanya bergerak untuk memasukkan pakaian ke tubuhnya saja.


Tak lama setelahnya terdengar ketukan pintu di luar kamar mereka. "Nyonya, Tuan, makan malam sudah siap." Ternyata pelayan yang datang memberi tahu makan malam. Arisha pun mengiyakan dan segera bersiap keluar kamar.


Keduanya nampak begitu harmonis dengan Arisha yang berjalan di samping suaminya bergandengan tangan. Reifan terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Pria itu berwajah cerah tak terlihat menakutkan lagi. Melihat majikannya bahagia, pelayan tersenyum senang.


"Kok Bibi senyum-senyum sih?" Arisha memperhatikan ekspresi sang pelayan sebelum ia duduk di kursi meja makan. Reifan turut ikut melihat.


"Saya cuman senang melihat Tuan dan Nyonya akur seperti ini. Semoga saja selamanya akan terus seperti ini." ujar pelayan itu yang di aminkan oleh Arisha.


Mereka pun makan dengan tenang, sesekali Reifan menyuapi sang istri. Tawa keduanya pecah ketika hidung Arisha harus menjadi korban suapan sang suami yang tiba-tiba jahil.


"Wajahku sudah bersih. Jangan di buat kotor lagi, capek tahu pakai cream lagi." rajuknya dengan memajukan bibir.


Mereka terus saja bercanda di sela-sela makan malam sampai akhirnya suasana itu berubah hening kala terdengar suara dari arah luar rumah mereka.

__ADS_1


"Malam Kak Rei, Kak Arisha." Suara yang sangat familiar bagi mereka semua.


Dimana sosok yang tak pernah lagi Arisha lihat kini berjalan mendekat dengan membawa buah tangan.


"Ndra," ujar Arisha menyapa sang adik ipar.


Reifan yang masih tak percaya jika sang adik adalah pria baik-baik nampak menatap tak suka. Nalendra duduk di sampingnya tanpa kata permisi.


"Nalendra, ayo makan malam bersama." Arisha membalik piring sang adik ipar lalu mengambilkan makanan. Hal itu terus di perhatikan oleh Reifan. Ia tak suka ada pria lain yang di perhatikan oleh istrinya.


"Sini biarkan aku saja." Tangan Reifan bergerak cepat mengambil sendok di tangan sang istri.


Jika semua menyangka Reifan akan menggantikan yang Arisha ingin lakukan pada Nalendra nyatanya salah. Justru pria itu menyodorkan sendok sayur pada Nalendra.


"Punya tangan. Bisa ambil sendiri kan?" ujar Reifan yang terdengar tak suka pada sang adik.

__ADS_1


Melihat sikap kakaknya, Nalendra justru menahan tawa dengan menggelembungkan pipinya. Ia tahu sang kakak saat ini sedang kesal karena Arisha begitu perhatian padanya.


"Aduh Kak Rei, aku sudah terbiasa seperti ini jika ada Kak Arisha bersamaku. Iya kan, Kak Arisha?" tanya Nalendra yang membuat Arisha mengangguk tersenyum senang.


__ADS_2