Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Ikut Ke Puncak


__ADS_3

Berniat ingin menenangkan pikiran sang suami dengan membawanya ke puncak, Arisha justru di buat naik pitam melihat Gina yang memaksa mengikuti mereka dengan naik ke dalam mobil Arisha. Wanita itu duduk di belakang setelah tak bisa Arisha cegah untuk ikut. Sepanjang perjalanan suasana hanya hening. Sebab Reifan pun tak berbicara satu kata pun. Ia memilih memejamkan mata karena mengantuk. Tentu saja hal itu lantaran pengaruh obat yang di berikan sang istri.


"Rei, perjalanan masih jauh. Apa kau tidak bisa ikut pindah ke belakang menemani aku?" tanya Gina dengan manja.


Gadis itu nampak mendekati Reifan yang posisinya duduk di samping kursi kemudi. Arisha terkekeh mendengar ucapan Gina yang tak mendapatkan respon dari sang suami.


"Apa begini yah kualitas gadis pekerja internasional?" ledek Arisha pada Gina.


"Kamu menyindirku, Arisha? Ingat yah aku pulang ke negara ini kembali itu demi Reifan. Jadi, jangan berani-berani menyindirku." ketus Gina berucap.

__ADS_1


Arisha menggeleng sembari tetap fokus menyetir. Rasanya sangat menjengkelkan ketika waktunya yang seharusnya bersama sang suami saja harus terganggu dengan orang lain.


"Aku bukan menyindirmu, Gina. Memangnya belum jelas jika aku mengatakan itu untukmu?" Sangat dalam Gina menarik napasnya kesal mendengar ucapan Arisha yang terasa begitu menghina dirinya.


"Kau! Awas saja. Dasar menantu tidak di restui. Usia pernikahanmu dengan Reifan sedang terancam Arisha. Jangan terlalu berbangga diri dengan apa yang kau punya saat ini. Bahkan Reifan saja mencampakkan kamu saat ini. Dia tahu wanita mana yang jauh lebih dia cintai."


Bohong jika Arisha tak terbakar api cemburu saat ini mendengar ucapan Gina. Dimana ia memang sangat tahu dulu Reifan begitu mencintai Gina sampai akhirnya tragedi perselingkuhan terkuak oleh pria itu. Susah payah Arisha mendapatkan cinai Reifan di tengah pria itu berusaha menyembuhkan kekecewaan yang ia dapatkan dari Gina.


Ia berusaha sabar untuk tidak mengamuk. Kacau kalau sampai Reifan bangun dan mendengar keributan. Kepalanya belum begitu normal untuk mendengar keributan. Tentu ia akan mudah merasa sakit dan marah. Gina pun tak ingin jika Reifan sampai berakhir mengamuk di mobil dan mengusirnya keluar.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu kini akhirnya mobil yang Arisha kemudikan sudah tiba di sebuah vila. Dimana udara sejuk begitu segar menyerap ke indera penciuman.


"Rei, bangun. Reifan, kita sudah sampai." panggil Arisha yang memilih memegang lengan sang suami.


Saat itu juga Reifan menepis kasar tangan sang istri. Matanya yang memerah begitu menakutkan ketika melotot.


Arisha sadar jika sang suami tak suka di sentuh segera menjauhkan tangannya. Ia tak ingin bertengkar di depan Gina.


"Rei, akhirnya sudah bangun juga. Ayo turun kita sudah sampai." sahut Gina mengambil alih pandangan Reifan ketika sudah membuka pintu mobil di samping pria itu.

__ADS_1


"Maaf, aku ketiduran." sahut Reifan berbicara pada Gina.


Melihat respon hangat itu, Gina tersenyum meledek pada Arisha. Dan Arisha hanya bisa memalingkan wajah ke arah lain. Ia turun dari mobil ketika pelayan di villa itu menyambut kedatangan mereka.


__ADS_2