Penantian Cinta Sejati Kembali

Penantian Cinta Sejati Kembali
Memindahkan Arisha


__ADS_3

"Bagaimana, Tuan?" tanya Bibi yang melihat Reifan hanya menggelengkan kepalanya kala panggilannya tak kunjung di jawab oleh Arisha.


"Tapi terakhir saya hubungi ponsel Nyonya Arisha memang Tuan Nalendra yang mengangkatnya, Tuan. Adik Tuan sendiri. Mungkin Tuan Nalendra juga masih mencari keberadaan Nyonya Arisha." papar Bibi membuat kening Reifan mengernyit.


"Adik saya?" tanyanya masih tak ingat siapa saja anggota keluarga pria itu.


Bibi tampak menganggukkan kepalanya. Segera saat itu juga Reifan meminta Bibi untuk menemaninya bersama supir di rumah mencari keberadaan Arisha. Sesuai dengan saran Bibi, Reifan hanya patuh. Ia benar-benar tidak tahu apa pun saat ini. Berharap berbekal petunjuk sang pelayan ia bisa menemukan Arisha. Reifan merasa sangat gelisah, takut suatu hal buruk menimpa sang istri. Sebagai suami ia wajib melindungi Arisha sekali pun Reifan tidak tahu bagaimana dengan perasaannya saat ini.


"Selamat datang, Tuan Reifan..." sapaan terdengar dari arah dalam klinik.


Reifan tentu saja tampak canggung. Matanya mengedar sejenak memperhatikan keadaan di dalam klinik tersebut, cukup luas dan sangat nyaman.


Reifan menoleh pada Bibi yang berdiri di sampingnya. Ini adalah hal yang sangat langka seorang Reifan bepergian bersama pelayan di rumahnya.


"Mereka semua mengenal Tuan sebagai suami dari pemilik klinik ini, Tuan." sahut Bibi menjelaskan.


Reifan tercengang tak percaya jika istri yang selama ini ia caci maki memiliki sebuah klinik besar seperti ini. Arisha adalah wanita yang hebat tentunya.

__ADS_1


"Apa saya bisa bertemu dengan istri saya?" tanya Reifan terasa kaku ketika ia menyebut istri.


Semua mata saling melempar pandang. Tentu mereka begitu bingung sebab Arisha sudah tak ada kabar beberapa hari ini dan mereka juga heran mengapa sebagai suami, Reifan justru tidak tahu apa pun.


"Maaf, Tuan. Bahkan kami ingin menanyakan pada anda tentang keberadaan Dokter Arisha. Sebab klien kita sudah banyak yang protes karena jadwal yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan kehadiran Dokter Arisha." jelas salah satu perawat di klinik itu.


"Mungkin kita bisa meminta bantuan pada pihak kepolisian, Tuan." sahut Bibi memberi saran.


Satu-satunya cara hanya itu. Dengan gerakan cepat Reifan segera menuju mobil bersama Bibi. Ia melakukan apa pun yang Bibi sarankan saat ini. Mereka tampak mendatangi salah satu kantor polisi untuk membuat laporan hilangnya Arisha.


Di sini Reifan duduk bersama Bibi di hadapan salah satu petugas kepolisian. Kedatangan mereka tentu di sambut dengan baik sebab Reifan bukanlah orang asing di mata mereka.


Terlebih Bibi yang tak percaya jika Nalendra sudah bisa menemukan Arisha namun tidak membawanya pulang.


"Pak Polisi, Tuan Nalendra kah itu?" tanya Bibi yang mendapatkan anggukan kepala dari pihak polisi tersebut. Bahkan ia memberikan berkas atas laporan yang Nalendra buat sebelumnya.


Reifan tak tahu harus mengambil langkah apa saat ini. Ia mendengarkan apa yang Bibi katakan.

__ADS_1


"Tuan, apa kita ke rumah utama sekarang untuk menanyakan pada Nyonya besar? Kemungkinan Tuan Nalendra membawa Nyonya Arisha ke rumah utama." Reifan pun melangkah pergi mengikuti saran Bibi.


Mereka berdua kembali meninggalkan kantor polisi dan bergerak menuju rumah utama.


Tak ada yang tahu jika di sini Arisha menangis memohon di lepaskan. Ia bahkan mengancam akan melompat dari sebuah helikopter.


"Arisha, berhenti. Kau akan mati jika nekat meloncat." teriak Wisnu Ariwibowo.


Wisnu Ariwibowo dalang utama dari penculikan Arisha. Sosok pria yang pernah datang berkunjung ke rumah sakit ketika Reifan mendapatkan perawatan. Sosok pria yang Arisha sendiri tidak mengenalnya. Ia hanya tahu berdasarkan pengakuan pria itu jika dirinya adalah rekan bisnis dari Reifan.


"Aku lebih baik mati dari pada harus pergi denganmu!" teriak Arisha.


Keadaan tubuhnya yang baru sadar dari obat bius membuat Arisha tidak tahu di mana mereka saat ini. Helikopter sudah terbang tinggi membawanya pergi entah kemana. Beberapa pria di dalam heli tersebut ikut mengawasi Arisha.


"Kemana kau membawaku? Aku harus pulang." sahut Arisha lagi.


Air matanya sampai menetes takut. Ia tak pernah mengenali pria yang bersamanya saat ini.

__ADS_1


"Hahaha...kau tidak perlu bertanya seperti itu, Arisha. Yang jelas aku tidak akan membuatmu menangis seperti yang Reifan lakukan." sahutnya tertawa menatap Arisha dengan penuh kagum.


Siapa yang tidak kagum dengan istri dari Reifan Palupi. Wanita cantik anak dari mantan pengusaha terkenal yang sudah meninggal. Namun, ia bisa tumbuh besar dalam karir yang cemerlang di kenal banyak orang atas jasanya membuka klinik kecantikan yang mampu mengatasi banyak keluhan para wanita. Arisha hadir menjadi pahlawan wanita yang sesungguhnya.


__ADS_2