
Kini pagi sudah begitu cepat kembali menyapa. Mentari pagi terlihat cerah menembus tirai di ruangan milik Reifan. Aneh tak seperti biasa dimana Arisha akan terus berada di sisinya. Justru pagi ini yang datang lebih dulu adalah sang mamah.
Wanita paruh baya yang datang membawa buah di tangannya nampak memperhatikan sekitar. Mencari sosok yang tidak ia temui.
“Dimana Arisha?” tanya Dara.
“Tidak tahu.” sahut Reifan datar.
Ia memilih menatap ke arah jendela. Jujur ia sendiri merasa kesal sebab Arisha tak mengurusnya di saat seperti ini.
Dan pada sang mamah Reifan tak tahu lagi harus berkata apa saat ini. Wanita yang menjadi istrinya bahkan tak ada bersamanya ketika sakit.
“Selamat pagi, Rei.” Sapaan dari arah pintu membuat Reifan mau pun sang mamah menoleh bersamaan.
Wanita cantik dengan penampilan rapi dan ceria membuat Reifan tak bisa untuk menahan wajahnya agar tidak tersenyum.
__ADS_1
“El,” sahut Reifan.
Mendengar itu Dara nampak tersenyum. Reifan jauh lebih hangat pada Gina dari pada dirinya mau pun Arisha. Itu tentu saja sebagai pertanda bagus. Dimana Gina mampu mengendalikan Reifan dari Arisha.
“Aku suapin sarapannya yah?” Kini Reifan kembali ke ranjang pasien setelah di bantu Gina membersihkan wajah.
Reifan menikmati setiap suapan yang di beri wanita itu. Obat yang di sediakan rumah sakit pun sudah ia minum.
Hingga waktu beranjak semakin siang, kehadiran Arisha belum juga nampak.
“Loh kenapa Arisha belum juga datang? Ini sudah siang. Benar-benar wanita itu.” umpat Dara kesal.
“Aku tidak tahu.” sahut Reifan sembari menggelengkan kepalanya.
Di tengah pembicaraan mereka, tak lama kemudian dokter pun datang. Ia memberi tahu jika keadaan Reifan sudah cukup baik. Dimana pasien telah di perbolehkan keluar hari ini.
__ADS_1
Dara tentu senang mendengarnya. Ini bisa menjadi kesempatannya untuk mengambil alih sang anak.
“Rei, kita pulang ke rumah Mamah saja yah? Kamu akan di urus dengan baik di rumah Mamah. Lihat, Arisha bahkan sudah tidak perduli lagi padamu.” ujar Dara yang langsung mendapat anggukan kepala dari Gina.
“Aku akan mengurusmu. Jika perlu dua puluh empat jam, Rei. Jangan kembali ke rumah itu. Sekarang Arisha tidak tahu sedang apa dan bersama siapa.” tambah Gina.
Reifan benar-benar bingung. Namun, pikirannya menolak untuk pulang ke rumah Mamah.
“Maaf. Tapi aku harus tetap berada di rumah itu. Aku adalah pemilik rumah itu. Di sana bahkan ada pelayan. Aku akan kembali ke rumah itu.” sahut Reifan menolak lembut ucapan Gina.
Bagaimana pun juga Reifan adalah seorang suami. Selama ingatannya belum pulih ia belum berani bertindak apa pun juga. Namun, tak ada yang tahu jika di hatinya kini mulai goyah tentang kepercayaannya pada sang istri.
“Aku selama ini kasar tapi tidak pernah menaruh curiga padamu, Arisha. Kenapa sekarang justru aku sulit percaya padamu.” gumam pria itu.
Mengingat semua yang Arisha lakukan begitu banyak pengorbanan. Tak sedikit pun wanita itu mengatakan menyerah menghadapi sikap Reifan.
__ADS_1
“Rei, ayolah…aku janji akan menjagamu. Aku tidak mau kau selalu dalam pengaruhnya.” Gina mendekati Reifan dan kembali membujuknya.
“Kau bisa mengurusku di rumah itu, El. Aku tidak ingin keluar dari rumah itu. Aku merasa nyaman tinggal di sana.” sahut Reifan kembali.